Minggu, 20 Oktober 2019
21 Ṣafar 1441 H
Home / Haji umrah / Rincian BPIH, untuk Apa Saja?

Rincian BPIH, untuk Apa Saja?

Senin, 18 Februari 2019 00:02
FOTO I dok. Though.co
Rata-rata per jemaah sebesar Rp35.235.602,00 akan digunakan untuk membayar dua komponen.

Sharianews.com, Jakarta ~ Panitia Kerja Komisi VIII DPR RI tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) Tahun 1440H/2019M dengan Panitia Kerja BPIH Kementerian Agama RI telah rampung membahas BPIH.

Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) lalu telah disimpulkan besaran BPIH yang harus dibayar Jemaah haji sebesar Rp35.235.602,00, yang berarti tidak mengalami kenaikan dari BPIH tahun sebelumnya.

Lalu, jika biaya tersebut diuraikan, akan didapat beberapa kejelasan terkait kesimpulan pembahasan BPIH yang dihasilkan oleh Panja DPR RI dan Kementerian Agama waktu itu.

Dilansir dari laman Kemenag, Panja DPR dan Kemenag menyepakati asumsi nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar Amerika (USD) dan Saudi Arabian Riyal (SAR) yang digunakan sebagai dasar perhitungan BPIH 1 dolar AS = Rp14.200,00 dan 1SAR = Rp3,786.67.

Harus diketahui bahwa BPIH terdiri dari dua komponen yaitu direct cost (biaya yang dibayar langsung oleh jemaah haji) dan indirect cost (biaya yang bersumber dari dana optimalisasi setoran BPIH).

Selain itu Panja DPR dan Kemenag juga menetapkan bahwa direct cost pada BPIH tahun 1440H/2019M rata-rata per jemaah sebesar Rp35.235.602,00 akan digunakan untuk membayar dua komponen.

Pertama untuk biaya tiket pesawat dari embarkasi ke Arab Saudi (pergi pulang) dan kedua untuk living cost (akan dikembalikan lagi kepada jemaah jelang keberangkatan).

Dalam kesimpulan rapat tersebut dijelaskan pula bahwa sesunggunya biaya tiket pesawat per jemaah haji sebesar Rp30.079.285,00. BPIH yang dibayarkan Jemaah haji digunakan membayar tiket sebesar Rp29.555.597,00 dan sisanya sebesar Rp523.688,00 dibebankan pada dana optimalisasi (indirect cost).

Living cost ditetapkan sebesar SAR1,500 atau ekuivalen sebesar Rp5.680.005,00 yang akan diserahkan kembali kepada jemaah haji (dan TPHD) dengan mata uang SAR.

Bila BPIH yang dibayarkan oleh jemaah haji hanya digunakan untuk membiayai dua tiket dan living cost, berarti komponen lainnya dibiayai oleh dana optimalisasi. Maka layanan seperti pembinaan ibadah haji, layanan asrama haji, general service fee (GSF) di Arab Saudi, asuransi haji, transportasi darat di Arab Saudi, seluruh akomodasi di Makkah dan Madinah, layanan katering (konsumsi), dan layanan Arafah-Muzdalifah-Mina seluruhnya dibiayai menggunakan dana optimalisasi setoran BPIH yang telah dikelola pemerintah.

Sebagai tambahan informasi bahwa tiket pesawat jemaah haji memang lebih mahal dari pada harga tiket pesawat reguler. Hal itu disebabkan karena pesawat yang digunakan untuk angkutan jemaah haji merupakan pesawat carter (bukan regular) untuk memastikan seluruh jemaah haji tiba di Arab Saudi sebelum closing date beberapa hari menjelang wukuf. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo