Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Zakat insight / Re-interpretasi Penyaluran Zakat (Bagian 2)
FOTO | Dok. Pribadi
Menjadi pekerjaan besar bagi petugas zakat (‘amilin) hari ini untuk dapat mengidentifikasi seluruh potensi resiko tersebut, sehingga penyaluran zakat dapat lebih tepat sasaran dan bersesuaian dengan tujuan diturunkannya syariat zakat itu sendiri.

Oleh: Khuzaifah Hanum | Badan Amil Zakat Nasional

Dalam Fiqh uz-Zakat, Al-Qardawi memilah dua kategori mustahiq (yang berhak menerima zakat). Kategori pertama adalah asnâf (kelompok) mustahiq yang diawali dengan artikel lil, yang menunjukkan pemilikan, bahwa mereka adalah pemilik dari zakat.

Dalam hal ini, ketika ditemui mustahik dalam kategori tersebut, maka zakat harus diberikan kepadanya. Pembahasan kategori pertama ini telah diulas dalam tulisan terdahulu.

Tulisan ini mencoba mendiskusikan mengenai konsep mustahik terkait tujuan zakat dan konteks praktik penyaluran saat ini pada kategori kedua. Di kategori kedua, asnâf mustahiq diawali dengan artikel fî, yang makna asalnya menunjukkan dzaraf (tempat).

Imam Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyâf menyatakan bahwa makna fî berarti kebolehan bagi empat asnâf mustahiq kedua untuk menerima zakat selain pemilik dana zakat dari empat asnâf mustahiq yang pertama.

Ibnu Munayyir dalam Intisaf menambahkan bahwa zakat dimiliki oleh empat asnâf mustahiq pertama, yaitu fuqarâ’, masâkîn, âmilîn, dan muallaf. Namun demikian, artikel fî, pada empat asnâf mustahiq kedua menunjukkan bahwa riqâb, ghârimin, sabîlillah, dan ibn us-sabîl diperbolehkan menerima dana zakat.

Dalam hal ini, keempat asnâf mustahiq kedua sejatinya bukan pemilik zakat, namun zakat diperbolehkan diberikan kepada mereka dalam tujuan untuk mengurangi mudharat dan menambahkan maslahat atas keempat kondisi mustahiq tersebut.

Dari pendapat tersebut, dapat dibuat kesimpulan awal bahwa empat asnâf mustahiq kedua merupakan bagian dari penerima manfaat penyaluran zakat, namun bukan pemilik mutlak dari dana zakat.

Artinya, ketika kondisi keempat asnâf mustahiq tersebut ditemui, maka zakat tidak harus serta merta disalurkan. Ada kondisi tambahan yang menjadi dasar pertimbangan lain dalam penyaluran zakat kepada mereka.

Ar-riqâb secara bahasa berarti pengendalian. Dalam istilah zakat, riqâb berarti usaha membebaskan manusia dari praktik perbudakan oleh sesama manusia.

Dahulu di masa Nabi saw dan Sahabat ra, zakat digunakan sebagai sumber daya untuk membebaskan para budak dari kalangan kaum muslimin, agar mereka dapat berislam secara merdeka tanpa kekangan dari para tuan majikannya. Sehingga mereka yang awalnya adalah hamba manusia dapat kemudian bebas untuk menjadi hamba Allah Ta’ala saja.

Praktik perbudakan sebenarnya merupakan kondisi pengendalian secara absolut atas hak kuasa seseorang atas dirinya dari penguasaan tuan majikannya. Setiap orang dalam Islam memiliki hak kuasa atas dirinya.

Seseorang yang menjadi budak maka pada saat itu hak kuasanya hilang secara penuh dan terkendali oleh majikannya. Ia tidak bisa memilih tindakan sebagaimana keinginannya.

Dalam konteks hari ini, zakat mungkin tidak lagi dapat disalurkan untuk membebaskan manusia dari praktik perbudakan, karena praktik tersebut secara formal sudah menghilang.

Namun, dengan substansi yang sama, zakat selayaknya dapat digunakan untuk mengurangi risiko penguasaan terhadap seseorang yang berpotensi mengarah pada kondisi kefakiran, kemiskinan, kemaksiatan, dan kemudharatan lainnya.

Contoh aplikatif dari kategori riqâb hari ini adalah seseorang yang dikuasai penuh oleh orang lain, sehingga tidak bisa lepas dalam kendalinya. Pengendalian tersebut disebabkan karena ketergantungan faktor materi dan/atau faktor imateri lainnya.

Ketergantungan itu membuatnya tidak kuasa untuk menolak permintaan dari pemilik materi/imateri tersebut yang mengarah pada kondisi kefakiran, kemiskinan, kemaksiatan, atau kemudharatan lain.

Al-ghârimin secara bahasa berarti berhutang. Dalam konteks zakat, seseorang masuk dalam kategori ghârimin ketika ia berhutang untuk menunaikan kewajiban asasi dan menghindari mudharat diri dan lingkungan. Maka, tidak semua orang yang berhutang dapat diberikan bantuan dana zakat.

Ketika seseorang memiliki hutang dengan alasan memenuhi kebutuhan dasar, yang jika tidak dipenuhi akan ada mudharat besar yang akan terjadi, maka zakat boleh digunakan untuk membayarkan hutang tersebut.

Hari ini, ada sejumlah keluarga dari kelompok miskin yang malu untuk meminta bantuan untuk kebutuhan pokok harian mereka. Akhirnya mereka berhutang untuk membeli makanan, pakaian, atau sepetak kamar untuk tempat tinggal. Maka sebenarnya, zakat boleh diberikan kepada mereka untuk membayar hutang tersebut.

Kondisi ghârimin lainnya adalah seseorang yang berhutang, dan karena hutangnya tersebut ia dipaksa untuk bermaksiat kepada Allah, maka dalam kondisi tersebut, zakat boleh digunakan untuk membayarkan hutang tersebut.

As-sabîlillah secara bahasa berarti di jalan Allah. Dahulu di masa Nabi saw dan Sahabat ra, penggunaan zakat untuk sabîlillah artinya adalah membiayai perang dan jihad yang bertujuan menegakkan kalimat Allah di bumi.

Dalam konteks dunia hari ini, maka peperangan itu tidak lagi terjadi secara nyata dan bukan berarti praktik sabîlillah ini hilang, hanya saja, ia berubah bentuknya sesuai kondisi hari ini.

Pada dunia yang telah berubah hari ini, sabîlillah tidak lagi semata perang fisik, namun dapat diartikan lebih luas sebagai setiap usaha dalam rangka memenangkan Islam dalam berbagai konteks, baik diri, masyarakat, negara dan dunia.

Maka sabîlillah adalah upaya jihad menegakkan Islam dan memperkuat posisi ummat Islam di berbagai aspek kehidupan di tingkat masyarakat, negara, dan dunia. Dalam hal ini, zakat dapat digunakan sebagai sumber daya jihad sabîlillah tersebut.

Ibn us-sabîl secara bahasa berarti orang yang berada di dalam perjalanan. Dahulu di masa Nabi saw dan Sahabat ra, zakat diberikan kepada setiap orang yang bermukim di sekitar lintasan perjalanan.

Dengan bantuan zakat tersebut, para pemukim akan terbantu untuk menyediakan kebutuhan para musafir yang membutuhkan bantuan makanan, pakaian, dan tempat tinggal sementara selama dalam perjalanan mereka.

Dengan perkembangan transportasi hari ini, maka para musafir mendapatkan banyak kemudahan dalam melakukan perjalanan. Maka, resiko perjalanan yang dahulu mungkin terjadi, akan banyak berkurang dengan kondisi perjalanan hari ini.

Namun demikian, bukan berarti resiko tersebut hilang. Maka, implementasi ibn us-sabîl hari ini adalah peluang terbesarnya karena faktor musibah atau bencana yang mungkin terjadi di dalam perjalanan.

Karena bencana tersebut, mereka mengalami kefakiran sehingga membutuhkan bantuan untuk dapat menyelesaikan perjalanan atau kembali pulang.

Dari uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi keempat asnâf mustahiq yang kedua bersifat relatif. Penyaluran zakat kepada mereka dibenarkan, namun tidak menjadi prioritas utama.

Penyaluran zakat kepada keempat asnâf mustahiq kedua itu dapat dilakukan ketika kondisinya mendekati kepada kefakiran, kemiskinan, dan/atau kemudharatan lain yang mendekati kemaksiatan kepada Allah Ta’ala.

Maka, menjadi pekerjaan besar bagi petugas zakat (‘amilin) hari ini untuk dapat mengidentifikasi seluruh potensi resiko tersebut, sehingga penyaluran zakat dapat lebih tepat sasaran dan bersesuaian dengan tujuan diturunkannya syariat zakat itu sendiri.

 

Oleh: Khuzaifah Hanum

Tags: