Senin, 17 Juni 2019
14 Shawwal 1440 H
Home / Sharia insight / Sejarah dan Manfaat Wakaf

Sejarah dan Manfaat Wakaf

Sabtu, 19 Januari 2019 06:01
Foto|Dok. Pribadi
Sebelum zaman Rasulullah SAW, harta wakaf hanya digunakan untuk tempat dan keperluan ibadah saja. Sementara setelah zaman Rasulullah SAW, peruntukan wakaf tidak hanya terbatas pada tempat ibadah namun juga menyangkut kepentingan umum.

Asep Nurhalim | Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

Wakaf memiliki peran yang sangat penting dalam peradaban Islam sejak dipraktikkan pertama kali di zaman Rasulullah Muhammad SAW. Pengembangan wakaf terus dilakukan dengan menyentuh beragam sektor di masyarakat, bahkan sempat berperan sebagai tulang punggung perekonomian.

Secara definisi, wakaf merupakan harta, baik berupa uang, tanah atau properti, yang dihentikan kepemilikan dan pemanfaatannya secara pribadi untuk dipergunakan bagi kepentingan umum. Kepemilikan harta benda wakaf akan seolah menjadi milik Allah SWT seperti dalam Quran Surah At-Taghabun:17.  

Sejatinya, kegiatan filantropi (endowment) sudah dikenal sebelum Rasulullah mendakwahkan Islam di tanah Arab. Peradaban kuno Mesopotamia, Persia, Romawi, juga bangsa Arab sebelum masuknya Islam telah lama mengetahui tentang adanya kegiatan filantropi ini.

Perbedaan praktik sebelum dan sesudah zaman Rasulullah SAW terletak pada fungsi dan pemanfaatannya. Sebelum zaman Rasulullah SAW, harta wakaf hanya digunakan untuk tempat dan keperluan ibadah saja. Sementara setelah zaman Rasulullah SAW, peruntukan wakaf tidak hanya terbatas pada tempat ibadah namun juga menyangkut kepentingan umum.

Meskipun perintah untuk berwakaf tidak secara eksplisit disebutkan dalam Al-Quran, konsep redistribusi kekayaan dalam Islam sangat ditekankan. Bahkan sumber hukum Islam yang lain, yaitu sunah, menguatkan konsep wakaf dalam Islam sebagaimana tertuang dalam hadits berikut:

" Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang berdoa kepadanya.” (HR. Muslim).

Wakaf mulai diperkenalkan oleh Rasulullah setelah hijrah ke Madinah. Terdapat dua pendapat yang berkembang di kalangan fuqaha tentang wakaf pertama dalam Islam. Sebagian pendapat ulama mengatakan bahwa wakaf pertama adalah tanah Rasulullah SAW yang digunakan untuk membangun Masjid Quba pada 622 Masehi atau 2 Hijriyah.

Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa wakaf Umar pada tahun 3 Hijriyah berupa tanah Khaibar merupakan wakaf pertama dalam Islam. Kesimpulan ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah, dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’adz, Ia berkata:

“Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Ansor mengatakan adalah wakaf Rasulullah SAW."

Munculnya syariat untuk berwakaf di zaman Rasulullah SAW juga dikaitkan dengan kisah Umar bin Khattab ra. Saat itu Umar ibn Khattab melakukan konsultasi kepada Rasulullah SAW setelah mendapatkan sebidang tanah sebagai hasil ghanimah di wilayah Khaibar. Peristiwa ini dicatat dalam Hadits Muslim yang diriwayatkan melalui jalur Ibnu Umar:

Dari Ibnu Umar ra, beliau berkata: “Sahabat Umar ra mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, kemudian Umar ra menghadap Rasulullah untuk meminta petunjuk. Umar ra berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Saya belum pernah mendapatkan tanah sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Rasulullah kemudian bersabda, “Bila engkau suka, kau tahan (pokok) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan, dan tidak diwariskan.

” Ibnu Umar kemudian berkata: “Umar ibn Khattab menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Serta tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf untuk memakan dari hasil yang dihasilkan dengan cara yang makruf, atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta. (HR Muslim)

Selain dua kisah tentang wakaf yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab ra, masih banyak kisah tentang praktik wakaf di zaman Rasulullah SAW yang dilakukan oleh para sahabat demi kepentingan umat.

Misalnya, Abu Bakar yang mewakafkan sebidang tanahnya di Mekkah untuk anak keturunannya yang datang ke Mekkah, Mu’adz bin Jabal yang mewakafkan rumahnya “Dar Al-Anshar”, dan sahabat-sahabat lainnya.

Sementara itu, menurut Prof. John L. Esposito, wakaf pada zaman permulaan Islam dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis, antara lain:

Pertama, wakaf keagamaan. Jenis ini dilakukan pertama kali oleh Rasulullah SAW dengan membangun Masjid Quba di Madinah, sebelum beliau membangun Masjid Nabawi enam bulan kemudian.

Pembangunan masjid tersebut bertujuan untuk memberikan keleluasaan dan aksesibilitas kepada kaum muslimin untuk beribadah, bermusyawarah, memberikan tempat tinggal kepada sebagian kaum muslimin, serta memberikan ruang untuk mendalami bidang keilmuan, terutama ilmu agama.

Dalam aspek ini, dampak dari wakaf tidak hanya dirasakan pada semakin leluasanya kaum muslimin untuk beribadah, melainkan juga untuk meningkatkan kapasitas intelektual masyarakat muslim.

Kedua, wakaf yang disalurkan berupa wakaf filantropis. Wakaf ini dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Wakaf jenis ini pertama kali dilakukan oleh Rasulullah SAW melalui pemberian hak pengelolaan atas tujuh bidang tanah yang hasilnya disalurkan untuk memenuhi kebutuhan fakir miskin di Madinah saat itu.

Praktik wakaf ini kemudian diikuti oleh para sahabat, sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Ibnu Umar dalam hadits riwayat Muslim di atas. Adanya metode wakaf ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan dana sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Ketiga, wakaf yang disalurkan dalam bentuk wakaf keluarga. Hal ini pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab, yaitu ketika Khalifah Umar memutuskan untuk membuat dokumen tertulis untuk mewakafkan tanah yang ia miliki di Khaibar.

Penyusunan naskah tertulis tersebut dilakukan dengan mengundang para sahabat sebagai saksi. Di dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa Khalifah Umar bersedia untuk menyedekahkan hasil tanah yang diwakafkan tersebut untuk kepentingan fakir miskin dan kerabat, untuk memerdekakan budak, untuk kepentingan di jalan Allah SWT, untuk memenuhi kebutuhan orang terlantar, serta untuk menjamu tamu.

Dari beberapa contoh wakaf yang telah dilakukan sejak zaman Rasulullah di atas, terlihat wakaf memiliki peran yang sangat strategis dalam Islam dan masih bertahan hingga kini. Wakaf berkembang menjadi kekuatan ekonomi dalam pembangunan umat Islam terdahulu hingga saat ini.

Masjid Quba dan Masjid Nabawi misalnya, yang didirikan di awal tahun Hijriyah tetap tegak berdiri dan beroperasi menjadi saksi wakaf yang masih bisa digunakan untuk kepentingan ibadah hingga sekarang. Munculnya banyak institusi pendidikan dari harta benda wakaf untuk pengembangan sumber daya insani seperti Al Azhar University di Kairo dan Pondok Pesantren Gontor di Indonesia telah memberi banyak bermanfaat bagi umat.

Selain itu, uraian di atas juga menunjukkan bahwa wakaf dalam Islam memang tidak terbatas hanya untuk tempat ibadah. Wakaf digunakan sebagai instrumen untuk melindungi orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi. Meskipun demikian, sejarah juga mencatat bahwa wakaf yang lebih awal dalam Islam justru untuk kepentingan ibadah.

Harta benda wakaf juga dapat bertahan hingga ratusan tahun, dan bahkan masih ada yang beroperasi sesuai fungsinya hari ini. Melalui pengambilan keputusan sekarang untuk berwakaf, seseorang dapat memilih apa saja yang bisa memberikan kebaikan untuk ribuan tahun ke depan dan bermanfaat meskipun seseorang itu telah tiada.

 

 

oleh: Asep Nurhalim