Kamis, 21 Maret 2019
15 Rajab 1440 H
x
FOTO I Dok. Sharianews
Sistem ekonomi syariat mengakui adanya perbedaan pendapatan (penghasilan) dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha, dan risiko.

Sharianews, Allah telah menegaskan bahwa penyaluran zakat hanyalah untuk orang-orang yang telah disebutkan dalam Alquran Surah At-Taubah: 60, yaitu sebanyak delapan golongan.

Sesungguhnya sedekah (zakat-zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk dijalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.”

Islam adalah ajaran yang komprehensif mengakui hak individu dan hak kolektif masyarakat secara bersamaan. Sistem ekonomi syariat mengakui adanya perbedaan pendapatan (penghasilan) dan kekayaan pada setiap orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap orang mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha, dan risiko.

Namun, perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu dalam antara yang kaya dengan yang miskin, sebab kesenjangan yang terlalu dalam, tidak sesuai dengan syariat Islam yang menekankan sumber-sumber daya bukan saja karunia Allah, melainkan juga merupakan suatu amanah. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengonsentrasikan sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program yang efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang terjadi selama ini, jika tidak diantisipasi, maka akan mengakibatkan kesenjangan sosial yang parah. Syariat Islam sangat menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata sebagaimana yang tercantum dalam Alquran Surah Al-Hasyr:7.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”

Salah satu cara yang perintahkan oleh syariat Islam atas kewajiban kolektif perekonomian umat Islam adalah zakat. Secara teknik, zakat adalah kewajiban finansial seorang Muslim untuk membayar sebagian kekayaan bersihnya atau hasil usahanya apabila kekayaan yang dimilikinya telah melebihi nisab (kadar tertentu yang telah ditetapkan).

Penyaluran zakat adalah pembagian harta dari yang kelebihan (Muzaki) kepada orang-orang yang kekurangan harta (Mustahik). Penyaluran dana zakat hanya dapat di berikan kepada delapan asnaf sebagaimana telah ditetapkan.

Konsep zakat itu harus disalurkan di daerah Muzaki kepada semua kelompok penerima zakat (Mustahik) diwilayah dimana zakat itu di peroleh. Golongan fakir dan miskin di daerah terdekat dengan Muzaki adalah sasaran pertama yang berhak menerima zakat.

Karena memberikan kecukupan kepada mereka merupakan tujuan utama dari zakat. Ada beberapa ketentuan/kaidah dalam menyalurkan dana zakat kepada Mustahik: mengutamakan distribusi domestik, dengan melakukan distribusi lokal atau lebih mengutamakan penerima zakat yang berada dalam lingkungan terdekat dengan lembaga zakat (wilayah Muzaki) dibandingkan penyalurannya untuk wilayah lain.

Penyaluran yang merata dengan kaidah-kaidah sebagai berikut:

  • Bila zakat yang dihasilkan banyak, setiap golongan mendapat bagiannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
  • Penyalurannya haruslah menyeluruh kepada delapan golongan yang telah ditetapkan.
  • Diperbolehkan untuk memberikan semua bagian zakat kepada beberapa golongan penerima zakat saja, apabila didapati bahwa kebutuhan yang ada pada golongan tersebut memerlukan penanganan secara khusus.
  • Menjadikan golongan fakir miskin sebagai golongan pertama yang menerima zakat, karena memenuhi kebutuhan mereka dan membuatnya tidak bergantung kepada golongan lain adalah maksud dan tujuan diwajibkannya zakat.
  • Seyogyanya mengambil pendapat Imam Syafi’i sebagai kebijakan umum dalam menentukan bagian maksimal untuk diberikan kepada petugas zakat yaitu 1/8, baik yang bertugas dalam mengumpulkan maupun yang mendistribusikannya.

Membangun kepercayaan antara pemberi dan penerima zakat. Zakat baru bisa diberikan setelah adanya keyakinan dan juga kepercayaan bahwa si penerima adalah orang yang berhak dengan cara mengetahui atau menanyakan hal tersebut kepada orang-orang adil yang tinggal di lingkungannya, atau orang yang mengetahui keadaannya.

Mekanisme penyaluran zakat kepada Mustahik bersifat konsumtif dan produktif. Penyaluran zakat secara konsumtif merupakan zakat yang  diberikan kepada Mustahik yang hanya sekali atau sesaat saja. Penyaluran zakat ini tidak disertai target terjadinya kemandirian ekonomi (pemberdayaan) dalam diri mustahik. Penyaluran zakat konsumtif disini dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu

  • Tradisional, zakat dibagikan kepada Mustahik secara langsung untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Misalnya pembagian zakat fitrah berupa beras dan uang kepada fakir miskin setiap Idul Fitri. Pola ini merupakan program jangka pendek dalam mengatasi permasalahan umat.
  • Kreatif, zakat yang diwujudkan dalam bentuk barang konsumtif dan digunakan untuk membantu orang miskin dalam mengatasi permasalahan sosial dan ekonomi yang dihadapi. Proses pengonsumsian dalam bentuk lain dari barangnya semula. Misalnya diberikan dalam bentuk beasiswa untuk pelajar. Pola penyaluran zakat secara konsumtif ini diarahkan kepada: 
  • Upaya pemenuhan kebutuhan konsumsi dasar dari para Mustahik. Sama halnya dengan pola distribusi konsumtif tradisional yang realisasinya tidak jauh pada pemenuhan kebutuhan pokok bagi kelompok delapan asnaf.
  • Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan tingkat kesejahteraan sosial dan psikologis. Diarahkan kepada pendistribusian konsumtif nonmakanan, walaupun untuk keperluan konsumsi Mustahik. Contohnya renovasi rumah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial.
  • Upaya pemenuhan kebutuhan yang berkaitan dengan peningkatan SDM. Contohnya peningkatan kualitas pendidikan Mustahik, baik berupa beasiswa, pelatihan, dan peningkatan keterampilan nonformal.

Penyaluran zakat secara produktif (pemberdayaan) merupakan penyaluran zakat yang hasil akhirnya terjadinya kemandirian Mustahik. Penyaluran ini disertai dengan pembinaan atau pendampingan atas usaha yang dilakukan. Pola penyaluran zakat produktif disini dapat diklarifikasikan menjadi dua bagian yaitu:

  • Tradisional/konvensional

Zakat yang diberikan dalam bentuk barang-barang produktif, dimana dengan menggunakan barang-barang tersebut, para Mustahik dapat menciptakan suatu usaha. Contohnya pemberian bantuan ternak kambing dan sapi.

  • Kreatif

Zakat yang diwujudkan dalam bentuk pemberian modal bergulir, baik untuk permodalan seperti membangun tempat pelatihan usaha atau sebagai modal usaha untuk membantu mengembangkan usaha para pedagang atau pengusaha kecil.

Zakat secara produktif ini bukan tanpa dasar, zakat ini pernah terjadi di zaman Rasulullah.Dikemukakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Salim Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan kepadanya zakat lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi.

Pendapat lain disampaikan oleh Syekh Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Fiqh Zakat, bahwa pemerintah Islam diperbolehkan membangun pabrik-pabrik atau perusahaan-perusahaan dari uang zakat untuk kemudian kepemilikan dan keuntungannya bagi kepentingan fakir miskin, sehingga akan terpenuhi kebutuhan hidup mereka sepanjang masa.

Dalam kondisi pengelolaan zakat saat ini peranan pemerintah dalam pengelolaan zakat diperankan oleh Badan Amil Zakat yang melakukan pengelolaan zakat secara nasional sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

Wallahu A’lam (*)

 (Sekretaris Puskas BAZNAS)

Oleh : Yunus Afandi