Jumat, 27 November 2020
12 Rabi‘ at-akhir 1442 H
Home / Keuangan / Resesi Berdampak ke Pembiayaan dan Manajemen Bank Syariah
Foto dok. Bongkarn Thanyakij/Pexels
Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -5,32 persen dan sekitar -3 persen

Sharianews.com, Jakarta - Resesi ekonomi dapat diartikan sebagai periode penurunan ekonomi dalam jangka panjang. Jangka panjang ini ada yang mengartikan dua kuartal berturut turut, tetapi ada juga yang mengartikan terjadinya berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Jadi, secara teknis, suatu negara dianggap memasuki periode resesi saat pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau tercatat negatif selama dua kuartal.  Pada kuartal II dan III 2020, ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -5,32 persen dan sekitar -3 persen. Sehingga, jika definisi teknis ini digunakan, maka Indonesia dapat dikatakan masuk ke dalam periode resesi.

Namun demikian, perlu dicatat bahwa kontraksi ekonomi ini tidak hanya dirasakan Indonesia, karena efek dari pandemi juga berimbas kepada pertumbuhan negara lain yang bahkan mengalami kontrakasi yang lebih dalam, seperti India yang mengalami kontraksi hingga 24 persen pada kuartal II 2020.

Resesi ini memberikan dampak kesegala sektor, termasuk perbankan syariah. Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) DKI Jakarta Rahmatina Kasri mengatakan, secara umum, dampak resesi kepada perbankan syariah kurang lebih sama dengan efek yang dihasilkan kontraksi ekonomi kepada sektor perbankan konvensional pada sisi pembiayaan dan manajemen bank.

Bank-bank menghadapi penurunan kualitas pembiayaan dikarenakan kemampuan debitur untuk memenuhi kewajibannya berkurang secara drastis. Sehingga, langkah antisipasi oleh manajemen bank adalah melalui alokasi pencadangan dana yang lebih tinggi dari kondisi-kondisi sebelumnya, yang mengakibatkan penurunan secara signifikan laba tahun berjalan bank.

Selain itu, perbankan akan semakin mengetatkan likuiditas dan distribusi pembiayaan dengan pola dan proses yang lebih selektif. Hal ini akan berdampak kepada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pembiayaan, terutama pembiayaan-pembiayaan jangka panjang.

“Bantuan dana sebesar Rp30 triliun dari pemerintah sedikit banyak membantu memperlancar pembiayaan maupun pemulihan ekonomi nasional disaat terjadi pengetatan likuiditas,” ujar Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia ini.

Namun demikian, Rahmatina menyatakan, dalam periode pandemi ini, data menunjukkan bahwa pertumbuhan perbankan syariah lebih tinggi dibandingkan perbankan nasional. Pembiayaan perbankan syariah tumbuh sebesar 9 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional yang berada di bawah 4 persen, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh di angka 8 persen hingga kuartal II 2020.

Hal itu memberikan sinyal akan kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada perbankan syariah serta kualitas pembiayaan yang lebih sustained daripada kredit perbankan konvensional. Ditambah dengan proses merger dari tiga Bank Umum Syariah anak BUMN dan proses konversi beberapa Bank Pembangunan Daerah menjadi bank syariah.

“Perbankan syariah berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi, sehingga ada kesempatan besar bagi perbankan syariah untuk menutup gap ketertinggalan dengan perbankan konvensional di masa resisi ini. Oleh karena itu, sinyal ini perlu disambut dan dioptimalisasi agar tercipta pertumbuhan perbankan syariah yang sustain,” pungkas Rahmatina.

Rep. Aldiansyah Nurrahman