Sabtu, 23 Maret 2019
17 Rajab 1440 H
x

Pintu Kaca Zakat

Selasa, 18 Desember 2018 04:12
FOTO | Dok. Pribadi
Ada tiga tipe penyaluran dana zakat oleh Baznas, yaitu pendistribusian, pendayagunaan, dan pemberdayaan. Ketiganya disesuaikan dengan kebutuhan mustahik di lapangan.

Oleh: Taris | Kepala Bagian Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi Baznas 


Yang tergambar ketika membaca kata pintu kaca adalah sebuah pintu transparan dan aman. Publik bisa melihat isi ruangan tersebut tanpa harus berpayah-payah masuk ke dalamnya. Atau bagi publik yang ingin melihat lebih detail dapat masuk dan bertanya kepada pengelola ruangan tersebut.

Demikianlah ilustrasi atas keberadaan Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi (PID) Baznas. PID mengelola sebuah ruangan yang nyaman dan aman, nyaman bagi publik dalam mengakses informasi dan aman bagi lembaga ketika informasi tersebut menjadi bahan konsumsi publik.

Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik, pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa informasi publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan, dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu badan publik yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan badan publik lainnya yang sesuai dengan undang-undang, serta informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) adalah lembaga negara non struktural yang menjalankan amanah undang-undang nomor 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat. Sebagai lembaga publik maka Baznas terikat dengan undang-undang tentang keterbukaan informasi publik. Banyak hal yang ingin diketahui oleh publik tidak saja terkait Baznas secara kelembagaan tetapi juga berkaitan dengan hal-hal seputar pengelolaan dana zakat.

Publik berhak memperoleh informasi atas pengelolaan dana zakat. Apakah dana zakat yang diterima telah disalurkan sesuai dengan ashnaf zakat. Apakah penyaluran zakat hanya sebatas mendistribusikan uang dari muzaki kepada mustahik. Atau adakah mekanisme atau prosedur dari Baznas dalam mendayagunakan dana zakat.

Bahwa zakat selayaknya berkontribusi atas perubahan mustahik, merubah pola pikir dari rasa lemah, malas, dan pesimis menjadi umat pemberdaya. Mutahik harus menjadi manusia seutuhnya, sehat jasmani, ruhani, dan memiliki kemandirian ekonomi.

Selain menjadi rujukan bagi Baznas Provinsi, Baznas Kabupaten/Kota, media informasi Baznas menjadi referensi bagi pengelola zakat seperti Lembaga Amil Zakat dengan berbagai tingkatannya dan bagi pemerhati zakat lainnya.

Untuk pendalaman informasi, publik dapat mengajukan permohonan informasi dengan cara mengisi formulir yang telah tersedia di menu PID Baznas. Bahkan publik dapat bertemu langsung kepada narasumber untuk melakukan wawancara ataupun pendalaman atas sebuah informasi.

Menjelang akhir bulan desember tahun 2018 tercatat ada 85 permohonan informasi dari sejumlah perguruan tinggi. Pengelola Informasi Baznas melayani pengajuan tersebut dalam bentuk penyediaan dokumen soft copy, wawancara dengan narasumber, dan kunjungan ke program Baznas, di lokasi yang mudah dijangkau seperti layanan kesehatan yang berada di wilayah Menteng, Jakarta Pusat.

Sejak tahun 2001 Baznas telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola zakat berdasarkan undang-undang nomor 38 tahun 1999 yang saat ini telah diamandemen menjadi UU No.23 tahun 2011. Berbekal pengalaman selama tujuh belas tahun maka sudah banyak kegiatan dan terobosan yang dilakukan oleh Baznas.

Pendistribusian dan Pendayagunaan

Baznas bekerja dengan beragam inovasi dalam upaya memaksimalkan pendayagunaan dana zakat. Bahwa penyaluran zakat tak hanya sebatas mendistribusikan zakat dari muzaki kepada mustahik.

Dalam pengelolaan zakat Baznas membaginya menjadi dua arus utama, yaitu bersifat pendistribusian dan bersifat pendayagunaan. Baznas dalam hal ini amil zakat atau petugasnya wajib menelaah dan memutuskan apakah menyalurkan dalam bentuk pendistribusian atau pendayagunaan.

Penyaluran dalam bentuk pendistribusian paling tidak disandarkan kepada situasi dan keadaan mustahiknya. Misal untuk mustahik korban bencana alam atau bencana sosial maka penanganannya adalah dengan penyaluran yang bersifat pendistribusian atau konsumtif. Atau jika kondisi mustahiknya lemah secara fisik misalnya orang tua yang sudah uzur. Demikian juga dengan hal-hal yang mirip dengan hal tersebut yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pembinaan secara ekonomi.

Sedangkan dalam hal pendayagunaan, dana zakat dioptimalkan sebagai instrumen yang dapat menggerakkan pemberdayaan mustahik. Misalkan kepada mustahik yang sehat, dalam usia produktif dan berada dalam situasi yang aman dan kondusif. Kepada mereka Baznas melakukan pembinaan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian. Mereka diberikan modal kerja, modal usaha, dan sejumlah pelatihan yang disesuaikan dengan kemampuan dan bakat yang mereka miliki.

Di antara bentuk penyaluran dalam pendistribusian adalah dalam bentuk layanan kesehatan, respon kebencanaan dan bantuan kebutuhan hidup dasar. Rumah Sehat Baznas atau RSB menjadi salah satu contoh pendistribusian bentuk layanan kesehatan Baznas.

Mustahik dapat memperoleh fasilitas kesehatan secara gratis, jika penyakit yang diderita tak bisa ditangani langsung oleh RSB, maka dokter yang menangani akan memberikan rujukan kepada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, bahkan mustahik dapat didampingi ke rumah sakit besar seperti RSCM.

Potensi bencana cukup besar di Indonesia seperti banjir, tanah longor, gempa, letusan gunung berapi,dan tsunami. Dalam keadaan bencana tersebut dibutuhkan reaksi cepat untuk penangan pertama, Baznas telah memainkan peranannya dalam situasi tersebut, hadir secepat mungkin, quick response. Melalui program Baznas Tanggap Bencana (BTB) aktifitas Baznas di wilayah bencana telah mendapat apresiasi dari masyarakat.

Dalam situasi tersebut dana zakat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan dasar para korban, seperti pemberian makanan, minunan, susu bagi balita, dan kebutuhan konsumtif lainnya. Nanti setelah situasinya kondusif, artinya masyarakat kondisi telah normal dan trauma bencana sudah hilang, maka fase selanjutnya adalah pemulihan ekonomi masyarakat. Kegiatan pemulihan ekonomi akan dituangkan dalam bentuk pemberdayaan atau pendayagunaan zakat.

Penyaluran dalam bentuk pendayagunaan zakat sebagai upaya Baznas dalam mengurangi angka kemiskinan. Di antara kegiatannya adalah Baznas memberikan sejumlah pelatihan, pembinaan dan pemberian hewan ternak kepada mustahik. Selain meningkatkan keterampilan, mustahik juga diberikan jalan untuk pemasaran produk yang dihasilkan.

Misalnya ketika tiba masa ibadah kurban, maka Baznas mendorong para pekurban untuk membeli hewan kurban kepada peternak binaan Baznas, bahkan hewan kurban itu sendiri didorong supaya disembelih di lokasi peternak binaan Baznas. Sehingga manfaatnya tidak hanya secara ekonomi juga terjadinya peningkatan gizi dan kualitas hidup mustahik.

Ruang Lingkup Pemberdayaan

Ruang lingkup pemberdayaan tidak hanya untuk mustahik yang bersifat individu, tetapi juga menyasar kepada mustahik komunal atau kelompok. Kegiatan tak hanya melingkupi masyarakat miskin di pedesaan, tetapi juga menyisir nelayan di pesisir, dan masyarakat miskin di perkotaan.

Dana zakat diolah sedemikian rupa sehingga menjadi pengerak roda ekonomi keluarga dhuafa atau mustahik. Pembinaan ini dituangkan dalam bentuk Zakat Community Development atau pemberdayaan masyarakat berbasis zakat.

Dalam praktiknya pembinaan tak hanya melulu dibidang ekonomi, tetapi juga ada pembinaan secara rohani sehingga mentalnya berubah menjadi mental yang kuat, mandiri. Mustahik juga dibina dalam aspek lain misalnya penyuluhan tentang kesehatan, ramah terhadap lingkungan dan terbuka kepada ilmu pengetahuan, atau melek teknologi.

Ibarat sebuah pintu kaca, publik dapat melihat pengelolaan zakat oleh Baznas secara transparan. Publik dapat memilih apakah cukup melihat secara sepintas atau melihat secara detail, mereka bisa melihat lebih dekat melalui beragam media yang telah Baznas sediakan, baik melalui situs maupun media sosial Baznas lainnya. (*)

 

Taris