Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
Ali Zainal. Di usianya yang belum genap 23 tahun, ia mendapatkan kesempatan naik haji secara gratis. Sejak tahun 2012 lalu, ia sempat menuliskan cita-cita pada catatan mimpinya. Salah satunya adalah berangkat haji di tahun 2022.

Sharianews.com, Jakarta ~ Menunaikan ibadah haji merupakan impian bagi semua umat Muslim. Meskipun tidak umat Muslim bisa mencapainya, tetapi setiap upaya yang dilakukan, tidak akan sia-sia. Jika Tuhan berkehendak, mimpi naik haji bisa menjadi kenyataan, sekalipun dengan jalan yang tidak terduga.

Seperti pemuda asal Yogjakarta, Ali Zainal. Di usianya yang belum genap 23 tahun, ia mendapatkan kesempatan naik haji secara gratis. Sejak tahun 2012 lalu, ia sempat menuliskan cita-cita pada catatan mimpinya. Salah satunya adalah berangkat haji di tahun 2022.

“Itu berarti sekitar sepuluh tahun dari aku nulis catatan mimpi itu. Terlihat enggak logis. Tapi aku selalu percaya bahwa cepat atau lambat, mimpi-mimpi itu akan terwujud, atau tergantikan dengan yang lebih baik dari Allah,” kata Ali

Hingga tiba di tahun 2017, kemustahilan semakin bertambah. Faktanya, Ali belum bisa berangkat karena di Indonesia, standar masa tunggunya sekitar 10-15 tahun setelah pendaftaran. Tetapi lagi-lagi, Ali mengaku tetap optimistis terhadap takdir Allah dan berserah diri kepadaNya.

Benar saja, Allah memberikan jalan tak terduga untuk berangkat haji tanpa perlu menunggu lama, bahkan tidak perlu membayar seperti orang pada umumnya. Ali mendapatkan informasi, dibutuhkannya seorang ahli gizi di Makkah, Jeddah dan Madinah untuk Jemaah haji Indonesia.

“Waktu itu belum wisuda, tapi sudah sidang dan sudah ada surat tanda lulus. Akhirnya aku coba daftar, setelah melalui proses-proses dan seterusnya, Alhamdulillah ternyata Min Haitsu la Yahtasib, Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak di duga-duga,” ujar penulis bukuMin Haitsu Latahsib”.

Demisioner Presiden Mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) ini mengungkapkan, ketika ia menuliskan cita-citanya untuk berhaji pada 2022, justru Allah mengabulkannya di usia ke-22 atau pada tahun 2017.

Dalam pemaparannya, Ali mengatakan, setiap pencapaian mimpi-mimpinya tersebut, tidak terlepas dari kontribusi keseimbangan antara jasmani dan rohani. Mengingat manusia membutuhkan keseimbangan dalam segala hal.

“Diri ini tersusun dari komponen jasmani dan rohani. Jasmani ini kita asupi dengan konsumsi yang baik, olahraga, membaca dan sebagainya. Nah, di sisi lain mengisi rohani kita, melalui ibadah dengan melakukan kebaikan, muhasabah (intropeksi diri), tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), dan seterusnya,” imbuh Ali.

Ali menambahkan, baginya sangat penting untuk memperbaiki ibadah wajib dan berusaha istikamah dengan amalan-amalan sunah.

Dirinya mengibaratkan, sebuah gunung yang besar pastilah tersusun dari komponen-komponen yang kecil. Seperti pasir, bebatuan, tanah yang lembut maupun yang kuat. Begitu pula manusia, bisa berawal dari amalan kecil, kemudian diistikamahkan (konsisten).

“Maka itu, kebaikan-kebaikan sejatinya menjadi fondasi kita untuk memupuk pribadi yang lebih unggul dan lebih besar, insyaallah," tutup Ali. (*)

 

 

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo
#Pemuda #haji