Sabtu, 19 Oktober 2019
20 Ṣafar 1441 H
Home / Forum Milenial / Perbedaan Sistem Ekonomi Sosialis, Kapitalis dan Islam Mana Lebih Baik?
Darnela Putri (Dok/Foto Sharianews)
Pada suatu fase sistem ini memunculkan sebuah sistem ekonomi baru yang bernama sosialisme.

Sharianews.com, Perkembangan ekonomi sebagai sebuah disiplin ilmu muncul pada tahun 1776 M. Hal tersebut ditandai dengan terbitnya karya Adam Smith yang berjudul, An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.

Pandangan, analisis dan teori yang berkembang dalam buku tersebut terutama berkaitan dengan mekanisme pasar telah menginisiasi munculnya sistem kapitalisme.

Selanjutnya, pada suatu fase sistem ini memunculkan sebuah sistem ekonomi baru yang bernama sosialisme. Hal ini dipelopori oleh Karl Marx yang menganalisa sistem kapitalis dan meramalkan keruntuhannya. Sebagai ganti dari sistem tersebut ia menawarkan sistem sosialisme.

Dalam perjalanannya berkaitan dengan perseteruan kapitalis dan sosialis tersebut terjadi arah yang diluar perkiraan Karl Marx yakni sistem sosialis yang ia cetuskan hancur, sedangkan kapitalis masih tetap berkibar bahkan sampai saat ini.

Dua sistem ini selalu menghiasi perjalanan sistem perekonomian di dunia meskipun saat ini banyak yang beranggapan bahwa eksistensi sosialis telah hilang, terutama semenjak runtuhnya Uni Soviet. Meskipun kapitalis dianggap semakin berkembang, tak jarang negara yang menjadi acuan Kapitalis seperti Amerika Serikat mengalami kenguncangan ekonomi. Kasus Bubble Economic menyebabkan krisis pada negara ini.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan sederhana dalam benak kita, apakah tidak ada sistem ekonomi lain yang dapat menjadi alternatif selain kedua sistem tersebut? Atau adakah sistem ekonomi yang mampu memadukan nilai-nilai positif dari kedua sistem ekonomi tersebut sehingga didapatkan sebuah ekonomi ideal?.

Dalam pandangan kapitalis, kesejahteraan dapat diwujudkan dengan memberikan kebebasan kepada individu untuk berusaha sesuai dengan kemampuan yang ia miliki tanpa ada campur tangan orang lain. Pemerintah tidak dibenarkan mencampuri proses yang terjadi dalam pasar, pemerintah hanya berkewajiban menjaga keamanan sistem  agar individu bebas dalam berusaha serta menjaga keselamatan harta individu yang terlibat dalam tindakan ekonomi.

Akibatnya akan terjadi penguasaan modal oleh individu dalam sistem kapitalis. Individu yang mempunyai kekuatan modal yang lebih besar akan mempunyai peluang lebih besar untuk berproduksi dan menguasai asset produksi lainnya sehingga akan terjadi ketimpangan antara individu bermodal besar dengan individu bermodal kecil (miskin).

Satu pihak akan menuju puncak, dipihak lain akan menuju kepada jurang kemelaratan disebabkan persaingan dan kebebasan yang diberikan kapitalis kepada individu yang ada. Sistem ini akan berakibat buruk sebab ketimpangan mengakibatkan pihak yang tidak memiliki modal tidak akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kedudukannya.

Lain halnya dengan sistem sosialisme. Sosialisme bergerak dengan tokoh sentralnya yakni Karl Marx. Pemikiran yang dikeluarkan Karl Marx merupakan serangan terhadap konsep kapitalis. Marx berpandangan bahwa kepemilikan individu harus diganti dengan kepemilikan atas pemerintah serta pengawasan terhadap kehidupan masyarakat yang bersifat menyeluruh. Azas yang dikembangkan adalah kolektivisme, otoritas bahkan totaliter.

Semua kepemilikan menjadi hak mutlak pemerintah tanpa membiarkan kepemilikan jatuh pada individu atau swasta. Dengan penyerahan kekuasaan pada pemerintah maka pemerintah berkewajiban menghadirkan kesejahteraan pada masyarakat dengan memastikan pendistribusian secara merata sehingga tidak ada individu yang lebih dibandingkan lainnya.

Sistem ekonomi Islam mencoba melihat kedua sistem ini dengan cara moderat. Menurut Dawan Raharjo, penyebab sistem kapitalis maupun sosialis mengalami krisis meskipun saat ini kapitalis masih eksis adalah tujuan utama keduanya adalah pemenuhan kebutuhan materi dalam mencapai kesejahteraan manusia.

Baik sosialis maupun kapitalis tetap bertujuan untuk mencapai kekayaan material baik itu digunakan melalui jalan mekanisme pasar bebas maupun dengan sistem pemusatan dengan perencanaan melalui pemerintah. Pada ujungnya kedua sistem tersebut akan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada untuk membuktikan dari kedua sistem tersebut mana yang paling efektif dalam menghasilkan keuntungan.

Dalam ekonomi islam materi bukanlah tujuan, melainkan adalah alat/jalan untuk mencapai tujuan sehingga tolak ukur berhasilnya sistem ekonomi Islam bukan semakin banyak materi/keuntungan yang didapatkan. Melainkan adalah sejauh mana materi yang dimiliki memiliki manfaat kepada jalannya perekonomian. Tujuan utama dari sistem ekonomi Islam adalah mencapai falah, yang hanya bisa dicapai dengan menjadikan tujuan akhir dari segala tindakan ekonomi adalah pengabdian atau ibadah pada Allah.

Jadi dalam sistem ekonomi Islam bukan negara yang kaya yang dianggap berhasil, tapi negara yang dengan kemampuan ekonomi yang mereka miliki mampu membantu negara lain dalam menghadapi problematika ekonomi yang mereka hadapi.

Kedua, prinsip ekonomi kapitalis yakni kerja keras dan prinsip sosialis yakni egaliter memiliki tempat dalam sistem ekonomi Islam. Ekonomi Islam mendorong setiap pelaku ekonomi yang untuk selalu mendayagunakan segala hal yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Bahkan orang yang meninggal dalam berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dianggap berjihad di jalan Allah. Sedangkan prinsip egaliter tersebut tercermin dalam pandangan Islam terhadap mahluknya. Dalam pandangan Islam setiap manusia adalah sama, yang membedakan adalah kualitas ketakwaannya. Akibatnya baik kaya maupun miskin dalam Islam semuanya bisa memiliki posisi yang tinggi tergantung ketakwaannya.

Pelaku ekonomi kaya yang curang dalam menakar timbangan akan kalah nilainya dari pedagang buah skala kecil yang jujur dalam menimbang. Islam menilai dalam dimensi yang berbeda dari ukuran kedua sistem ekonomi tersebut. Etika Islam berdasarkan Al Quran dan Hadist mengajarkan pelaku ekonomi untuk menjadikan semua tindakan ekonomi penuh dengan akhlak.

Ketiga, konsep kepemilikan individu dalam kapitalis dan kepemilikan kelompok dalam sosialis diakui oleh ekonomi Islam. Ekonomi Islam mengenal multitype ownership yakni individu dan kelompok. Dalam ekonomi Islam pemiliki hakiki dari segala sesuatu yang ada didunia ini adalah Allah SWT. Dalam banyak ayat dijelaskan hal tersebut, salah satunya Al Baqarah 281, bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah. Hal ini berarti bahwa Allahlah pemilik mutlak segala hal yang ada termasuk manusia.

Manusia hanya diberikan amanah dan hak pengelolaan terhadap sumber daya yang ada. Akibatnya adalah penjagaan ekonomi Islam terhadap amanah yang diberikan Allah akan berdampak pada pemanfaatan dan penjagaan sumber daya dengan baik. Sebagai analogi adalah saat kita dipinjami suatu barang oleh seseorang, maka kita pasti akan menjaga barang tersebut agar tidak rusak dan mengecewakan orang yang telah meinjamkan.

Dalam ekonomi Islam sumber daya yang berkaitan dengan hajat orang banyak diserahkan kepemilikannya pada negara seperti Air dengan tujuan agar tidak terjadi pemanfaatan yang eksploitatif dari individu. Di lain pihak kepemilikan individu terhadap asset ekonomi juga dibenarkan selama kepemilikan tersebut tidak bertentangan dengan aturan Al Quran dan Hadis.

Keempat, kebebasan dalam bertindak yang menjadi ciri khas kapitalis juga  diakui dalam Islam. Dasar hukumnya adalah kaidah dalam muamalah. Bahwa pada dasarnya segala sesuatu yang ada dalam muamalah itu dibolehkan asalkan tidak ada dalil yang melarangnya.

Dalam ekonomi Islam segala tindakan ekonomi dibenarkan selama tidak ada dalil yang melarang. Tambahan juga, segala tindak tanduk dalam ekonomi Islam hendaknya menuju pada maqashid syariah. Konsep yang dicetuskan oleh Imam As Syatibi yakni menjaga dalam 5 hal yakni agama, akal, keturunan, jiwa dan harta. Segal tindak tanduk yang dilakukan dibenarkan asal mampu menjaga pelaku ekonomi dari 5 hal tersebut.

Kelima, keadilan sosial yang menjadi semboyan sosialisme juga diakui dalam Islam. Hal yang membedakan adalah penerapannya. Dalam Islam setiap orang tidak harus mendapatkan hasil yang sama antara satu dan lainnya. Seseorang yang memiliki usaha lebih dibenarkan mendapatkan hasil lebih asalkan usaha yang dijalankan masih sesuai dengan koridor Al Quran dan hadis.

Akan tetapi Islam memberikan instrument zakat dalam upaya mencapai keadilan sosial tersebut. Sebagaimana dijelaskan dalam surat at taubah 104, bahwa zakat itu bertujuan membersihkan harta sang muzakki. Adanya zakat memberikan efek kepada si kaya dan si miskin. Bagi si kaya, hal tersebut akan membersihkan hartanya sedangkan bagi yang miskin membantu mereka memperbaiki dan menjauhkannya dari kemungkinan perbuatan criminal. Hal ini menjadikan ekonomi Islam sangat berkeadilan. Seseorang dibenarkan menjadi kaya asalakan ia selalu menunaikan zakatnya.

Dari beberapa uraian di atas dapatlah kita ambil gambaran bahwa sistem ekonomi Islam dapat dijadikan jalan alternatif yang dapat ditempuh untuk mencapai kesejahteraan bersama menuju  peradaban ekonomi yang gemilang untuk terciptanya kemakmuran jika benar-benar diterapkan sebagaimana mestinya.

Oleh: Darnela Putri