Jumat, 13 Desember 2019
16 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Zakat insight / Peranan Zakat dalam Mempersempit Kesenjangan Ekonomi
FOTO I Dok. Sharianews
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai gini ratio Indonesia pada tahun 2018 masih berada pada angka 0.384 yang berarti masih terjadi kesenjangan ekonomi.

Sharianews.com, Dalam Islam, hakikatnya kepemilikan harta adalah milik Allah Swt, manusia hanya pemilik sementara dari harta yang ada di dunia. Sebagaimana yang Allah Swt firmankan dalam surat Al-Hasyr ayat 7 bahwa harta tidak boleh berkumpul pada suatu golongan, untuk itu pendistribusian harta mutlak harus dilakukan agar tidak terjadi kesenjangan.

Di negara berkembang termasuk Indonesia, kesenjangan memang masih menjadi salah satu permasalahan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai gini ratio Indonesia pada tahun 2018 masih berada pada angka 0.384 yang berarti masih terjadi kesenjangan ekonomi. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, tentu sangat potensial untuk mengimplementasikan instrumen Islam dalam mengurangi kesenjangan ekonomi di Indoensia. Salah satu instrumen pendistribusian harta dalam Islam adalah zakat.

Zakat merupakan rukun Islam ketiga dengan cakupan dimensi yang luas, yaitu mencakup keimanan, ekonomi dan juga sosial dan hukumnya wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Muslim. Sifatnya yang wajib menjadikan zakat dinilai sebagai solusi dari kesenjangan dan kemiskinan yang terjadi di Indonesia.

Dana zakat idealnya dapat dijadikan sebagai salah satu instrumen kesejahteraan masyarakat. Agar tercipta hal demikian pelaksanaan dan pengelolaan zakat harus diawasi oleh pemerintah, dan dilakukan oleh petugas yang rapi dan teratur, serta dipungut dari orang yang wajib mengeluarkan untuk diberikan kepada orang yang berhak menerima.

Telah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa dana zakat yang dihimpun dan dikelola oleh OPZ memberikan dampak yang lebih signifikan dibandingkan dengan penyaluran zakat secara individu.

Sebagai lembaga negara sekaligus koordinator dalam pengelolaan zakat di Indonesia, Baznas terlibat aktif dalam upaya pengentasan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan ekonomi, dengan mengoptimalkan dana zakat. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa, dana zakat yang dikelola dengan baik dapat mengurangi kesenjangan ekonomi.

Hal ini dibuktikan dengan hasil kaji dampak zakat yang dilakukan oleh Pusat Kajian Strategis Baznas tahun 2018, berdasarkan hasil perhitungan Income Gap Ratio dana zakat yang disalurkan oleh Baznas mampu mempersempit income gap mustahik sebesar 78 persen. Nilai Income gap sebelum menerima bantuan zakat adalah 0,18. Nilai ini mengalami penurunan menjadi 0,04 setelah menerima dana zakat.

Hal ini menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan setelah menerima dana zakat menjadi lebih rendah, dibandingkan dengan kondisi sebelum menerima dana zakat dan juga menggambarkan bahwa kondisi kelompok miskin semakin membaik.

Penyaluran dana zakat yang dilakukan oleh Baznas dibedakan berdasarkan kebutuhan mustahik. Penyaluran dana zakat untuk yang sifatnya karitatif atau layanan kedaruratan disebut dengan pendistribusian yang mencakup bidang pendidikan; bidang kesehatan; bidang kemanusiaan; dan bidang dakwah-advokasi. Sedangkan penyaluran dana zakat yang sifatnya produktif disebut dengan pendayagunaan mencakup bidang ekonomi, bidang pendidikan, dan bidang kesehatan

Pendistribusian Zakat pada bidang pendidikan, dapat diberikan dalam bentuk biaya pendidikan baik langsung maupun tidak langsung. Pendistribusian Zakat pada bidang kesehatan dapat diberikan dalam bentuk pengobatan. Pendistribusian Zakat pada bidang kemanusiaan dapat diberikan dalam bentuk penanganan korban bencana alam, korban kecelakaan, korban penganiayaan, dan korban tragedi kemanusiaan lainnya. Pendistribusian Zakat pada bidang dakwah dan advokasi dapat diberikan dalam bentuk bantuan kepada penceramah, pembangunan rumah ibadah umat Islam, dan bantuan lain yang membantu kegiatan dakwah dan advokasi.

Pendayagunaan Zakat pada bidang ekonomi dapat diberikan dalam bentuk bantuan yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan, meningkatkan kapasitas produktif, kewirausahaan, meningkatkan kesejahterahaan mustahik, pemberdayaan komunitas Mustahik berbasis kewilayahan dan potensi ekonomi lokal.

Pendayagunaan Zakat pada bidang pendidikan dapat diberikan dalam bentuk bantuan peningkatan kompetensi keterampilan hidup, kepemimpinan, kewirausahaan, serta pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Pendayagunaan Zakat pada bidang kesehatan dapat diberikan dalam bentuk bantuan kesehatan promotif dan preventif, serta pembangunan sarana dan prasarana kesehatan.

Lembaga program dengan penyaluran yang sifatnya produktif  atau pendayagunaan antara lain Zakat Community Development (ZCD), Lembaga Pengembangan Ekonomi Mustahik (LPEM), Baznas Microfinance (BMFi), dan Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM). Sedangkan lembaga program yang melakukan penyaluran secara konsumtif atau pendistribusian antara lain Layanan Aktif Baznas (LAB), Rumah Sehat Baznas (RSB), Lembaga Beasiswa Baznas (LBB), Sekolah Cendekia Baznas (SCB), Baznas Tanggap Bencana (BTB), Mualaf Center Baznas (MCB), dan Pusat Kajian Strategis (Puskas).

Kegiatan pendistribusian dan pendayagunaan sebagaimana di atas disalurkan melalui lembaga program sesuai dengan bidang dan fungsinya. Pembentukan lembaga ini ditujukan agar proses penyaluran dapat berjalan dengan efektif, optimal dan mempunyai dampak positif serta berkelanjutan dalam menjawab permasalahan kemiskinan di Indonesia. (*)

 

 

 

 

Oleh: Hidayaneu Farchatunnisa

Tags: