Jumat, 22 Maret 2019
16 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. nettik
Sebagian praktisi ruqyah beranggapan penyakit fisik tidak memerlukan pengobatan medis, hanya membutuhkan ruqyah.

Sharianews.com, Jakarta ~  Kesehatan adalah harta yang tidak ternilai. Bagi siapapun, nilai kesehatan tidak bisa ditukar dengan uang atau harta. Sayangnya, banyak orang yang mengabaikan kesehatan tubuh, termasuk cara menjaganya ketika sedang sakit.

Salah satu metode penyembuhan penyakit yang sedang menjadi tren belakangan ini adalah ruqyah. Kesalahpahaman sebagian praktisi ruqyah adalah seringkali menganggap semua penyakit yang diderita pasien disebabkan oleh gangguan jin.

Sebagian praktisi ruqyah beranggapan penyakit fisik tidak memerlukan pengobatan medis, hanya membutuhkan ruqyah.

Menanggapi fenomena kekeliruan tersebut, Ustaz Ahmad Sururi, pendiri rumah santri An Nahl di Bandung memberikan himbauan bagi praktisi ruqyah, agar mereka lebih bijak dalam menangani pasien. Karena, tidak semua penyakit disebabkan oleh gangguan jin.

“Syariat adalah percaya sama Allah dan ajarannya bukan berarti harus ninggalin yang zahirnya, orang sakit cuma di-ruqyah tanpa medis, itu mah sama aja kayak aliran yang ngajarin salat tapi nggak perlu tunggang-tungging, cukup ingat sama Allah, udah dianggap salat,” ungkap Ahmad, Minggu (10/02).

Berdasarkan pengalamannya, ia pernah menangani kasus salah satu muridnya yang dianggap terkena gangguan sihir dan jin. Selama satu bulan dirawat dengan proses ruqyah, ternyata kondisinya semakin memburuk. Akhirnya, ia diputuskan untuk ditangani secara medis.

Hasil pemeriksaan medis menyebutkan, bahwa muridnya mengalami komplikasi dan terdapat cairan di bagian paru-paru hampir setengah liter.

“Jadi pelajaran juga untuk para pelaku ruqyah, bukan nggak percaya sama gaib tetapi tetap harus menjalankan syariatnya juga,” lanjut pemilik rumah santri An-Nahl ini.

Melansir dari muslim.or.id, disebutkan bahwasanya antara syariat dan hakikat harus seimbang. Syariat adalah sebuah jalan yang disediakan Allah untuk menuju pintu-pintu rahmat Tuhan. Artinya, manusia harus mau menempuh perjalanan dan bersungguh-sungguh di dalamnya serta mau berproses.

Bisa diartikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu berkaitan dengan hal tersebut. Implementasi syariat adalah aktivitas manusia mulai dari belajar, bekerja, makan, berobat dan beragam aktivitas lainnya.

Sedangkan hakikat adalah pintu Allah yang  dibukakan bagi manusia yang ingin berproses dalam perjalanannya. Boleh dibilang, ketika belajar adalah syariat, maka pintar adalah hakikat.

Termasuk dalam menangani orang yang sakit, di mana syariat juga harus tetap dijalankan sebagai usaha mencari petunjuk dan jalan keluar dari Allah. (*)

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo