Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Sapta Nirwandar: Sikap 'Take for Granted' Buat Industri Halal Indonesia Lesu
Sikap seolah-olah semua sudah halal, sudah berjalan normal, produk halal juga sudah tidak jadi masalah, bisa membuat pertumbuhan indsutri halal di Indonesia lesu.

Sharianews.com, Jakarta. Sikap masyarakat Indonesia yang 'take for granted' ternyata bisa menjadi masalah bagi Indonesia di kancah industri halal global. Hal ini pula yang menyebabkan mengapa Indonesia tertinggal dalam pengembagan industri halal dengan bangsa lain.

Hal itu disampaikan Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center  (IHLC), Sapta Nirwandar. Sapta menjelaskan, sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, Indonesia seolah-olah menerima begitu saja; semuanya sudah aman, sudah berjalan normal, literasi halal tidak ada masalah, produk halal juga sudah tidak jadi masalah.

Namun, menurutnya, justru karena memiliki sikap tersebut, yang antara lain terefleksikan melalui  dunia bisnis, masyarakat Indonesia justru tidak merasa terpanggil untuk bersama menciptakan ekosistem halal. Tidak terpanggil untuk mengembangkan industri halal, lantaran isu seputar masalah gaya hidup halal dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Padahal, pada saat yang bersamaan negara lain sedang mengembangkana industri berbasis halal, dan melihat Indonesia sebagai tujuan pasarnya. Nah, inilah yang  menurut Sapta membuat Indonesia kini tertinggal dalam pengembangan produk-produk halal. Tanpa disadari, Indonesia justru menjadi pengimpor produk-produk halal dari negara lain.

“Sangat disayangkan. Oleh karena itu, beberapa tahun ini kami mencoba mengamati, kenapa kok kita (Indonesia) diserang terus oleh kompetitor kita. Korea Selatan banyak datang ke kita, menjual produk-produknya ke kita,”ungkap Sapta, di Jakarta (3/10/2018).

Sapta kemudian menyampaikan, bahwa saat ini dunia telah memasuki zaman industri 4.0, dimana  produk-produk di seluruh dunia tidak hanya datang dalam berbentuk fisikalnya saja, tetapi juga bisa melalui perdagangan elektronik atau  e-commerce. “Bayangkan Alibaba, Aladin , menjual produk-produk halal juga, ujarnya.

Menurutnya, hal ini patut diwaspadai. Sehinga sebagai bangsa, Indonesia perlu mempersiapkan diri. Untuk itu, tentu harus dibuat juga ekosistem, melalui pengembangan ide dan gagasan, kebijakan, serta strategi yang lebih teknis, yakni roadmap atau masterplan-nya.

Saat ini jelas Sapta, pihaknya bekerja sama dengan Dinarstandard, tengah melakukan penelitian terkait industri halal, gaya hidup halal,  sebagai bagian dari upaya penyediaan data-data berdasarkan best practice-nya untuk mendukung penyiapkan roadmap pengembangan industri dan ekonomi halal di Indonesia.

Pemahaman literasi halal lifestye

Sapta Nirwandar, mengatakan  hal lain yang perlu dilakukan untuk membangun eksosistem halal lifestyle adalah dengan meningkatkan pemahaman literasi masyarakat terhadap gaya hidup halal.

Itu mengapa, pihaknya bekerja sama dengan Dinarstandard untuk menyiapkan data-data penelitian yang valid sebagai basis untuk pengembangan literasi syariah. “Mudah-mudahan ini bisa menyatukan, menjadi guide, menjadi informasi. Karena awareness literasi ini sangat penting. Kalau mereka tidak tahu bagaimana ingin memulai,”ucapnya.

Pemahaman literasi terhadap gaya hidup halal, menurutnya akan berpengaruh terhadap iklusi pengembangan industrinya. Ia kemudian mencontohkan, adanya tanda-tanda perkembangan pemahaman literasi halal, yang mulai hidup dalam praaktik industri mikro maupun menengah di tengah masyarakat.

Sapta kemudian menyebut, produk kopi saat ini sudah ada label halalnya. Ada juga salah satu perusahaan ikan, yang menjual daganannya dan mengkomunikasikan bahwa produknya telah menggunakan minyak yang berlabel halal.

“Jadi awareness tentang gaya hidup halal sudah mulai meningkat. Mudah-mudahan nanti trasnsformasinya sudah dalam bentuk industri, apakah itu small, medium industri atau  big industry seperti halnya produk kosmetik dan kecantikan dengan label Wardah yang sudah mendunia,”kata Sapta.

Sapta kemudian, menyarankan agar pasar dan industri halal di Indonesia bisa mendunia, tidak ada salahnya jika para produsen dan kalangan industri di Indonesia berkolaborasi dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI). (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil