Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. Ahmad Arif Sharianews.com
Asisten Manajer Divisi Pasar Modal Syariah, Bursa Efek Indonesia (BEI), Derry Yustria menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi karena orang yang melakukan investasi bodong, menggunakan pendekatan personal.

Sharianews.com, Jakarta ~ Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perempuan paling banyak tertipu oleh investasi bodong.

Asisten Manajer Divisi Pasar Modal Syariah, Bursa Efek Indonesia (BEI), Derry Yustria menjelaskan, hal tersebut bisa terjadi karena orang yang melakukan investasi bodong, menggunakan pendekatan personal.

Menurut Derry, sebenarnya perempuan bisa mengetahui dengan mudah mana investasi yang benar dan mana yang tidak.

"Sebenarnya gampang, jika investasi yang benar, dia tidak akan menjanjikan keuntungan. Misalnya ada yang mengajak 'eh, ayo investasi di saya, untungnya lima persen' dibilang pasti untung, tidak pakai 'insyallah', pasti uang Anda dibawa kabur, " katanya menegaskan.

Karena menurut Derry, investasi bukanlah sesuatu yang bisa dipastikan. Harus ada upaya dari diri sendiri agar investasi bisa menjadi optimal.

Kebanyakan masyarakat yang tertipu oleh janji-janji palsu adalah perempuan. Hal tersebut sangatlah berbahaya, karenanya masyarakat harus bisa memilih dan memperhatikan legalitas sebelum berinvestasi.

"Harus tahu, ini kira-kira perusahaannya, pengawasnya siapa," imbuh Derry.

Derry juga mengungkapkan, perempuan sangat penting untuk berinvestasi, ada beberapa faktor yang menjadi alasan. Di antaranya, rata-rata perempuan menjanda pada usia 56 tahun dan perempuan memiliki harapan hidup yang lebih panjang daripada laki-laki.

"Perempuan pasti bergantung pada laki-laki, bahayanya adalah jika laki-lakinya meninggal cepat, ini pasti susah. Maka dari itu, saya mau perlihatkan bahwa perempuan itu penting punya investment," tutur Derry.

Alasan selanjutnya perempuan penting untuk berinvestasi adalah 88 persen perempuan hidup sendiri  pada usia 75 tahun dan 45 persennya hidup dalam keadaan miskin. Kemudian, 64 persen perempuan menggunakan pendapatannya untuk consumer goods, seperti membeli kosmetik. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo