Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Global / Potensi Ekonomi Syariah Global di 2030 ( Bagian 1)
FOTO | Dok. www.aabcollection.com
Thomson Reuters dan DinarStandard report 2017/18 memprediksi potensi pasar ekonomi Islam global akan tumbuh hingga mencapai besaran USD 1 triliun. Dari mana besaran angka itu diperoleh?

Thomson Reuters dan DinarStandard report 2017/18 memprediksi potensi pasar ekonomi Islam global akan tumbuh hingga mencapai besaran USD 1 triliun. Dari mana besaran angka itu diperoleh?

Sharianews.com, Jakarta. Laporan Thomson Reuters dan DinarStandard 2017/18, tentang prospek dan peluang ekonomi Islam global memprediksikan adanya perkembangan positif secara berkelanjutan hingga 2030.

Potensi ekonomi syariah dapat terbaca, antara lain melalui serangkaian penelitian, diskusi, dan analisa dari para pelaku indusri syariah dari berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim dan non-muslim, yang diteliti, terutama dari Negara-negara OKI

Analisa, diskusi, dan penelitian dilakukan terhadap beberapa sektor bisnis utama meliputi industri halal, keuangan syariah, hingga fashion, dan media serta rekreasi syariah. Prediksi dibuat dengan menyertakan indikator  nilai investasi, inovasi terhadap produk baru dari dunia industri, keuangan, dan halal lifestyle serta perbaikan di sektor regulasi.

Berikut ini gambaran besaran peluang dan tantangan serta proses ekonomi syariah dunia di tiga sektor  utama, sebagaimana laporan yang dirilis oleh Thomson Reuters dan DinarStandard 2017/18.

1. Industri Halal pada tahun 2030

Sektor  ini diprediksi menjanjikan potensi pertumbuhan dengan nilai keuangan hingga mencapai USD 1 triliun. Dari mana angka ini diperoleh?

Pertama, organisasi bisnis / perusahaan

Dilaporkan, sebesar USD 5 miliar pendapatan global akan diperoleh dari perusahaan-perusahaan global, dengan beragam produk halal yang akan muncul dan terdaftar di pasaran umum dunia.

Di sektor ini, peluang industri halal diprediksi melampaui USD 1 triliun : sebagian berasal dari industri makanan dan minuman bersertifikat halal, yang diperkirakan meraup pendapatan hingga USD  415 miliar pada tahun 2015. Angka ini diprediksi akan terus tumbuh secara signifikan, hingga melampaui USD 1 triliun pada 2030.

Perhitungan ini, didasarkan pada total belanja masyarakat muslim global terhadap produk halal, seiring dengan meningkatnya penerapan sertifikasi halal di seluruh negara-negara OKI.

Berdasarkan analisis Thomson Reuters dan DinarStandard, dengan arus pertumbuhan pasar sebesar itu, maka peran modal swasta (private equity), jelas memiliki peranan penting dalam pergerakan pangsa pasar di berbagai sektor industri halal, dengan beberapa alasan:

Pertama, ketika kesadaran dan minat perusahaan terhadap makanan halal muncul, antara lain karena terdorong oleh besaran potensi dan peluang bisnis yang bisa diraih, maka investasi swasta akan ikut serta bermain di dalamnya dengan membawa serta modal yang di miliki.

Ini akan membantu menciptakan perluasan atau persebaran produk melintasi batas geografis, yang menurut  analisis Thomson Reuters dan DinarStandard, hal ini akan menyumbang setidaknya 0,5 persen dari total pendapatan USD 5 miliar tersebut.

Kedua, saat ini, industri halal sangat beragam. Meski, hanya beberapa perusahaan swasta multinasional yang mampu menjadi  pemain besar di bidang industri produk halal, namun mereka telah mampu meraih pendapatan lebih dari USD 1 miliar.

Sebagai catatan, umumnya mereka yang bermain pada Industri halal, kebanyakan adalah pelaku industri dengan penghasilan kurang dari USD 100 juta setiap tahunnya.

Melihat kecenderungan ini, menurut Thomson Reuters dan DinarStandard, pada akhirnya perusahaan swasta akan bersaing di pasar global : sebagai contoh, perusahaan swasta kini mulai memperluas bisnisnya dengan masuk ke sektor produk nutrisi, seperti yang dilakukan oleh Johnson & Johnson dan Unilever. Mereka kini, sudah melakukan ekspansi globalnya dengan dukungan inovasi teknologi yang berkembang dengan baik. 

Kedua, eksportir

Negara-negara OKI (OIC) diperkirakan akan menjadi pengekspor kunci dengan kucuran dana miliaran dolar di sektor makanan halal untuk menghadapi tantangan ekspansi Brasil dan India pada tahun 2030. Diperkirakan OKI akan diperkuat oleh inisiatif China melalui proyek kerja sama China-UAE yang sudah dirintis sejak tiga tahun lalu dengan kebijakan “One Belt, One Road ” yang akan menguntungkan kedua belah pihak.

Menurut catatan Thomson Reuters dan DinarStandard, Negara-negara anggota OKI sangat bergantung pada negara-negara non-OKI untuk persoalan impor. Meski begitu, negara-negara OKI masih bisa menyumbang besaran pengeluaran global hingga USD 190 miliar untuk makanan dan minuman pada tahun 2015 atau 16 persen untuk konsumsi domestiknya, tetapi 22 persennya berasal dari negara-negara non-OKI. 

Diperkirakan eksportir besar dari anggota negara OKI dalam perdagangan produk halal secara global akan muncul dan menjadi pesaing ekspansi Brasil dan India. Beberapa langkah penting yang diperkirakan akan dilakukan oleh negara-negara OKI, antara lain:

Pertama, membuat sertifikasi halal sebanyak mungkin untuk mendorong pertumbuhan. Kemampuan Turki dengan mengembangkan tiga kali lipat ekspor ternak unggas (poultry) seperti ayam, bebek, dan semacamnya ke negara-negara OKI antara 2010 dan 2014 adalah karena program perluasan sertifikasi halal pemerintah Turki di tahun 2009.

Kedua, pertanian yang berkelanjutan akan menjadi langkah kunci. Upaya Kazakhstan mengimpor 10.000 ternak lembu (cattle), seperti sapi dan kerbau dari negara-negara non-OKI merupakan bagian dari pengembangan pertanian yang berkelanjutan.

Ketiga, penyiapan dan pembiayaan pada Usaha Kecil dan Mengengah (UKM) secara berkelanjutan akan menjadi penentu penting lain bagi pertumbuhan ekonomi dalam rangka mendorong perdagangan produk halal.

Keempat, kebijakan bertajuk, “One Belt, One Road”, inisiatif China-UAE diprediksi akan menentukan, karena negara-negara OKI, akhirnya menjadi pemain kunci dalam perdagangan makanan halal. Pakistan khususnya, akan mendapat manfaat, juga Asia Tengah dari investasi infrastruktur dan akses pasar yang besar.

Ketiga, program sertifikasi halal

Program sertifikasi halal secara sistematis akan menjadi standar yang berlaku dalam industri makanan. Saat ini lembaga pemberi sertifikat (certifier) halal masih terbatas, sehingga memiliki tugas dan tanggung jawab pengawasan yang sangat berat.

Saat ini, secara global, ada lebih dari 350 lembaga pemberi sertifikat halal dengan pengawasan yang terbatas: regulasi halal saat ini tertinggal jauh di belakang perkembangan industri makanan.

Jika inisiatif pengakuan resmi (accreditation) terkait halal, yakni sertifikasi halal, saat ini diperbanyak, maka hal ini akan mendorong adanya peningkatan mutu secara besar-besaran mengenai bagaimana industri halal itu seharusnya diatur.

Forum Akreditasi Halal Internasional (The International Halal Accreditation Forum) telah memulai proses dengan mengurangi jumlah pemberi sertifikasi, dan secara bersamaan meningkatkan kualitas dan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas sertifikasi halal pada banyak produk maupun jasa yang disertifikasi.

Pada saat bersamaan, lembaga pemberi sertifikat halal akan semakin canggih, berkembang secara sistematis, dan kesadaran masyarakat terhadap kepatuhan memenuhi standar halal pun semakin tinggi. (Bersambung bagian 2)

***

 

Reporter : Emha S. Asror Editor : Ahmad Kholil