Kamis, 17 Oktober 2019
18 Ṣafar 1441 H
Home / Fokus / Posisi dan Peluang Ekonomi Syariah Global di 2019
FOTO I Dok. weforum.org
Setelah mengalami perlambatan pertumbuhan di tahun 2018 kemarin, bahkan nyaris di seluruh sektor keuangan hanya tumbuh lima persen, posisi tahun ini diperkirakan sebaliknya.

Sharianews.com, Menilik laporan tahunan State of the Global Islamic Economy Report 2018/19 milik Dinar Standard beserta Thomson Reuters dan Dubai The Capital of Islamic Economy, setelah mengalami perlambatan pertumbuhan di tahun 2018 kemarin, bahkan nyaris di seluruh sektor keuangan hanya tumbuh lima persen, posisi tahun ini diperkirakan sebaliknya.

Perkiraan di atas tentu tak lepas dari upaya pemangku kebijakan dan pelaku industri di berbagai negara yang terus-menerus menyelaraskan regulasi praktis dan sistem ekonomi Islam dengan perkembangan investasi yang paling baru serta kemajuan teknologi.

Kondisi demikian bisa disaksikan, misalnya, dengan banyaknya perusahaan berbasis syariah yang telah mengadopsi teknologi blockchain untuk pembayaran, mengonfirmasi dan memastikan kepatuhan halal, atau melacak pengiriman makanan, kosmetik dan produk farmasi dari gudang pabrik ke pengecer.

Di sisi lain, salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi syariah dalam memenuhi kebutuhan umat Islam abad ke-21 adalah pemanfaatan teknologi pintar. Misalnya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) atau realitas maya (virtual reality/VR).

Sebagai contoh, saat ini penerapan teknologi AI sudah merambah ke berbagai sektor seperti pakaian. Misalnya smart hijab.

Bukan cuma itu, prediksi perkembangan ekonomi Islam secara global ke depan tidak lepas pula dari faktor kian maraknya bisnis pembiayaan daring untuk membantu kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau peer to peer lending, dan jasa pengiriman barang berbasis syariah.  

Makanan dan Minuman Halal

Gemerlap pertumbuhan ekonomi Islam di 2019 dan tahun-tahun berikutnya tidak saja akan dijumpai pada sektor keuangan. Dari hasil penelusuran Dinar Standard beserta Thomson Reuters dan Dubai The Capital of Islamic Economy memperkirakan bahwa besar kemungkinan akan ada lonjakan signifikan dalam industri makanan dan minuman halal.

Malahan, secara hitung-hitungan total kenaikan pasar pangan halal dunia diprediksi mencapai 6,1 persen selama lima tahun ke depan, dengan rincian 1.140 miliar dolar AS pada 2019 bertambah menjadi 1.630 miliar dolar AS di 2024.   

Faktor lain selain pasar global yang tumbuh positif, baik di kalangan konsumen non-Muslim maupun Muslim sendiri, prediksi serupa juga diperoleh dari beragam produsen jasa pangan dunia. Bahkan, berbagai merek dan penghasil makanan halal paling terkemuka saat ini justru berasal dari negara-negara non-Muslim, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Brazil.

Khusus di China, yang telah diguncang oleh banyaknya isu negatif makanan dalam beberapa tahun terakhir, makanan halal menjadi populer karena dianggap lebih sehat dan bebas penyakit dari sisi medis. Meskipun ‘Negeri Tirai Bambu’ ini hanya memiliki populasi Muslim yang minoritas, sebagian besar produksi bahkan dibuat untuk kebutuhan dalam negeri.

Tidak berhenti dampai di situ, China semakin optimistis bisa menjadi eksportir utama makanan halal dunia. Rasa percaya diri ini dinilai tidak berlebihan, sebab di provinsi Xinjiang, Gansu, Xian dan Lanzhou saat ini memiliki sekitar 5.000 perusahaan makanan halal.

Kian bertambahnya jumlah produsen makanan halal multinasional di negara-negara non-Muslim, memberi sinyal bahwa viabilitas sektor tersebut semakin luas. Karenanya, masih menurut hasil studi di atas, secara keseluruhan ekspor pangan halal dunia diyakini dapat menyentuh angka hingga 124.754 juta dolar AS di 2023.

Manuver OKI

Merasa sekadar menjadi pasar makanan halal global, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akhirnya memunculkan gerakan ‘Kulu Halal’ atau dorongan harmonisasi ekonomi pangan dunia dengan asas syariah oleh sejumlah negara anggotanya melalui kebijakan impor. Manuver OKI ini disinyalir semakin menstimulasi perdagangan makanan dan minuman semakin berkembang.

Arab Saudi misalnya, belum lama ini memperketat persyaratan impor makanan halal. Walau masih meraba situasi yang tepat, tahun ini sertifikasi wajib halal pada makanan impor juga sedang diusahakan Indonesia. Sadar bahwa regulasi distribusi bahan konsumsi halal masih tertinggal dibanding peraturan negara lain, Turki juga membentuk Otoritas Akreditasi Halal (the Halal Accreditation Authority/HAA).

Dengan demikian, melihat kondisi tersebut DinardStandard beserta Thomson Reuters dan Dubai The Capital of Islamic Economy optimis di 2023 nanti total impor makanan halal secara global bisa mencapai 191.530 juta dolar AS. (*)

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Achi Hartoyo

Tags: