Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. soundvision.com
Ahmad Sururi, Pendiri Rumah Santri An-Nahl mengatakan, hal ini dalam rangka mewujudkan pendidikan pondok pesantren untuk anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian khusus dari orang tuanya.

Sharianews.com, Bandung ~ Usia anak merupakan masa  di mana kasih sayang keluarga sangat dibutuhkan, khususnya di usia 1-3 tahun. Jurnal London Journal of Primary Care yang terbit tahun 2016 dengan tema "The importance of early bonding on the long-term mental health and resilience of children" mengungkap fakta bahwa ikatan orang tua dengan anak menjadi faktor penting bagi kesehatan mental (jiwa) dan ketahanan anak jangka panjang serta penentu kesuksesan anak.

Namun, yang terjadi saat ini adalah kesalahpahaman orang tua yang menganggap bahwa finansial yang menjadi faktor penting dalam penentu kesuksesan dan kebahagiaan anak. Sehingga tidak sedikit orang tua yang sibuk bekerja daripada berkumpul bersama keluarga.

Menyikapi hal tersebut, Rumah Santri An-Nahl, salah satu pesantren yang berlokasi di Lembang, Bandung, membentuk program dengan memberikan sentuhan kasih sayang keluarga sesungguhnya, yang barangkali belum mereka dapatkan dalam keluarga intinya sendiri.

Ahmad Sururi, Pendiri Rumah Santri An-Nahl mengatakan, hal ini dalam rangka mewujudkan pendidikan pondok pesantren untuk anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian khusus dari orang tuanya.

"Ya, meskipun mereka murid pesantren, tetapi mereka masih mendapatkan kasih sayang keluarga yang utuh. Di sini ada orang tuanya, ada ayah dan ibunya. Jadi walaupun mereka pesantren tetap merasakan sentuhan kasih sayang tersebut" tutur dari pendiri Rumah Santri An-Nahl tersebut.

Dengan jumlah santri yang sengaja hanya menerima sekitar dua puluhan ini, dimaksudkan agar sistem pendidikan lebih terfokus dan tepat sasaran. Ditambah dengan program-program yang menyenangkan . Pasalnya anak-anak tetap belajar dan menghafal Al-Qur'an sambil bermain, berpetualang (hiking, camping, climbing) dan wisata atau eksplor lainnya sebagaimana keluarga. Sehingga terkadang mereka tidak menyadari kalau sedang menjalani proses belajar di sana .

Teknis belajar sekolah alam, petualangan dan kekeluargaan ini ternyata memberikan dampak positif dan mampu mengubah perilaku anak. Terbukti dari pernyataan orangtua murid yang mengaku anaknya nakal dan susah belajar, tetapi setelah melalui pembelajaran di An-Nahl, para orang tua mengaku adanya perubahan drastis . Mulai dari semangat belajar yang tinggi, rajin membantu pekerjaan orangtua di rumah, tidak nakal, lebih sopan dan percaya diri dan bertambah hafalan Al-Qur'an serta pandai berbahasa Arab.

Hal tersebut tidak terlepas karena pengaruh kasih sayang sebuah keluarga, di mana anak merasa dihargai dan merasa memiliki manfaat dari keberadaannya. Terlebih yang mereka temui ketika berpisah dengan keluarga di rumah untuk pesantren , bukanlah pertemuan antara guru dan murid, melainkan anak dan orangtua.

"Ketika mereka berpisah dengan keluarganya, maka di An-Nahl mereka akan menemukan keluarga baru," ujar Sururi. (*)

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo