Selasa, 17 September 2019
18 Muḥarram 1441 H
Home / Opini / Potret Pembangunan Ekonomi Negara-Negara Muslim (Bagian 1)
Dari 57 negara Muslim anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC), hanya tujuh negara di antaranya yang termasuk golongan berpendapatan tinggi. Lainnya, 30 negara termasuk golongan berpendapatan menengah dan 20 negara termasuk golongan berpendapatan rendah.

Sharianews.com, Memasuki tahun baru 1441 Hijriyah, kondisi ekonomi negara-negara Muslim secara umum masih jauh dari harapan. Bukan hanya tertinggal secara relatif dari negara-negara lain, banyak di antara negara-negara Muslim yang secara absolut hidup dengan pendapatan yang rendah, modal manusia yang rendah, dan sekaligus kerentanan yang tinggi terhadap goncangan-goncangan ekonomi.

Dari 57 negara Muslim anggota Organization of Islamic Cooperation (OIC), hanya tujuh negara di antaranya yang termasuk golongan berpendapatan tinggi. Lainnya, 30 negara termasuk golongan berpendapatan menengah dan 20 negara termasuk golongan berpendapatan rendah.

Merujuk pada kriteria terbaru Bank Dunia, sebuah negara dikatakan berpendapatan tinggi jika memiliki gross national income (GNI) per kapita di atas 12.376 miliar dolar AS pada Juli 2018. Negara yang memiliki GNI per kapita 1.026-12.376 miliar dolar AS dikatakan berpendapatan menengah (dan kemudian dibagi lagi menjadi menengah atas dan menengah bawah), sedangkan yang memiliki GNI per kapita di bawah 1.026 dikatakan berpendapatan rendah.

Bukan Negara Maju

Tujuh negara anggota OIC yang termasuk golongan berpendapatan tinggi adalah Bahrain, Brunei Darussalam, Kuwait, Oman, Qatar, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab.

Meskipun memiliki pendapatan yang tinggi, ketujuh negara ini bukanlah negara-negara maju (advanced economies). Sebab, pada dasarnya, negara-negara ini belum dapat dikatakan berhasil membangun perekonomian mereka. Alih-alih memiliki sektor-sektor industri dan jasa-jasa yang terdiversifikasi, modern dan didukung oleh infrastruktur yang lengkap, negara-negara ini justru masih menggantungkan perekonomian mereka pada pertambangan dan pengolahan minyak dan gas.

Lebih dari 50 persen total pendapatan nasional Kuwait, Saudi Arabia dan Qatar bersumber dari minyak dan gas. Pada kasus Brunei Darussalam, lebih dari 60 persen total pendapatan nasional bersumber dari minyak dan gas. Komponen ekspor yang berasal dari minyak dan gas mencapai 95 persen, sedangkan penerimaan pemerintah yang berasal dari sumber yang terkait dengan minyak dan gas mencapai 90 persen.

Negara Berkembang

Tujuh negara berpendapatan tinggi di atas lebih tepat disebut sebagai negara berkembang bersama-sama dengan 30 negara anggota OIC lain yang berpendapatan menengah. Meskipun tidak ada kriteria baku untuk menyebut sebuah negara tertentu sebagai negara berkembang, tetapi secara umum negara-negara berkembang memiliki beberapa dari lima karakteristik berikut.

Pertama, struktur ekonomi yang didominasi oleh sektor-sektor primer. Yaitu, sektor-sektor yang memanfaatkan sumber daya alam secara langsung, baik dalam bentuk pertanian, perikanan, pemanfaatan hasil hutan maupun pertambangan.

Kedua, infrastruktur yang terbatas. Tidak hanya infrastruktur transportasi dan komunikasi, tetapi juga infrastruktur energi dan listrik, infrastruktur sanitasi, dan infrastruktur pengelolaan lingkungan.

Ketiga, kualitas modal manusia yang rendah. Hal ini, terutama dicirikan oleh rendahnya capaian-capaian yang menyangkut kesehatan dan pendidikan.

Keempat, produktivitas yang rendah, yang dicirikan oleh rendahnya nilai tambah yang dapat diciptakan dalam proses produksi. Nilai tambah mengacu pada peningkatan nilai uang yang dapat disematkan pada barang-barang atau jasa-jasa tertentu sebagai hasil dari kegiatan ekonomi. Semakin rendah peningkatan nilai uang yang dapat disematkan pada barang-barang atau jasa-jasa tersebut, semakin rendah produktivitas.

Kelima, tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan yang relatif tinggi. Tingkat pengangguran mengacu pada rasio jumlah penganggur terhadap jumlah penduduk usia kerja yang berniat mencari kerja. Sementara, tingkat kemiskinan mengacu pada rasio jumlah penduduk miskin terhadap jumlah penduduk keseluruhan.

Turki adalah negara anggota OIC yang paling sukses dalam meningkatkan peran sektor-sektor nonprimer dalam perekonomian. Persentase produk domestik bruto (PDB) Turki yang berasal dari sektor-sektor primer hanya sekitar 6,7 persen. Sisanya, sekitar 31,8 persen berasal dari sektor sekunder dan 61,4 persen berasal dari sektor tersier. Dengan fakta ini, Turki sesekali disebut sebagai negara maju. Misalnya, dalam laporan CIA World Factbook. Namun, karena pendapatan Turki masih tergolong menengah, dan begitu pun kualitas modal manusia Turki masih relatif rendah, maka negara ini lebih sering disebut sebagai negara berkembang daripada negara maju.

Negara Terbelakang

Negara-negara anggota OIC yang berpendapatan rendah pada umumnya juga merupakan negara terbelakang. Setidaknya, jika merujuk pada kriteria yang ditetapkan oleh Committee for Development Policy, United Nations’ Economic and Social Council (ECOSOC).

Merujuk pada kriteria tersebut, sebuah negara dikatakan terbelakang jika memiliki pendapatan yang rendah, modal manusia yang rendah, dan sekaligus kerentanan yang tinggi terhadap goncangan-goncangan ekonomi. Pendapatan diukur menggunakan rata-rata GNI per kapita, modal manusia diukur menggunakan human assets index, sedangkan kerentanan terhadap goncangan-goncangan ekonomi diukur menggunakan economic vulnerability index.

Negara anggota OIC yang memiliki pendapatan dan modal manusia paling rendah adalah Somalia. Rata-rata GNI per kapita dan nilai human asset index negara tanduk Afrika ini begitu rendah, sampai-sampai menempatkan Somalia pada posisi terbawah di antara semua negara di dunia.

Sementara, negara anggota OIC yang paling rentan terhadap goncangan-goncangan ekonomi adalah Gambia. Negara yang terletak di tepi pantai barat Afrika ini sangat rentan, baik terhadap bencana alam, ketidakstabilan produksi pertanian, maupun ketidakstabilan ekspor. (*)

Fakultas Ekonomika dan Bisnis dan Sekolah Pascasarjana,

Universitas Gadjah Mada

 

 

oleh: Akhmad Akbar Susamto Editor: Achi Hartoyo