Minggu, 19 Januari 2020
24 Jumada al-ula 1441 H
Home / Sharia insight / Scarcity atau Keserakahan?

Scarcity atau Keserakahan?

Selasa, 7 Januari 2020 11:01
FOTO I Dok. sharianews
Dalam menentukan pilihan tersebut kita cenderung jatuh pada sikap selfishness yaitu mementingkan kepentingan diri sendiri.

Sharianews.com, Jika kita belajar ilmu ekonomi, ada satu konsep yang kenalkan yaitu konsep kelangkaan (scarsity). Apa yang menarik dari konsep ini? Menarik, karena kita diajarkan bahwa yang namanya keinginan manusia tak pernah terbatas, sementara segala sesuatu terbatas.

Oleh karena itu, kita disuruh untuk memilih. Masalahnya adalah, dalam menentukan pilihan tersebut kita cenderung jatuh pada sikap selfishness yaitu mementingkan kepentingan diri sendiri. Sebenarnya, memikirkan kepentingan diri dan keluarga tidaklah salah. Bukankah Al-Qur’an sendiri mengatakan, “…dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (Al-Qashash: 77).

Tetapi, yang jadi persoalan itu adalah ketika upaya untuk memikirkan kepentingan diri dan keluarga diikuti dengan tindakan merusak, mengambil, memakan harta orang lain. Curang, menipu, mencuri, korupsi, dan semua turunan-turunan kejahatan lainnya. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus kita luruskan dan pahami bersama mengenai konsep ‘kelangkaan’ di atas:

Keinginan manusia tak terbatas

Sungguh yang namanya keinginan kita tak pernah berhenti. Berjalan kaki, ingin punya sepeda. Punya sepeda, ingin punya motor. Punya motor, ingin punya mobil dan seterusnya dan seterusnya. Nabi Saw bersabda:

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048)

Sumber daya itu terbatas dan kita harus saling berebut untuk yang terbatas itu

Jika betul bahwa sesuatu itu terbatas, berarti Allah Swt tidak mempunyai sifat sempurna karena membiarkan sebagian makhluknya menikmati sementara sebagian yang lain kekurangan. firman Allah Swt:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)”.  (Hud: 6).

Ayat di atas memberi kejelasan bahwa setiap makluk hidup yang diciptakan oleh Allah Swt telah dijamin rezekinya. Kemudian dikuatkan lagi dengan Firman-Nya yang lain:

“Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”. (Al Furqan:2)

Lalu, mengapa hari ini ada perbedaan antara kaya dan miskin? Perbedaan itu adalah sunnatullah. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (QS. An Nahl: 71)

Tetapi mengapa perbedaan itu terlalu besar? Data-data yang ada menunjukkan hal tersebut. Dalam Global Wealth Report 2018 yang dirilis Credit Suisse menunjukkan bahwa satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46,6 persen total kekayaan penduduk dewasa di tanah air. Sementara 10 persen orang terkaya menguasai 75.3 persen total kekayaan penduduk dunia. Kata Mahatma Gandhi, "Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang, tapi tak akan pernah cukup untuk satu orang yang serakah".  Maka lihatlah, bagaimana Islam datang dan memerintahkan untuk melakukan distribusi harta itu melalui perintah zakat, infak, sedekah, wakaf, dan lain sebagainya. Allah Swt berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” (At -Taubah: 103)

Kebutuhan itu bukan hanya yang bersifat materi.

Ada yang menganggap bahwa dengan harta melimpah manusia bisa bahagia. Tapi kenyatannya banyak orang kaya yang hidup tidak bahagia. Bahkan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Ada lagi yang menyangka dengan ketenaran dirinya akan bahagia, seperti para artis dan orang-orang terkenal. Kenyataannya juga tidak sedikit diantara mereka yang terpaksa menggunakan narkoba untuk menenangkan jiwa. Juga banyak yang berusaha mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ada lagi yang mengira bahwa dengan pangkat tinggi manusia akan memperoleh kebahagiaan

Dimana bahagia itu berada? Apakah Al-Qur’an memberi petunjuk? Ya, Al-Qur’an pernah menyebut secara langsung kata ‘bahagia’ dan itu hanya sekali saja yaitu firman Allah Swt:

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya…” (Al-Ahzab: 108)

Sungguh kebahagiaan itu kadang datang hanya dengan perasaan qana’ah (merasa cukup). Bila ketamakan menguasai perasaan, ia akan menghancurkan dan merusaknya. Mempunyai rasa ingin itu sesuatu yang dibenarkan. Akan tetapi rakus dan tamak itu sifat yang mencelakakan. Jadi yang dituntut sebenarnya rasa qana’ah tanpa disertai kelemahan dan kemalasan, di samping rasa ingin yang tidak disertai rakus dan tamak”.

Oleh itu, ada tiga hal prinsip yang dapat dijadikan sebagai kesimpulan dari tulisan pendek ini:

Bekerjalah menjemput rezeki dengan kesungguhan.

Rezeki tak usah dicari, karena ia sudah ada dan sudah dibagi-bagi dengan kemahakuasaan Allah Swt. Nabi Saw bersabda:

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dan Syaikh Al-Albani menshahihkannya).

Bersyukurlah dan ridhalah terhadap pemberian Allah.

Sudah terlalu banyak nikmat yang Allah berikan. Dihidupkan lagi di pagi hari setelah malamnya tertidur, diberikan kesehatan setelah sebelumnya sakit, telinga masih mendengar, mata masih melihat, hidung masih mencium, kaki masih melangkah, akal masih mengingat dan berfikir, paru-paru masih bernapas, udara masih bersih, matahari masih terbit, dan nikmat-nikmat lain yang tak bisa disebutkan semuanya. Allah Swt berfirman:

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (Ibrahim: 34)

Jangan terlalu sering melihat ke langit, tapi cobalah untuk runduk ke Bumi. Dialah Allah yang paling mengerti apa yang kita perlukan. Jangan terlalu banyak menuntuk, rezeki telah dibagi. Tugas kita masih sangat banyak, menyelesaikan hidup dengan benar. Tak perlu merampas yang bukan bagian kita, ikhlas saja. Belajarlah tersenyum, meski hati menjerit. Allah Mahabijaksana, Dia-lah yang menentukan. Jangan berhenti, teruslah melangkah mumpung masih punya waktu sampai nanti kita menghadap telah cukup bekal. Bila kita pasrah tumbuh rasa damai, dalam damai kita bertemu bahagia.

Ciptakan keberkahan dunia akhirat.

Sholat itu ibadah, bekerja mencari rezeki yang halal juga adalah ibadah. Ibadah dengan ibadah tidak pernah berbenturan dan tidak pernah berlawanan. Jangan sampai kita bekerja dengan penuh semangat, tapi kita nafikan ibadah yang lain. Bekerja membuat lupa sholat. Mendapatkan rezeki melalui jalan riba. Memperoleh keuntungan tetapi merusak alam. Kaya tapi menzalimi orang lain. Rezeki telah dapat dengan cara halal, tidak mengambil hak orang lain, namun sayang dipakai pada hal-hal yang dilarang dan dimurkai-Nya. Tercabutlah keberkahan itu dari diri, dari rumah tangga, dari lingkungan, dari negeri. Musibah datang bertubi tak henti. Allah SWT berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96). (*)

Editor: Achi Hartoyo

Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA