Jumat, 22 Maret 2019
16 Rajab 1440 H
x
-
Transaksi online kian meningkat. Ini tiga alasannya, dan bagaimana cara menghindari penipuan toko online.

Transaksi online kian meningkat. Ini tiga alasannya, dan bagaimana cara menghindari penipuan toko online.

Media internet mengubah banyak hal. Mulai dari derasnya arus informasi hingga meningkatnya jumlah transaksi daring (online). Termasuk belanja online busana muslim(ah).

Menurut dosen ilmu ekonomi syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Jakarta, Euis Amalia, ada beberapa alasan kenapa banyak umat Islam kini cenderung lebih memilih belanja online dibanding pergi ke mall, butik atau toko.

Pertama, toko online mudah diakses calon pembeli melalui gawai, tanpa harus pergi ke suatu tempat. Selain juga memudahkan pemilik toko online dalam menjual barang dagangannya.  

“Perkembangan internet dan teknologi finansial berpengaruh besar dalam menciptakan peluang pasar yang lebih luas. Termasuk pasar busana muslim(ah). Ini mendorong masyarakat merambah dunia online untuk menjual dan membeli produk tertentu,” katanya kepada Sharianews.com.

Kedua, lanjut doktor bidang ekonomi Islam ini, cara pandang masyarakat Islam yang cenderung berubah. Busana muslim(ah) tak lagi hanya dipandang sebagai kewajiban atau identitas agama tapi juga telah menjadi gaya hidup.

“Di toko online mereka menemukan banyak pilihan alternatif yang sesuai dengan kebutuhan fashion mereka.

Ketiga, menurut data Google Indonesia, dari 250 juta penduduk Indonesia sekitar 82 juta atau sekitar 33 persennya menggunakan transaksi online atau teknologi finansial. Jumlah ini, diperkirakan, akan terus meningkat di tahun 2018.

“Dari data itu, 20 persennya adalah perempuan muslimah yang mengunakan teknologi finansial untuk belanja online busana sesuai syariah,” jelasnya.

Tiga Cara Hindari Penipuan

Euis mengakui, belanja online juga memiliki risiko yang besar. Salah satunya adalah banyaknya penipuan (moral hazard). Hal ini, tambahnya, tentu menghambat perkembangan transaksi digital.

Menurutnya, ada tiga cara untuk mengantisipasinya. Pertama, pemerintah, baik Kementerian Perdagangan, Otoritas Jasa Keuangan serta Dewan Syariah Nasional mesti menciptakan regulasi teknologi finansial yang jelas, khususnya yang bernuansa syariah.  

Kedua, lanjutnya, perlu dikembangkan teknologi finansial syariah. Sehingga akad atau kontrak jual-belinya dan barang-barang yang diperjualbelikan juga sesuai syariah.  

Ketiga, pemerintah wajib mendorong kerjasama toko online dengan lembaga keuangan syariah agar transaksi dengan sistem teknologi finansial terus berkembang.

“Jadi, perlu dipikirkan modal pembiayaan untuk mereka yang mau memulai atau mengembangkan bisnis online. Dan yang tak kalah penting sosialisasi teknologi finansial dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mereka,” paparnya.

Ia memprediksi, transaksi online akan terus meningkat. Di antara indikasinya muncul banyak pengusaha muda baru serta tren mode busana yang terus berkembang.

“Bisa jadi Indonesia akan menjadi pusat teknologi finansial syariah di Asia karena pengguna busana muslim(ah) kita paling banyak dan tren fesyen terus berkembang,” pungkasnya.(*)

 

Reporter: Emha Asror. Editor: A.Rifki