Senin, 22 Juli 2019
20 Thu al-Qa‘dah 1440 H
Home / Lifestyle / Peran Keluarga dalam Mitigasi Bencana
doc|qureta
Belajar dari Jepang, ada tiga langkah sederhana bagi keluarga terkait pendidikan mitigasi bencana atau disaster education. Yaitu pra-bencana, di mana orangtua bisa memberi informasi pada anak sesuai dengan tingkatan anak tentang pengetahuan mengenai suatu bencana.

Sharianews.com, Jakarta. Kesiap-siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana perlu ditingkatkan lagi. Pasalnya, menurut penilaian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tingkat kesadaran masyarakat dan pemerintah Indonesia saat ini dinilai masih sangat rendah. Hal tersebut dilihat dari tidak terpenuhinya beberapa parameter di setiap daerah di Indonesia yang berada di daerah Ring of Fire alias wilayah rawan gempa.

“Jadi kepedulian itu yang harusnya ditingkatkan lagi bahwa kita memang di daerah rawan bencana, kita harus siap-siap,” ujar Peneliti Bidang Ekologi Manusia, Deny Hidayati, Kamis (27/12) melalui LIPI.

Parameter yang perlu diperhatikan menurut Peneliti Bidang Ekologi Manusia, Deny Hidayati, antara lain pengetahuan mengenai bencana yang rawan terjadi di daerahnya, termasuk langkah yang harus dilakukan sebelum, saat dan setelah bencana itu terjadi. Informasi ini dapat disampaikan secara formal melalui mata pelajaran di sekolah atau dalam bentuk informal seperti sosialisasi ke komunitas rutin masyarakat, pengajian, posyandu.

Parameter selanjutnya adalah peringatan dini terhadap berbagai bencana. Berkenaan dengan ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang memiliki wewenang menyampaikan informasi dengan baik kepada masyarakat. Disebutkan pula pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk pangan, sandang, papan berupa shelter juga menjadi fasilitas yang harus dipenuhi, termasuk listrik dan alat komunikasi.

Selain itu, kebijakan sebagai parameter kesiap-siagaan juga memiliki peran agar mitigasi berjalan dibawah payung hukum yang jelas. Di mana kebijakan tersebut berupa pembangunan infrastruktur hingga pendidikan publik. Hal tersebut bisa diartikan bahwa pemerintah wajib memasukan kurikulum bencana dalam materi pembelajaran. Dan yang terpenting lainnya adalah mobilisasi sumber daya, khususnya dalam keluarga. Dalam artian, keluarga memiliki peran masing-masing ketika bencana terjadi sehingga dapat saling gotong royong dalam menyelamatkan diri dan bertahan hidup saat terjadinya bencana.

Terkait peran keluarga, Aswadi, S.Pd., M.Si., Kepala Bidang Kebencanaan IPAU mengatakan penanggulangan bencana berbasis keluarga merupakan suatu hal penting di mana serangkaian aktivitas kepala keluarga pada saat pra, emergency dan pasca bencana untuk mengurangi jumlah korban baik jiwa, kerusakan sarana maupun prasarana dan terganggunya kehidupan rumah tangga dan lingkungan hidup dengan mengandalkan sumber dan kemampuan yang dimiliki oleh kepala keluarga. Di mana seharusnya keluarga menjadi subjek penangglangan bukan sekadar objek

Belajar dari Jepang, ada tiga langkah sederhana bagi keluarga terkait pendidikan mitigasi bencana atau disaster education. Yaitu pra-bencana, di mana orangtua bisa memberi informasi pada anak sesuai dengan tingkatan anak tentang pengetahuan mengenai suatu bencana. Dengan melakukan analisis risiko bencana apa yang akan terjadi di daerahnya, tanda dan ciri-ciri potensi bencana yang akan terjadi.

Tahap kedua yaitu saat terjadi bencana; dalam tahap ini orangtua memberi pemahaman tentang perlindungan jika bencana terjadi. Yakni, tindakan yang harus dilakukan saat melihat tanda-tanda akan terjadinya bencana yang tujuannya agar anak bisa mengetahui jalur evaluasi bencana untuk menuju tempat yang aman. Selain itu, juga membekali anak melalui practical training bagaimana melindungi dirinya dan bagaimana mereka bisa merespon bencana tersebut secara tepat dan cepat. Misalnya, menunjukkan tempat yang harus dihindari saat bencana terjadi.

Terakhir adalah pasca bencana. Dalam fase ini, orangtua bisa membekali anak dalam menghadapi masa setelah bencana. Contohnya, memberikan pengarahan tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan saat berada di pengungsian agar tidak terpisah dari keluarga. Selain itu, orangtua harus bisa memberikan trauma healing agar kondisi anak tidak terguncang saat berhadapan dengan bencana. (*)

 

 

Reporter: Fathia Rahma Editor: Achi Hartoyo