Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Sharia insight / Politik Ekonomi Rasulullah SAW (Part 2)
FOTO I Dok. Sharianews
Begitu banyak ayat yang membicarakan akan keutamaan ilmu. Firman Allah:  “Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?Sesungguhnya orang  berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar: 9).

Sharianews.com, Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas strategi pertama Rasulullah Saw, dalam membangun ekonomi Madinah, yaitu dengan menekankan pentingnya proses distribusi harta dalam membangun ekonomi umat. Oleh karena itu, kita bisa menemukan lebih dari 10 macam cara proses distribusi uang dalam Islam. Semuanya bertujuan agar harta itu, tidak berputar-putar pada kelompok tertentu saja. (Al-Hasyr: 7).

Namun demikian, distribusi itu tidak akan pernah berjalan sempurna, jika manusia sebagai pelaku utamanya tidak memahami dengan baik hal tersebut, bahkan menghalanginya dengan berbagai rupa motif dan rencana. Oleh karena itu, strategi politik ekonomi kedua yang dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah membangun sumber daya manusia.

Islam dan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Alquran dengan tegas mengatakan, bahwa misi utama diutusnya Rasulullah Sawa adalah untuk memperbaiki kualitas manusia. Allah Swt berfirman: “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Al-Jumu'ah ayat 2).

Manusia tanpa bimbingan dan petunjuk akan liar dan tak terarah. Ia akan mengikuti ajakan nafsu yang membisikinya untuk selalu mementingkan kepentingan dirinya, bahkan pada saat dia telah memiliki segalanya. Nabi Adam As terusir dari surga bukan karena bujukan harta atau wanita, tetapi Ia kalah dengan keakuan dan kekekalan diri yang ditawarkan iblis.

Padahal manusia adalah aset yang sangat berharga. Kedudukannya adalah “wakil Tuhan”di muka bumi untuk mengelola kekayaan luar biasa yang ada di dalamnya. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Isra ayat 70).

Teori pembangunan dalam Islam, tentu saja berbeda jauh dengan teori pembangunan konvensional yang hanya memperhatikan aspek tertentu, dan mengabaikan aspek yang lain. Para ulama semisal Imam Al-Juwaini, lalu Imam Al-Gazali, kemudian Imam Asy-Syatibi yang menyusun konsep Maqashid Syariah secara lebih sistematis.

Dalam bukunya Al-Muwafaqat fi Ushul Al-Ahkam mengatakan, bahwa pada dasarnya syariah ditetapkan untuk mewujudkan kepentingan (maslahat) manusia yaitu dengan menjaga keyakinan (agama), akal (pendidikan), fisik (kesehatan), keturunan (keluarga), dan harta (ekonomi) mereka baik di dunia maupun akhirat.

Maqashid Syariah dan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Agama

Mengapa Rasulullah SAW memulai dakwah Islam dengan tema tauhid yang membutuhkan waktu 13 tahun lebih lama dibandingkan dakwah Madinah yang hanya 10 tahun saja? Mengapa beliau SAW tidak memulainya dengan tema revolusi sosial? Padahal saat itu sistem perbudakan begitu merajalela.

Manusia kuat memakan manusia lemah. Mereka dengan strata sosial yang tinggi mengeksploitasi manusia berkasta rendah. Bukankah isu ini menarik untuk membuat para budak di tanah Makkah bangkit melawan Abu Lahab, Abu Jahal , Abu Sofyan dan semua tuan-tuan yang menindas mereka selama ini?

Jawabannya adalah jika Islam hanya membawa isu perbudakan semata, isu ketimpangan sosial saja, maka yang sangat mungkin terjadi hanyalah pergantian tirani di kalangan manusia. Mereka yang budak akan melawan kepada tuan-tuan mereka, tetapi setelah itu bisa saja berubah menjadi tirani berikutnya jika tidak memahami esensi keadilan yang sebenarnya.

Tauhid adalah pemahaman dalam jiwa bahwa semua yang berada di langit dan di bumi adalah milik Allah Swt. Ia berfirman: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu”(Ali Imran: 189).

Itulah mengapa sahabat Abu Bakar Shiddiq Ra saat ditanya mengapa ia memberikan seluruh hartanya di jalan Allah tanpa takut sedikitpun akan jatuh miskin, ia menjawab “Aku tinggalkan Allah bersama keluargaku”. Itulah mengapa sahabat Usman bin Affan Ra  sendirian membiayai perang dari kantongnya sendiri. Itulah mengapa Thalhah bin Ubaidilah menangis ketika datang kepadanya 700 ribu dirham dalam waktu semalam dan dia tertawa ketika uang sebesar itu habis dibagikannya dalam waktu satu malam juga.

Itulah mengapa sahabat Bilal bin Rabah tabah menghadapi tuannya Umayyah bin Khalaf yang menyiksanya di tengah padang pasir panas agar mau meninggalkan Islam dan kembali ke agama nenek moyang mereka. Itulah mengapa Rasulullah SAW tidak membalas dendam kepada penduduk Makkah sewaktu beliau memasuki kota itu dengan penuh kemenangan. Sebaliknya, beliau berucap “Pergilah kalian bebas semuanya

Pendidikan

Akal adalah nikmat yang tak terhingga yang diberikan kepada manusia. Itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Seseorang dapat mengetahui dengan akal sehatnya mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana kebaikan dan mana kejahatan.

Berakal atau tidak bahkan menjadi standar ukuran untuk mewajibkan seseorang itu mukallaf atau tidak. Maka semua hal yang membuat akal kehilangan fungsinya seperti minuman keras dan sejenisnya dilarang dalam Islam. Sebaliknya, semua hal yang membuat akal dapat digunakan sebagaimana fungsinya didorong dalam Islam.

Upaya pembangunan manusia itu dapat dimulai melalui pendidikan. Ilmu pengetahuan dan Islam dipandang sebagai suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan adalah suluh penerang kehidupan sekaligus nafas peradaban. Kemajuan Islam pada masa Abbasiyah di Irak hingga Andalusia di Spanyol (abad 7 M – 13 M), berkat kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu.

Begitu banyak ayat yang membicarakan akan keutamaan ilmu. Firman Allah:  “Katakanlah adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?Sesungguhnya orang  berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar: 9).

Sehingga tak perlu heran, sahabat Zaid bin Tsabit dapat menguasai bahasa Suryani hanya dalam tempo 16 hari saja dan bahasa Ibrani dalam tempo setengah bulan saja (Tirmidzi, Kitabul Isti`dzan wal Adab 2639). Sejarah sahabat telah dihiasi nama-nama seperti Muadz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbasdan para sahabat lain yang terkenal dengan kefaqihannya dan kedalaman ilmu mereka. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka ia berada di Jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Turmudzi).

Kesehatan

Demikian pula dengan kesehatan. Hanya manusia yang sehat jasmani yang mampu memberikan kemampuan terbaiknya untuk pembangunan. Islam sangat memperhatikan kesehatan dalam semua aspek kehidupan manusia. Baik dalam perkara ibadah: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” (Al-Maidah: 6), mencari rezeki yang halal dan menyehatkan (An-Nahl: 114), larangan mengkonsumsi makanan yang berbahaya (Al-Maidah: 3).

Begitu lengkap pola hidup sehat Nabi Saw. Di pagi hari, beliau menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan gigi. Membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli. Di waktu duha (pagi menjelang siang), Rasulullah Saw senantiasa mengonsumsi tujuh butih kurma ajwa’ (matang). Menjelang sore hari, menu beliau biasanya adalah cuka dan minyak zaitun. Di malam hari, menu utama Rasulullah adalah sayur-sayuran dan tidak langsung tidur setelah itu, serta melarangnya umatnya untuk begadang. Rasulullah Saw pun sering menyempatkan diri untuk berolahraga.

Keluarga

Pepatah Arab mengatakan, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak”. Pepatah ini menunjukkan betapa pentingnya institusi keluarga dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Lingkungan keluarga adalah tempat tumbuhnya kasih sayang, nilai-nilai moral, agama, dan kemanusiaan.

Maka tidaklah berlebihan jika Nabi Saw bersabda “Rumahku adalah surgaku”, karena keluarga adalah “batu pertama” dalam bangunan masyarakat muslim, yang melahirkankasih sayang, ketenangan, kedamaian, dan keharmonisan. Keluarga yang mempunyai visi misi rabani. Visi menggapai rida Allah dan misi keluarga sakinah yang berlandaskan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan Islam.

Oleh itu, Nabi Saw memberikan tips terbaik dalam memilih pasangan hidup melalui hadis beliau, “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung” (HR. Bukhari dan Muslim). Wanita yang mampu menjaga kehormatan dirinya, suaminya, harta dan keluarganya. Wanita yang memperhatikan apa yang menjadi konsumsi keluarganya dari makanan yang diharamkan Allah Swt.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali berkata, “Ketahuilah, anak kecil adalah amanah. Hatinya yang suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa aja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan. Jika dibiasakan dan diajarkan kejahatan, dia akan tumbuh dalam kejahatan”.

Ekonomi

Dalam perspektif Islam, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya mementingkan unsur materi tetapi juga menekankan pada unsur spritual. Kecerdasan spritual akan melahirkan kesalehan sosial yang mengantarkan kepada ‘al-falah' atau kemenangan yang hakiki. Kesuksesan yang lahir dari kejujuran, keadilan dan kesejahteraan bersama, bukan kesuksesan yang berdiri tegak di atas penderitaan orang orang lain. Keuntungan yangmerusak lingkungan, kesejahteraan yang membuat jurang kecemburuan dan kesenjangan sosial semakin dalam.

Teori bahwa “Puncak keinginan konsumen adalah mendapatkan kepuasan” dan teori bahwa “ Puncak keinginan produsen adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya” tanpa ada batasan dan panduan yang jelas harus dikoreksi dan diperbaiki.

Maka Nabi Saw mengajarkan kepada para sahabatnya nilai-nilai kejujuran dalam berbisnis. Menyampaikan kualitas barang dengan benar, adil dalam menimbang, mengambil keuntungan yang wajar dan tidak berlebih-lebihan, tidak bersumpah palsu, tidak menimbun barang, bersikap ramah dengan pembeli, tidak menjual barang atau jasa yang haram, tidak menjelek-jelekkan dagangan orang lain, memberikan upah karyawan tepat waktu, tidak melupakan ibadah, dan masih banyak lagi.

Pembangunan dalam Islam adalah pembangunan yang menyeluruh “at-tanmiyah asy-syumuliyah”. Termasuk dalam hal ini adalah pembangunan manusia itu sendiri. Pembangunan yang berdasarkan konsep rabani. Konsep yang tidak hanya terpaku kepada pembangunan aspek keduniaan dan materi saja, tetapi juga aspek ruhiyah dan akhirat.

Islam tidak pernah memisahkan keduanya. Konsep yang mengajak kepada keadilan dan keseimbangan antara kepentingan individu tanpa melupakan kepentingan bersama. Konsep yang menolak keras pembangunan yang hanya mengayakan sebagian golongan kecil dan memiskinkan golongan lainnya.

Konsep yang menghadirkan rasa tanggung jawab. Keseimbangan dan keselarasan antara ruh dan jasad, antara ilmu dan akhlak, akan melahirkan keberkahan yang dijanjikan Allah Swt dalam firmanNya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).

Rasulullah Saw melarang untuk mengonsumsi khamr, maka kaum Muslimin saat itu di Madinah menumpahkan seluruh khamr yang mereka miliki sehingga membuat jalanan di kota Madinah basah dengan tumpahan khamr.

Islam datang mengajarkan bahwa kehidupan yang sebenarnya bukanlah saat di dunia. Kekayaan yang sebenarnya bukanlah yang dimiliki saat ini. Jabatan dan kuasa hanyalah titipan yang akan hilang berganti dengan kelemahan dan ketidakberdayaan. (*)

 

 

Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA