Rabu, 27 Oktober 2021
21 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Sharia insight / Pinjaman Online & Skenario Hutang yang Meresahkan
Situasi ekonomi sedang sulit karena pandemi, banyak orang kehilangan pekerjaan dan banyak usaha yang ambruk. Tidak sedikit yang butuh uang sekedar untuk makan, sewa rumah, atau bayar anak sekolah dengan jalan singkat yaitu pinjaman Online. Hal yang sangat instan dan memberikan dampak yang berlapis bagi kehidupan ekonomi masyarakat apabila hal ini tidak diperhitungkan dengan baik.

Sharianews.com, Seseorang butuh uang mendesak. Dia meminjam uang ke platform pinjaman online (pinjol), rencananya sebesar 3 juta.

Dia diminta mengisi data. Setelah data terisi, muncul informasi bahwa jumlah maksimal pinjaman adalah 5 juta.

Dia tetap memilih meminjam 3 juta saja, karena memang hanya perlu sebanyak itu. Tenor yang diberikan adalah 91 hari. Setelah mengisi jumlah yang dipinjam, muncul satu halaman dengan satu tombol pinjaman sekali klik. Tombol ini plot twist-nya.

Tombol ini ternyata menghubungkan aplikasi yang sedang digunakan dengan puluhan aplikasi lainnya yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh peminjam.

Setelah tombol pinjaman sekali klik itu ditekan, muncul informasi bahwa pengajuannya telah disetujui juga di belasan aplikasi lain, total pinjaman menjadi 24 juta tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Ajaibnya, tiba-tiba uang itu sudah masuk ke rekening peminjam. Ternyata, sekali saja peminjam isi data, pinjaman dari banyak aplikasi lain juga ikut cair. Di sinilah jebakannya.

Jadi, niat pinjam hanya 3 juta, yang dikirim pinjol 24 juta. Tidak hanya sampai di situ, tenor yang tadinya 91 hari, berubah menjadi hanya 7 hari setelah dana ditransfer. Tagihannya sendiri adalah 32 juta.

Singkat cerita, merasa tertipu, dia kembalikan pinjaman yang telah ditransfer sebesar 24 juta. Tapi ternyata tidak semudah itu. Pinjaman telah berbunga. Pinjaman riba yang terus berbunga bertambah menjadi 140juta dan terus bertambah sampai 200 juta. Pinjaman ternyata menjadi perampasan.

Peminjam terus diintimidasi dan diteror. Pinjol mengancam akan menyebar data pribadi peminjam dan memproses kasus secara hukum.

Ajaibnya, pinjol bisa mengakses seluruh kontak handphone peminjam. Pinjol menghubungi daftar kontak peminjam satu per satu. Alasannya, karena handphone peminjam tidak bisa dihubungi. Lebih luar biasa lagi, pinjol juga bisa mengakses galeri foto yang ada di ponsel tersebut. subhanallah.

Terlepas dari itu, kita doakan semoga Allah swt memberikan kemudahan bagi yang sedang dililit hutang. Rasulullah Saw mengajarkan kita sebuah doa agar terhindar dari hutang yang menyulitkan, yaitu:

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang (HR. Al-Bukhari Muslim)

Memang situasi ekonomi sedang sulit karena pandemi. Banyak orang kehilangan pekerjaan. Banyak usaha yang ambruk. Tidak sedikit yang butuh uang sekedar untuk makan, sewa rumah, atau bayar anak sekolah.

Situasi ini dimanfaatkan oleh pinjol, khususnya yang ilegal. Tawaran pinjol ilegal bertebaran dimana-mana, via SMS, WA, youtube, dan lainnya. Kemudahan pinjaman jadi jebakan, tanpa agunan, tanpa BI-checking. Cukup mengisi formulir dan foto KTP, pinjaman langsung cair ke rekening pribadi dalam waktu kurang dari satu hari.

Atas dasar ini, penulis berpendapat ada empat hal yang perlu diperhatikan. Pertama, untuk yang sedang kesulitan finansial, minta solusi dari Allah Swt. Jauhi maksiat, banyak istighfar, tingkatkan ibadah. Jaga shalat. Jaga waktunya, jaga kualitasnya. Insya Allah selalu ada jalan bagi orang bertaqwa.

Menghindari utang adalah ajaran Islam. Hutang membuat jiwa yang merdeka jadi terbelenggu. Jangan mudah berhutang, apalagi untuk keperluan konsumtif yang kurang penting. Rasulullah Saw hanya berhutang bila terdesak. Beliau Saw tidak berhutang untuk membeli barang-barang mewah, melainkan beliau berhutang untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.

“Sesungguhnya Rasulullah Saw pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.” (HR Bukhari Muslim)

Oleh sebab itu, kalaupun harus berhutang, carilah pinjaman yang halal, jangan yang riba. Tidak perlu malu meminta tolong kepada keluarga atau teman. Itu lebih baik daripada pinjaman riba dari orang yang tidak dikenal.

Kedua, bagi yang sedang memiliki kelapangan harta, harus dipahami bahwa pinjaman tidak boleh dibisniskan. Sebab, yang meminjam biasanya sedang kesulitan. Dia harusnya dibantu, bukan 'dimanfaatkan' untuk mencari keuntungan.

Itu sebabnya dalam agama, pinjaman adalah akad sosial, bukan komersial. Pinjaman disebut sebagai qardhul hasan, pinjaman kebaikan. Hanya orang baik yang mau memberikan pinjaman tanpa tambahan. Utang sama dengan piutang. Pinjam sejuta kembali sejuta. Lebihan yang dipersyaratkan adalah riba yang dilaknat Allah SWT dan Rasul-Nya.

“Rasulullah Saw melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau bersabda, “mereka semua sama.” (HR Muslim)

Ketiga, kita berharap semoga pemerintah juga dapat mendistribusikan bantuan sosial (Bansos) dengan amanah. Itu cukup membantu masyarakat yang sedang kesulitan di saat ekonomi melambat seperti sekarang ini. Keempat, sehubungan belum ada regulasi yang memadai mengenai pinjol seperti ini, kita harap pihak yang berwenang, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dapat menertibkan pinjol yang sudah cukup meresahkan masyarakat ini. Wallahua'lam.


Oleh : Khalifah Muhamad Ali

Tags: