Sabtu, 8 Mei 2021
27 Ramadan 1442 H
Home / Lifestyle / Pesantren Berperan Penting Menciptakan SDM di Bidang Fesyen
Meningkatkan potensi santri ponpes sebagai SDM sektor fesyen yang profesional diperlukan

Sharianews.com, Jakarta - Pondok pesantren (ponpes) berperan penting dalam menciptakan SDM yang terampil dan inovatif menghasilkan produk fesyen, mulai dari tekstil sampai busana siap pakai yang berkualitas tinggi. Maka dari itu, meningkatkan potensi santri ponpes sebagai SDM sektor fesyen yang profesional diperlukan.

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten bersama Fashion Designer Wignyo menyelenggarakan Program Pelatihan dan Pengembangan Tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Khas Leuwidamar Lebak di ponpes wilayah Lebak, Banten.

Kepala KPw BI Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan tujuan penyelenggaraan pelatihan menenun ini meningkatkan potensi santri ponpes sebagai SDM sektor fesyen yang profesional di Provinsi Banten, termasuk di Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Dalam rangka pengembangan kain tenun di Banten, BI Banten akan terus membina dan mengembangkan tenun ATBM, termasuk memperkaya motif tenun di Banten, selain tenun yang sudah heritage yaitu Tenun Baduy.

“Kami akan terus kembangkan tenun ATBM dengan motif khas Leuwidamar Lebak, dan akan memperkenalkannya kepada masyarakat luas terkait seni kreatif kain tenun di Banten,” katanya belum lama ini.

Sementara itu, Ketua Bidang Wirausaha Baru Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Endang Sri Hariatie Budi Karya menyatakan bahwa pelatihan tenun ATBM ini sejalan dengan upaya dan misi Dekranas yaitu menyiapkan regenerasi perajin yang unggul dan berdaya saing serta sejalan dengan program pelatihan kerajinan kriya yang dimiliki oleh Dekranas.

Dekranas mendukung kegiatan pelatihan ini sebagai upaya mengembangkan kemandirian ekonomi Indonesia dan berharap dapat menumbuhkembangkan wirausaha baru di daerah, termasuk Provinsi Banten.

“Semoga kegiatan ini dapat meningkatkan pengembangan produk kain tenun di Kabupaten Lebak, dan pelaku usahanya semakin mandiri. Kami berharap Tenun Lebak ini bisa lebih berkembang lagi dan bisa bersaing di pasar nasional hingga internasional,” imbuhnya.

Wignyo menjelaskan, Desa Leuwidamar hanya berjarak waktu tempuh 45 menit dari Baduy. Namun, masyarakat Desa Leuwidamar tidak mengenal tradisi menenun, berbeda dengan Baduy yang dikenal dengan hasil kerajinan tenun gedog.

Dengan pelatihan tenun ATBM ini diharapkan dapat menjadikan sentra tenun baru di Kabupaten Lebak, selain sentra tenun Baduy, sehingga dapat mengembangkan kain tenun asal Lebak.

Untuk menjaga eksistensi tenun Baduy, sesuai arahan Bupati Kabupaten Lebak, Iti Octavia Jayabaya, kelompok tenun yang baru di Leuwidamar ini tidak memakai nama Tenun Baduy, melainkan menggunakan nama Tenun Lebak dengan membuat dan mengembangkan motif-motif baru sebagai motif tenun khas Lebak.

“Alhamdulillah, 20 santri dan masyarakat sekitar pondok pesantren yang menjadi peserta pelatihan sangat bersemangat untuk terus mengerjakan tugas-tugas dari para instruktur, sehingga pelatihan selama 26 hari kerja ini dapat menghasilkan 12 potong kain tenun,” kata Wignyo.

Penyelenggaraan Program Pelatihan dan Pengembangan Tenun ATBM Khas Leuwidamar Lebak ini ditargetkan tak hanya dapat meningkatkan kompetensi perajin tenun kemandirian ekonomi pesantren, melainkan dapat turut menunjang sektor pariwisata Provinsi Banten. Dengan telah dilaksanakan pelatihan ini diharapkan dapat terbentuk Kelompok Tenun Banten yang menjadi andalan Local Economic Development (LED) Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten

Rep. Aldiansyah Nurrahman