Minggu, 26 Mei 2019
22 Ramadan 1440 H
Home / Q&A / Resign Tanda Tak Mampu?

Resign Tanda Tak Mampu?

Selasa, 16 Oktober 2018 06:10
FOTO : Dok. www.localsolicitors.com
Adakalanya alasan resign baik, namun adakalanya juga buruk. Bagaimana etika resign yang baik? Benarkah resign tanda tak mampu?

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Ada Ustadz dan komunitas yang kampanye ngajak resign dari Bank Syariah. Dan sudah banyak yang kemakan omongannya. Bagaimana menurut pendapat Ustadz?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatuh.

Chandra, tinggal di Jogjakarta.

Jawaban:

Sdr. Chandra yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi keuangan di Lembaga Keuangan Syariah saja. Amin.

Resign itu hak.Lakukan baik-baik jika ingin resign.Tuntaskan dulu kewajiban.Tinggalkan yang baik-baik.Sembunyikan yang buruk.Tutupi aib kamu sendiri, wahai orang resign.

Adakalanya alasan resign adalah hal baik, adakalanya alasan resign adalah hal buruk. Hanya saja yang harus diperhatikan adalah ketika orang sudah ngajak orang lain resign atau kampanye resign. Sikap buruk ini menunjukkan rendahnya tingkat kepahaman orang tersebut terhadap Hadits.

Rasulullah SAW bersabda:

من راى منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك اضعف الايمان

Sesiapa (siapapun orangnya) yang (orang itu) telah melihat kemungkaran (yang beneran kemungkaran), maka (tugas orang itu lah) untuk mengubah dengan yad (power, tangan, aksi nyata, kekuasaan, positif, konstruktif, legal formal). Jika tidak mampu (mengubah dengan tangan), maka ubahlah dengan lisan (misalnya mengingatkan langsung, audiensi resmi, tulisan ilmiah, dan sejenisnya). Jika tidak mampu (mengubah pake lisan), maka ubahlah dengan hati (dengan mengingkari, diam, doakan) dan itu (masih masuk kategori) selemah iman.

Apa kaitan Hadits tersebut dengan resign? Ya, resign itu alasannya kan bisa baik, bisa buruk. Kalau sampai kampanye ngajak resign dari Bank Syariah, berarti orang itu menganggap ada yang buruk dengan Bank Syariah.

Menurut Hadits di atas, maka seharusnya tugas orang tersebut adalah menjadi orang yang terlibat langsung di ranah Bank Syariah, misalnya dengan menjadi praktisi atau konsultan atau posisi lain yang strategis.

Jika tidak mampu jadi bankir syariah atau regulator atau pihak yang signifikan bisa jadi pengambil keputusan, atau jadi pihak yang aktif nyata terkait bank syariah, maka ubahlah dengan lisan. Dengan lisan ini maksudnya bisa memberikan panduan kepada praktisi atau nasabah agar taat aturan Bank Syariah yang sudah benar itu.

Jika pake lisan pun tidak mampu, maka cukup ubah dengan hati saja. Ingkari. Diam. Itu lebih baik, meski selemah iman.

Perhatikan, ketika merasa ada yang tidak beres pada Bank Syariah, kok tidak mampu mengubah kemungkaran itu secara langsung atau lisan, kok tidak bisa diam, maka, masuk kategori selemah iman pun tidak.

Celakanya, kampanye resign dari Bank Syariah yang saat ini ada, tak masuk dalam kategori Hadits tersebut. Pengkritik ini tidak mampu jadi Bankir Syariah yang baik, tidak mampu jadi regulator yang baik, tidak mampu audiensi dengan baik kepada Bank Syariah atau Regulator atau pengawas, tidak mampu memberikan solusi positif konstruktif level yad dan lisan, dan tidak bisa diam. Ini valid resign yang tak mampu, bahkan masuk kategori selemah iman pun tidak.

Wahai pengkritik Bank Syariah, saya, Ahmad Ifham Sholihin pernah mengkritik Produk Bank Syariah sampai audiensi formal dengan Praktisi, lanjut menyampaikan aspirasi langsung ke regulator sampai Produk Bank Syariah tersebut dibekukan resmi oleh Regulator.

Ternyata bisa. Ayo kita tunjukkan bahwa kita berdaya, mampu, dan on the track sebagai orang yang terkategori punya iman, menurut Hadits. Wallahu a'lam.

Diasuh oleh: Ustadz Ahmad Ifham Sholihin