Minggu, 20 Oktober 2019
21 Ṣafar 1441 H
Home / Lifestyle / Perempuan Aceh Dilarang Main Sepak Bola, MPU: Bukan Budaya Aceh
FOTO I Dok. ciricara.com
Tgk Faisal Ali menyampaikan, larangan perempuan bermain sepak bola tersebut menyangkut sejumlah alasan, salah satunya soal budaya Aceh.

Sharianews.com, Baru-baru ini provinsi dengan julukan Serambi Mekkah tengah ramai dengan isu dikeluarkannya fatwa yang melarang perempuan Aceh bermain sepak bola. Pelarangan terjadi setelah digelarnya Piala Menpora U-17 sepak bola perempuan di Lhokseumawe pada 30 Juni 2019 lalu, yang akhirnya dikecam oleh sejumlah organisasi Islam dan ulama di Aceh.

Wakil Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisal Ali menyampaikan, larangan perempuan bermain sepak bola tersebut menyangkut sejumlah alasan, salah satunya soal budaya Aceh. Sehingga menurut Faisal apabila sepak bola perempuan tetap dimainkan akan berpotensi menimbulkan kekacauan di kalangan masyarakat.

"Ini landasan secara umum, kami melihat untuk Aceh, permainan sepak bola perempuan adalah sesuatu yang dilarang. Makanya itu jangan dilakukan, karena akan menimbulkan reaksi yang tidak baik dari masyarakat bahkan membuat kekacauan. Kami berharap itu jangan dilakukan. Untuk konteks Aceh itu taraf tidak boleh dilakukan, haram hukumnya," tegas Faisal melansir VOA akhir pekan lalu.

Budaya dari Aceh tersebut muncul bukanlah tanpa landasan. Menurut penuturan Faisal, bermain sepak bola membuat gerak-gerik berlebihan pada tubuh perempuan, dan itu tidak diperkenankan demi menjaganya dari fitnah.

Selain itu mengingat fasilitas dan infrastruktur di Aceh juga tidak tidak mendukung perempuan bermain, seperti belum adanya lapangan yang tertutup.

"Kalau olahraga (sepak bola) itu boleh saja, cuma ketentuannya harus di tempat tertutup, wasit, dan penontonnya juga harus perempuan. Tapi ini tidak ada. Kalau di Aceh ini tidak ada lapangan yang tertutup dan layak untuk perempuan," ungkap dia.

Sementara itu, Ketua Badan Liga Sepak bola Pelajar Indonesia (BLiSPI) Aceh, Ishaq Rizal menanggapi tentang sepak bola perempuan yang ditentang oleh sejumlah organisasi Islam.

Menurut Ishaq, pihaknya sangat menghargai fatwa dari MPU Aceh. Artinya mereka akan patuh dan tunduk terhadap aturan main di suatu daerah.

Ishaq juga mengungkapkan adanya sepak bola perempuan di Aceh sebenarnya bertujuan untuk membina dan mengorganisir atlet wanita agar terarah sesuai syariat Islam. Bukan tidak mungkin sepak bola perempuan yang diikuti wanita Aceh dengan menggunakan hijab dan berpakaian Muslim bisa membawa energi positif seperti halnya yang dilakukan Mohamed Salah di Inggris.

"Kami sangat berempati apabila mereka tampil sehingga ada umpan balik seperti penampilan Mohamed Salah di Inggris. Artinya, dengan kehadiran Salah banyak warga di Inggris yang masuk Islam," tutur Ishaq.

Setelah banyak dikecam oleh ulama di Serambi Mekkah, dalam waktu dekat BLiSPI Aceh akan meminta persetujuan ke pemimpin daerah terkait pengiriman kontingen Aceh dalam kejuaraan sepak bola perempuan di Bandung. BLiSPI Aceh akan legawa jika nanti tim sepak bola perempuan Aceh yang telah disiapkan gagal mewakili Serambi Mekkah di tingkat nasional.

"Ada tingkat nasional yang berlangsung 5 sampai 10 Agustus di Bandung. Menjelang ke arah sana kami akan melakukan pendekatan, sosialisasi, dan komunikasi kembali ke berbagai pihak termasuk dengan pimpinan daerah. Jika nanti kesepakatannya tidak perlu mengirim wakil Aceh ya kami akan patuh," ujar Ishaq. (*)

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo