Kamis, 18 Juli 2019
16 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Sharia insight / Perusahaan dan Produksi dalam Rumah Tangga
Dok/Foto Rohman Sharianews
Secara umum, makna produksi sering dikaitkan dengan sebuah proses pengolahan input untuk menghasilkan output.

Sharianews.com, Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari kumpulan individu yang sudah membentuk organisasinya sendiri.

Laki-laki dalam sebuah rumah tangga, dalam hal ini adalah seorang ayah, bertindak sebagai pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab membawa dan menjaga keluarganya hingga di hari akhir kelak. Tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah rumah tangga Muslim adalah berbondong-bondong masuk ke surga.

Organisasi rumah tangga ini pada dasarnya dapat bertindak seperti sebuah perusahaan. Salah seorang professor sosiologi, Siegwart M. Lindenberg, mengungkapkan bahwa rumah tangga dapat bertindak seperti perusahaan yang mampu berproduksi.

Secara umum, makna produksi sering dikaitkan dengan sebuah proses pengolahan input untuk menghasilkan output. Sebagaimana sebuah perusahaan, maka sebuah organisasi rumah tangga juga sangat membutuhkan tata kelola yang baik agar mampu bertahan hidup di tengah masyarakat yang beragam, atau disebut juga dengan “going concern”.

Layaknya sebuah perusahaan, maka organisasi rumah tangga ini mempunyai empat potensi sumberdaya yang perlu dikelola dengan baik, yaitu sumberdaya manusia, sumberdaya keuangan, sumberdaya produksi/operasi, dan sumberdaya pemasaran.

Keempat potensi sumberdaya tersebut jika dikelola dengan baik maka tujuan utama yang ingin dicapai akan terwujud, insyaAllah, dengan ridho dan izin Allah.

Sumberdaya pertama adalah sumberdaya manusia. Sebuah produksi, menurut Monzer Kahf, tidak hanya terkait dengan hal material semata, yaitu barang dan jasa, melainkan juga sangat terkait dengan moralitas, baik sebagai input maupun output dari suatu proses produksi.

Kedua tokoh ekonomi dunia, Lindenberg dan Kahf, tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa rumah tangga merupakan unit terkecil dan terpenting yang mampu membentuk moralitas dalam masyarakat. Pembentukan moralitas sangat terkait dengan pendidikan, sehingga pendidikan menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhitungkan secara matang oleh sebuah organisasi rumah tangga.

Sebuah perusahaan akan menginvestasikan sumberdaya manusianya melalui program-program pelatihan dan pengembangan karir. Demikian pula yang harus dilakukan oleh sebuah organisasi rumah tangga, yaitu menginvestasikan para anggota dalam rumah tangga dengan pendidikan yang layak dan selaras dengan tujuan rumah tangga.

Terdapat dua bentuk pendidikan yang sudah dikenal di masyarakat, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal dapat ditempuh melalui pendidikan di sekolah ataupun home-schooling berkurikulum. Sementara pendidikan non-formal dapat diperoleh melalui pembinaan softskill para anggota organisasi rumah tangga. Pembinaan tersebut meliputi seperti memasak dan menjahit bagi seorang ibu dan para putrinya, pertukangan dasar bagi seorang ayah dan para putranya, serta softskill lainnya seperti berkomunikasi yaitu dengan membudayakan kebiasaan berdiskusi dan berkoordinasi antar anggota organisasi rumah tangga.

Sumberdaya kedua adalah sumberdaya keuangan. Terdapat dua jenis sumberdaya keuangan jika dilihat dari asalnya, yaitu internal dan eksternal. Sumberdaya keuangan internal dapat diperoleh melalui bekerja dan membuka usaha.

Sebuah organisasi rumah tangga sudah selayaknya memprioritaskan sumberdaya keuangan internal dibandingkan dengan eksternal untuk pemenuhan berbagai keperluan. Cost yang dibiayai dari kantong sendiri terasa lebih melegakan dan tidak menyusahkan. Jangan sampai sebuah organisasi rumah tangga merasa sangat sempit jika tidak mendapatkan sumberdaya keuangan eksternal.

Misalnya, berutang, jangan sampai sekali berutang akan diikuti dengan utang-utang berikutnya sehingga menyebabkan rumah tangga tersebut sangat ketergantungan dengan utang. Sekilas, dalam jangka pendek, kebutuhan hidupnya akan selalu dapat dipenuhi dengan bantuan sumberdaya keuangan eksternal. Padahal, mengoptimalkan sumberdaya keuangan internal yang dimiliki merupakan suatu bentuk rasa syukur. Salah satu wujud syukur adalah merasa cukup dengan yang dimiliki (qanaah).

Sumberdaya ketiga adalah sumberdaya produksi/operasi. Jika prinsip qanaah yang dianut, maka sebuah organisasi rumah tangga akan selalu merasa cukup dengan ketersediaan input dan mengoptimalkan input yang ada untuk menghasilkan output yang berkualitas dan sesuai tujuan yang diinginkan.

Mindset ini lebih dikenal luas dengan istilah kreatifitas, yaitu memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk menghasilkan sesuatu yang lebih bernilai. Konsep ini juga dapat diterapkan dalam sebuah organisasi rumah tangga. Sebagai contoh, dengan bahan makanan yang tersisa mampu membuat hidangan yang mampu memuaskan seluruh anggota organisasi rumah tangga. Dengan input yang terbatas baik dari segi kuantitas ataupun kualitas, rumah tangga perlu beranggapan selalu bisa menghasilkan suatu output yang bernilai, yaitu melalui dukungan dan pembinaan akhlak dan akidah yang baik.

Sumberdaya keempat adalah sumberdaya pemasaran. Sumberdaya ini harus dilekatkan dengan ridho Allah, yaitu bagaimana output yang dihasilkan oleh sebuah organisasi rumah tangga mampu meraih ridho dan rahmat dari Allah.

Seorang ayah harus mampu membina, mengarahkan, dan menjaga setiap anggota rumah tangga agar menghasilkan output yang dapat dipertanggungjawabkan dan menggapai kecintaan Allah atas rumah tangganya. “Customer” yang sedang kita coba tarik perhatianNya adalah Allah, meskipun Allah sendiri tidak butuh apapun dari kita, namun perhatianNya sangat dibutuhkan oleh sebuah organisasi rumah tangga Muslim, secara spesifik oleh para anggota rumah tangga. Dengan demikian, setiap anggota akan bekerja sama, berkoordinasi, bersinergi untuk mencapai keridhoan Allah.

Demikianlah sebuah organisasi rumah tangga Muslim seharusnya mampu dijalin. Input atau sumberdaya yang dimiliki harus disyukuri bahkan berupaya untuk menghasilkan output yang bernilai agar mampu menarik perhatian Allah untuk memberikan ridho-Nya. Wallahua’lam bishshowab.

 

Penulis adalah Sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi Syariah, FEM, IPB

 

 

Laily Dwi Arsyianti

Tags: