Selasa, 23 April 2019
18 Sha‘ban 1440 H

Potensi Global Kuliner Halal

Sabtu, 8 Desember 2018 09:12
FOTO I Dok. halhalal.com
Berdasarkan data yang dilansir dari Global Islamic Economy, potensi pertumbuhan makanan halal global mencapai 1,93 triliun dolar AS pada 2022.

Sharianews.com, JakartaNegara Indonesia merupakan negara dengan dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Namun, penanganan masalah kehalalan belum diperhatikan secara benar.

Menerapkan gaya hidup halal dalam keseharian merupakan komitmen bagi umat Islam. Kini, banyak orang yang menyadari pentingnya mengonsumsi makanan dan minuman yang sesuai dengan tuntunan syariat. Mengonsumsi kuliner halal bukan lagi sekadar jargon melainkan kebutuhan. Kesadaran spiritual secara kolektif telah menjadi tren global. Tidak hanya di negara-negara yang mayoritas beragama Islam, tetapi juga negara yang umat Islamnya minoritas.

Sejarah lahirnya Undang-Undang Jaminan Produk Halala (UU JPH) di Indonesia sendiri didasari dari keinginan masyarakat yang beragama Islam, agar produk yang mereka konsumsi terjamin kehalalannya. Regulasi ini lahir dari besarnya keinginan dan harapan masyarakat mengenai standar halal.

Setiap negara, termasuk Indonesia membawa misi untuk memajukan ekonominya masing-masing. Industri bahan pangan atau kuliner yang sudah stabil harus mampu mengakomodir keinginan konsumen dengan lahirnya  regulasi tersebut.

Umat Islam sebagai konsumen adalah penggerak industri makanan dan kuliner halal. Isu halal sendiri saat ini telah menjadi isu global yang terus berkembang di seluruh dunia.

Peran MUI dalam Usaha Kuliner Halal

Di Indonesia, MUI bukanlah satu-satunya lembaga yang menjadi Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Namun, kedudukan MUI sebagai lembaga yang pertama kali menerbitkan sertifikasi halal, memiliki peran penting dalam mensosialisasikan sertifikasi halal bagi industri pangan. Termasuk dalam hal ini usaha kuliner jalanan ataupun street food.

MUI memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kepada pemilik usaha kuliner jalanan. Untuk mendukung proses edukasi tersebut, peningkatan kapasitas pengetahuan para ulama dan tokoh agama yang selaras dengan kebijakan pemerintah dalam mengkampanyekan industri halal menjadi hal yang mutlak diperlukan.

Dalam proses tersebut, ulama harus mampu menempatkan diri sebagai bagian dari agen perubahan (agent of change). Ulama memiliki pengaruh yang cukup kuat di mata masyarakat sebagai simbol yang karismatik dan memiliki figur keteladanan. Termasuk dalam hal memberikan edukasi mengenai produk apa saja yang masuk dalam kategori halal.

Potensi Kuliner Halal

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, potensi Indonesia untuk menjadi produsen makanan halal sangatlah besar. Dibandingkan dengan Malasyia, Indonesia masih kalah dalam pemasaran makanan halal secara global.

Meskipun potensinya besar, tantangan yang dihadapi Indonesia juga sangat besar. Kuliner Indonesia tidak hanya bersaing dengan negara-negara muslim lain, tetapi juga dengan negara-negara non muslim yang secara serius mengembangkan industri makanan halal seperti Korea, Thailand, Jepang

Berdasarkan data yang dilansir dari Global Islamic Economy, potensi pertumbuhan makanan halal global mencapai 1,93 triliun dolar AS pada 2022. Potensi yang besar tersebut harus mampu dimanfaatkan oleh Indonesia dalam

20 Daftar Restoran Berlogo Halal di Indonesia

Dari puluhan ribu restoran yang berada di Indonesia, tidak semua restoran mengantungi logo sertifikasi halal dari LPPOM MUI. Berikut ini 20 daftar restoran yang sudah memiliki logo halal resmi dari LPPOM MUI. (*)

Achi Hartoyo