Selasa, 23 Juli 2019
21 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Kamus / Pinjaman Riba

Pinjaman Riba

Selasa, 1 Januari 2019 05:01
FOTO | Dok. fakta.news
Ada empat syarat pinjaman disebut riba. Apa saja empat syarat tersebut dan bagaimana rumus implikasi praktik akad muamalahnya, sehingga memenuhi kriteria riba?

Sharianews.com. Seringkali saya temukan orang yang mendefinisikan bahwa setiap kelebihan atas pinjaman disebut Riba. Padahal, tidak seperti itu rumus tentang Riba. Berikut ini adalah rumusan pinjaman yang tidak mengandung riba dan pinjaman yang mengandung riba.

Kitab I'anah ath Thalibin Juz 3 halaman 53 menyatakan bahwa

واما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

"Adapun (ketika ada akad) Qardh (Pinjaman) yang bersyarat aliran mamfaat bagi pemberi pinjaman, maka (akad tersebut) fasid (rusak atau batil), berdasarkan khabar (Hadits Dhoif) bahwa setiap pinjaman yang mengalirkan manfaat adalah Riba."

Itulah definisi Pinjaman yang masuk kategori Riba. Saya ulang, ada 4 ciri Pinjaman yang masuk kategori Riba, yakni ketika ada (1) Pinjaman, (2) Bersyarat, (3) Aliran Manfaat, (4) Bagi Pemberi Pinjaman. Keempat syarat itu harus terpenuhi, jika Pinjaman ingin disebut ada Riba.

Perhatikan rumus berikutnya, ketika ada 1 saja unsur yang tidak terpenuhi dari 4 hal tersebut, jangan sebut ia Riba dalam Pinjaman.

Contoh pertama, ketika ada (1) Pinjaman, (2) TIDAK Bersyarat, (3) Aliran Manfaat, (4) Bagi Pemberi Pinjaman, hal ini malah dianjurkan Rasulullah SAW bahwa ketika Anda pinjam sesuatu, berikan kelebihan dalam pengembalian, asalkan tidak dipersyaratkan oleh Pemberi Pinjaman. Kelebihan pengembalian yang dianjurkan Rasulullah SAW ini bisa dari sisi kualitas, bisa dari sisi kuantitas.

Untuk skema transaksi ini, hindari conflict of interest, misalnya grativikasi atau sejenisnya. Namun, hukum asal dari transaksi ini adalah dianjurkan Rasulullah SAW, asalkan tidak dipersyaratkan dan tidak muncul konflik kepentingan.

Contoh penerapan lain dari skema tersebut bisa ditemui di Lembaga Keuangan Syariah yakni skema bonus dalam tabungan atau giro wadiah yad dhamanah (pinjaman). Pihak nasabah tidak mensyaratkan agar Bank Syariah harus memberikan kelebihan dalam pengembalian pokok tabungannya.

Namun, Bank Syariah ikut anjuran Rasulullah SAW yakni memberikan kelebihan pengembalian dalam pinjaman dalam bentuk Wadiah. Kalau ada kampanye gunakan tabungan wadiah namun melarang menerima bonusnya, ini tampak gak sempet tahu kalau justru bonus tersebut adalah dalam rangka Bank Syariah meniru ajaran Rasulullah SAW.

Denda telat bayar bukan riba

Contoh kedua, ketika ada (1) Pinjaman, (2) Bersyarat, (3) Aliran Manfaat, (4) Bagi SELAIN Pemberi Pinjaman. Penerapannya, misalnya ada Pinjaman (skema Pinjaman ya, bukan skema Dagang) yang bersyarat jika Peminjam (Nasabah) lalai (tidak tanggung jawab, tidak amanah dengan telat bayar) dan dikenakan denda telat bayar, maka skema ini bukan bab Riba, namun bab sanksi (ta'zir).

Apalagi, denda telat bayar tersebut oleh Bank Syariah tidak diakui sebagai Pendapatan yang artinya disalurkan kepada pihak lain dalam pos dana sosial dan dana kebajikan. Dengan demikian skema ini memang bukan bab Riba, yakni bab Sanksi, diperkuat lagi dengan fakta bahwa dana denda tidak diambil Peminjam.

Terkait denda alias sanksi bagi nasabah yang tidak amanah tersebut bisa menjadi Riba jika transaksi yang mendahuluinya adalah Pinjaman dan dana denda diambil sebagai pendapatan pemberi pinjaman. Bank Konvensional menerapkan skema ini sehingga valid Riba. Namun, di Bank Syariah, denda ini bukan dari transaksi pinjaman dan tidak diakui sebagai pendapatan sehingga makin valid bukan bab Riba.

Perhatikan, denda di Bank Konvensional dan di Bank Syariah, sama-sama ada denda, tapi alurnya sangat beda dan peruntukan dananya sangat berbeda.

Demikian uraian tentang definisi Pinjaman Riba dan Pinjaman Bukan Riba serta contoh penerapannya. Semoga manfaat dan barakah. Amin. Wallahu a'lam.

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin