Kamis, 21 Maret 2019
15 Rajab 1440 H
x

Secangkir Kopi Zakat

Selasa, 5 Maret 2019 17:03
FOTO I Dok. Sharianews
Tercatat kawasan Afika dan Arab sebagai wilayah yang pertama kali membudidayakan kopi. Aktivitas meminum kopi telah menjadi gaya hidup mereka. Budaya minum kopi telah menjadi sebuah aktifitas rutin masyarakat.

Sharianews.com, Memasuki sebuah wilayah di ketinggian 1.300 mdpl butuh perjuangan tersendiri. Melangkah menuju sebuah dusun atau kampung di wilayah perbukitan.  Sebuah kampung dengan profesi utama penduduknya sebagai petani kopi. Sebuah wilayah yang terkenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik.

Semakin mendaki semakin segar udara terasa, sejuk dan dingin. Ingin rasanya terus menerus memenuhi rongga dada dengan udara yang kaya dengan oksigen. Rasa segar begitu kuat terasa. Perjalanan dalam suasana alami dan udara yang sejuk, membuat perjalanan terasa segar dan menyenangkan. Tak terasa waktu perjalanan telah mencapai  30 menit.

Udara segar beraroma wangi mulai terasa. Serasa harum bunga kopi, ya, masa ini sudah memasuki musim perbungaan. Pada umumnya bunga kopi mulai bermekaran di bulan Mei, Juni, dan Juli. Tak lama setelah merasakan harumnya bunga kopi, muncul aroma lain yang menyeruak. Aromanya lebih kuat, lebih sedap dari yang pertama yaitu berupa harum aroma coffe roasting atau kopi yang disanggrai. Harumnya terasa menyegarkan, memunculkan rasa rileks yang luar biasa. Tak sabar rasanya untuk segera icip-icip seruput secangkir kopi.

Aroma roasting kopi ini juga sebagai pertanda, semakin dekatnya perjalanan dengan lokasi pemukiman penduduk. Memasuki gerbang dusun terlihat sejumlah warga tengah sibuk me-roasting kopi. Tampak rumah-rumah berderet rapi. Secara kasat mata semua terlihat sama, tampak kusam seperti tak terawat. Kondisi fisik bangunan seakan menjadi pertanda bahwa kemiskinan masih mendominasi.

Rasanya ada yang tak beres, bukankah wilayah ini terkenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia. Di sejumlah coffee shop secangkir kopi bisa dibandrol dengan harga Rp50 ribu atau minimal seharga Rp20 ribu. Dengan menyandingkan harga secangkir kopi dengan jumlah biji kopi yang dihasilkan, selayaknya rumah-rumah di sini tampak bagus dengan kualitas bangunan terbaik.

Setelah bertemu dengan tetua dusun dan menggali informasi dari warga, maka dapat disimpulkan bahwa ada persoalan yang mesti dibenahi, masyarakat butuh pendampingan. Demikianlah kondisi umum yang sering ditemui di beberapa wilayah penghasil kopi.

Menarik untuk mencoba mengaduk sedikit demi sedikit kisi-kisi tentang kopi. Ada beragam hal menarik yang dapat diungkap. Pendamping masyarakat dapat melihat ini sebagai peluang untuk melakukan sejumlah pendampingan, pemberdayaan masyarakat berbasis dana zakat. Semestinya ada potensi yang dapat disarikan dari tata niaga kopi untuk kemaslahatan petani kopi (baca: umat). Harus ada peningkatan kesejahteraan bagi mereka.

Saat ini, aktifitas minum kopi telah menjadi pemandangan yang umum. Secangkir kopi sangat mudah ditemui di setiap tempat dan waktu. Meminum kopi telah menjadi kegiatan lintas batas, tak ada sekatan usia, gender, status sosial, dan hal lain. Sebelum menyaring lebih jernih tentang perkopian, ada baiknya kita melihat sedikit sejarah tentang kopi.

Tercatat kawasan Afika dan Arab sebagai wilayah yang pertama kali membudidayakan kopi. Aktivitas meminum kopi telah menjadi gaya hidup mereka. Budaya minum kopi telah menjadi sebuah aktifitas rutin masyarakat.

Afrika dan Arab menjadi pemain utama dalam aktivitas perkopian, dari mulai perkebunan, perdagangan, hingga teknik penyajian kopi. Kondisi tersebut menjadi sebuah tantangan bagi kawasan lain untuk merebut dominasi Afrika dan Arab dalam hal perkopian.

Eropa dalam hal ini bangsa Belanda, mencoba keberuntungan dengan membudidayakan tanaman kopi secara masal di luar Afrika dan Arab. Pulau Jawa dipilih menjadi wilayah eksperimen pertama. Puncak kesuksesan dimulai sejak tahun 1696, pulau Jawa berhasil menjadi sentra utama penghasil kopi di luar Arab dan Afrika.

Kualitas kopi Jawa tak kalah dengan kopi dari Afrika dan Arab. Kopi menjadi komoditas andalan selama ratusan tahun bagi VOC, Belanda. Komoditas kopi menjadi penyumbang terbesar kongsi dagang VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda).

Budaya minum kopi telah berlangsung ratusan tahun dan ada disetiap sudut negara. Kata qahwa atau qahwain (bahasa Arab) terserap menjadi kahven (Turki), diserap dalam bahasa Inggris menjadi coffee dan Kopi dalam bahasa Indonesia. Dari serapan kata tersebut tersirat bahwa kopi adalah sebuah produk yang mendunia. Keberadaan kopi menjadi sebuah suatu hal yang patut untuk diperhatikan.

Semangka, semangat kakak. Sebuah ungkapan yang kerap terdengar di keseharian kita. Sebuah ungkapan yang mengekspresikan rasa ingin selalu dalam suasana hati yang menyenangkan. Beragam cara ditempuh untuk mencapai suasana hati. Minum secangkir kopi dipandang menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan suasana tersebut. Sebuah peluang yang menjanjikan, sebuah peluang bagi pendamping pemberdayaan untuk lebih serius membantu dan mendampingi petani kopi.

Sebagaimana yang diberitakan oleh www.gatra.com,  tanggal 04 Januari 2019 Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meresmikan Wisata Kopi Tondok Lemo di Toraja, Sulawesi Selatan. Di kawasan Muslim ini, wisatawan dapat menikmati kopi hasil karya para petani binaan Baznas, sambil berkemah dan menikmati udara sejuk pegunungan.

Acara peresmian diselenggarakan di Desa Bo’ne Buntu Sisong, Kecamatan Makale Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sabtu (29/12) dihadiri oleh Direktur Pendistribusian dan pendayagunaan Baznas, Mohd. Nasir Tajang dan pimpinan masyarakat adat setempat.

Nasir Tajang mengatakan, Baznas mengembangkan usaha ekonomi kreatif produk olahan kopi Tondok Lemo melalui program pemberdayaan Zakat Community Development (ZCD), sebagai upaya peningkatan kesejahteraan mustahik, yang juga dapat mendukung program pemerintah dalam usaha pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Ia menjelaskan, Desa Bo’ne Buntu Sisong, merupakan daerah yang memiliki potensi pertanian yang besar, salah satu komoditas perkebunan unggulannya adalah pertanian kopi khas Toraja. Namun, pertanian yang dikelola masyarakat belum tertata dengan baik sehingga belum memberikan hasil maksimal. Para petani juga terpaksa menjual biji kopi ke tengkulak dengan harga yang sangat murah untuk sekadar bertahan hidup.

"Melalui program ZCD ini, Baznas melakukan pemberdayaan kepada para petani mustahik dengan melakukan pendampingan berupa pelatihan, motivasi, advokasi perizinan usaha dan rumah produksi, serta membantu para mustahik memasarkan produk kopi khas Toraja hasil olahannya yakni Kopi Tondok Lemo," kata Nasir.

Salinan berita tersebut menjadi sebuah potret tersendiri dalam pemberdayaan umat berbasis dana zakat. Bahwa zakat dapat dimafaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Zakat dapat merubah pola fikir dan gaya hidup. Masyarakat (petani) dapat hidup lebih baik.

Dengan penataan yang baik mulai dari pemilihan benih, penanganan hama, pemupukan dan penanganan panen, dapat dipastikan pendapatan petani akan naik. Bahkan tak hanya kopi saja, ada sisi lain yang dapat dikembangkan, misalnya dibuatkan paket wisata. Dengan paket wisata tersebut ada pendapatan tambahan di luar hasil penjualan biji kopi.

Dalam paket wisata tersebut dapat saja di kenalkan ragam produk sajian kopi seperti, single espresso, double espresso, ristretto, espresso mocciato, picocolo latte, caffe cortado, espresso con panna, caffe latte, flat white, mocha breve, caffe affogato, cappuccino, americano, kopi tubruk, dan sederet istilah lainnya yang menjadi menu andalan di sejumlah coffee shop.

Bisa jadi di antara sajian tersebut ada secangkir kopi binaan Baznas yang telah menjadi pilihan favorit pembaca. (*)

 

Oleh: Taris