Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO | Dok. kompasiana.com
Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata memajukan negara anggota OKI di semua sektor, termasuk kesehatan.

Sharianews.com, Jakarta. Badan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan otoritas badan obat anggota negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI), mulai hari ini hingga 22 November 2018, akan menggelar rangkaian pertemuan bertajuk, the 1st Meeting of the Heads of National Medicines Regulatory Authorities (NMRAs) di Jakarta.

Menteri Kesehatan, Kepala BPOM RI, dan perwakilan Sekretariat OKI secara resmi membuka Pertemuan Kepala Otoritas Regulatori Obat yang dihadiri oleh 32 negara anggota OKI, institusi OKI, mitra pembangunan internasional (WHO, UNICEF dan IDB), serta asosiasi industri farmasi dan vaksin dari negara anggota OKI.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito mengatakan, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, berkomitmen untuk memberikan kontribusi nyata memajukan negara anggota OKI di semua sektor, termasuk kesehatan. Kerjasama Indonesia sebagai salah satu anggota OKI merupakan solidaritas kemanusiaan yang sangat menyentuh hati Umat Islam, termasuk pengakuan Indonesia atas kemerdekaan Palestina.

Forum bisnis, pameran hingga seminar

Rangkaian sesi acara NMRAs, yang akan berlangsung hingga 22 November 2018, ini akan diisi dengan pameran, forum bisnis, hingga seminar-seminar, termasuk membahas segala sesuatu tentang vaksin hingga kehalalannya.

"Salah satu sesi seminar membahas bagaimana membangun regulasi yang baik tentang vaksin halal,"katanya usai pembukaan seminar side event NMRAs, di Jakarta, Selasa (21/11).

Dijelaskan olehnya, program vaksin di negara-negara muslim berbeda-beda, karena itu Indonesia akan mendengarkan pemaparan pengalaman negara-negara Islam anggota OKI dalam melaksanakan luasan cakupan program vaksinasi di negaranya.

Lewat pemaparan tersebut, nantinya Indonesia bisa belajar dari negara-negara anggota OKI, apalagi selama ini cakupan pemberian imunisasi campak rubela (Measles Rubella/MR) di Indonesia belum maksimal, sehingga nantinya Indonesia bisa mendapat gambaran bagaimana menyelesaikan masalah vaksinnya, termasuk memperbaiki pola edukasi dan komunikasi dengan masyarakat untuk memperluas cakupan program imunisasi.

"Dengan berbagi cerita, mudah-mudahan kita bisa belajar dari sana, termasuk bagaiman memperluas cakupan pelayanan imunisasi," ujarnya.

Program vaksin halal

Isu lain yang menjadi agenda pembicaraan di even NMRAs kemungkinan Indonesia berkolaborasi untuk membangun vaksin halal dan membuat produk obat maupun vaksin yang baru. Kerjasama tersebut diharapkan dapat dilakukan untuk pengembangan produk baru bersama-sama atau produk vaksin jenis tertentu yang belum dapat diproduksi di kawasan OKI.

“Kita bisa piloting bersama-sama, dan diharapkan juga dapat meningkatkan pengembangan produk obat biologi, dan bioteknologi, serta obat bahan alam (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka), terlebih dengan kekayaan keanekaragaman alam Indonesia.”kata Kepala BPOM RI seperti dikutip dari laman resmi BPOM RI (www.pom.go.id).

Karena itu, ke depannya BPOM akan membuka diri guna memfasilitasi pembuatan vaksin halal, termasuk melakukan piloting researcher di negara-negara anggota OKI tersebut, sehingga ke depan lewat forum tersebut ada harapan untuk Indonesia yang lebih baik.

Sebagai informasi, hingga saat ini 30 negara dari 57 negara anggota OKI telah hadir di Tanah Air. Sementara acara utama NMRAs akan digelar selama dua hari yaitu 21 November 2018-22 November 2018. Dijadwalkan Presiden Indonesia Joko Widodo akan menghadiri acara utama dan membuka acara utama tersebut. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Ahmad Kholil