Senin, 18 Februari 2019
13 Jumada al-akhirah 1440 H
Foto| Dok. BNI
Agama bagi orang Indonesia “sangat penting”, dan prinsip ini memengaruhi pola konsumsi mereka. Ada 93 persen dari 1.880 Muslim yang disurvei di Indonesia pada 2012 menganggap agama sangat penting dalam kehidupan mereka.

Sharianews.com, Jakarta ~ Indonesia diperkirakan mempunyai penduduk muslim sebanyak 219 juta jiwa pada 2017, menjadikannya negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Indonesia Halal Lifestyle Centre (IHLC), sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam isu ekonomi Islam menggambarkan jumlah populasi muslim di Indonesia sebagai 12,2 persen dari populasi Muslim global  dan 82,9 persen dari populasi domestik Indonesia pada 2017.

Dengan jumlah itu, Indonesia membentuk konsumen dengan kekuatan beli yang cukup besar. Pendapatan gabungan dari 54,8 juta rumah tangga Indonesia diperkirakan sebesar 318 miliar dolar pada 2017.

Dengan jumlah itu, Indonesia mewakili pasar terbesar muslim dari seluruh sektor dengan membelanjakan 218,8 miliar dolar atau 10 dari pengeluaran ekonomi halal secara global.  

Riset dokumen Indonesia’s Domestic Halal Economic Opprotunity, disebutkan bahwa pada pasar Indonesia ada akses mudah ke basis konsumen yang besar memberi perusahaan domestik keunggulan alamiah dibandingkan importir. Peluang untuk mencapai skala besar juga lebih banyak, sebelum merambah ke perdagangan internasional.

Bisnis Makanan Minuman jadi Sektor Terbesar

Bagi orang Indonesia agama “sangat penting”, dan prinsip ini memengaruhi pola konsumsi mereka. Dalam sebuah penelitian, ada 93 persen dari 1.880 Muslim yang disurvei di Indonesia pada 2012 menganggap agama sangat penting dalam kehidupan mereka demikian juga Malaysia.

Nilai-nilai kuat ini telah menentukan persyaratan ketat untuk sertifikasi halal yang dilakukan oleh produsen dalam negeri, serta perusahaan importir, wajib mengikuti.

Dengan demikian, Indonesia memiliki semua syarat ekosistem yang baik untuk bisnis halal. Bisnis halal dapat diartikan sebagai usaha yang pengembangannya berdasarkan hukum Islam, mulai dari produk makanan, obat-obatan, fesyen, kosmetik, wisata, dan keuangan.

Muslim Indonesia menghabiskan 218,8 miliar dolar di seluruh sektor inti dari ekonomi halal pada 2017, naik 9,6 persen dari 2010, dan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,3 persen untuk mencapai 330,5 miliar dolar pada tahun 2025.

Peluang terbesar adalah makanan dan minuman dengan pengeluaran sebesar 170,2 miliar dolar pada 2017 dan diikuti oleh 20 miliar dolar untuk pakaian dan alas kaki.

Dalam Indonesia’s Domestic Halal Economic Opprotunity disebutkan bahwa Indonesia mewakili pasar terbesar di dunia untuk pengeluaran Muslim untuk makanan dan minuman.

Indoensia menjadi salah satu dari sedikut negara dengan pengeluaran tahunan melebihi 100 miliar dolar  bersama dengan Turki dan Pakistan.

“Ukuran pasar domestik yang besar ini dibuktikan dengan Indofood yang menghasilkan jutaan dolar dari bisnis ini,” ujar laporan tersebut.

Sedangkan industri  makanan dan minuman bersertifikat halal di Indonesia diperkirakan mencapai 76,4 miliar dolar pada 2015. Ini sudah mencapai 18,4% dari industri makanan dan minuman bersertifikat halal secara global.

Industri berkembang hingga angka 93,3 miliar dolar pada 2017, tumbuh pada 10,5 persen.

Indonesia merupakan pasar konsumen Muslim terbesar ketiga untuk pengeluaran pakaian jadi setelah Turki dan AS.

Kisah-kisah sukses lokal, seperti merek modest fashion sepertu Hijup, menarik perusahaan-perusahaan yang secara efektif menargetkan kebutuhan kesopanan berbasis nilai yang kuat dari konsumen Muslim.

Industri modest di Indonesia diperkirakan mencapai  5,1 miliar dolar pada 2015 dan tumbuh sebesar 7,5 persen mencapai 6,3 miliar dolar pada 2017.

dengan penetrasi total belanja pakaian pada 31% dari total belanja, jauh lebih tinggi dari penetrasi global Muslim menghabiskan ~ 20%.

Pada berbagai kesempatan Chairman IHLC Sapta Nirwandar mengatakan peluang-peluang tersebut di Indonesia baru sebatas pasar dan belum menjadi pelaku.

Padahal, Indonesia sebenarnya sangat mampu untuk memproduksi produk-produk halal yang dapat dikonsumsi di dalam negeri maupun diekspor.

"Industri halal global malah dirajai oleh sejumlah negara yang bukan negara dengan persentase penduduk muslim yang besar. Industri makanan halal global, misalnya, dirajai oleh Thailand yang hanya memiliki persentase penduduk muslim lima persen," kata Sapta dalam keterangan tertulis.

Dukungan Pemerintah

IHLC mengharapkan dukungan penuh pemerintah dalam hal mengembangkan industri halal di Indonesia.

Hal itu penting agar industri ini makin berkembang secara terarah dan konsisten serta IHLC juga tengah membuat semacam peta jalan industri halal. Peta jalan sangat diperlukan sebagai wujud keseriusan untuk mewujudkan Indonesia sebagai pemain pasar halal dunia.

Menurut Sapta, peta jalan industri halal diharapkan membuat tujuan dan rencana perkembangan industri halal di Indonesia semakin lebih terarah. Pemerintah harus melakukan langkah cepat dalam membuat peta jalan industri halal.

Sektor lain cukup prospektif adalah keuangan Islam. Industri keuangan Islam Indonesia adalah yang terbesar ketujuh di dunia, dengan 68 miliar dolar aset pada akhir 2017. Bandingkan dengan Iran yang memegang 545 miliar dolar dan Saudi Saudi, memegang aset senilai 473 miliar dolar.

Sektor lain adalah pendidikan. Masyarakat di negara ini menghabiskan dana sebesar 27,7 miliar dolar. Umat muslim mengeluarkan dana sebesar 22,2 miliar dolar untuk pendidikan dan diperkirakan akan tumbuh hingga 33,2 miliar dolar pada 2022.

Sektor lain adalah kesehatan yang menghabiskan 30,2 miliar dolar pada tahun 2017, dengan Muslim mewakili 24,2 miliar dolar. Pengeluaran muslim di Indonesia pada sektor ini diproyeksikan tumbuh sebesar 9,3 persen mencapai 37,7 miliar dolar pada 2022.

Muslim membutuhkan perawatan kesehatan dengan standar tertentu seperti obat-obatan halal, serta penyesuaian khusus untuk muslim pada pasien untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka, termasuk ruang salat, makanan halal, dan pemisahan gender.

 

nazarudin