Sabtu, 6 Juni 2020
15 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Pengamat: Negara-negara OKI Jauh Tertinggal di Bidang Industri Halal
Foto: Ibadah.id
Berbagai produk industri halal suatu kebutuhan dasar bagi Muslim di seluruh dunia. Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa menjadi lokomotif yang membawa gerbong kemajuan industri halal dunia.

Sharianews.com, Jakarta. Negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia dan negara-negara lainnya yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), mesti mengambil peluang dan potensi besar dari tingginya kebutuhan gaya hidup halal di dunia.

Hal itu disampaikan pengamat ekonomi syariah, Achmad Iqbal. Ia menegaskan, dibandingkan dengan negara mayoritas non-Muslim, negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim yang tergabung dalam OKI masih jauh tertinggal dalam soal industri halal.

“Kita coba lihat Korea Selatan, misalnya, negara ini mau investasi besar-besaran untuk membangun laboratorium halal yang sangat besar,” jelas Iqbal saat ditemui Sharianews.com di Jakarta.

Untuk Olimpiade 2020 di Jepang, tambahnya, laboratorium yang digunakan adalah laboratorium halal dari Korea Selatan, bukan Indonesia. Sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, Jepang menjamin semua atlet Muslim mendapatkan makanan halal.

“Isu halal sudah cukup banyak di Indonesia, tapi Jepang malah memilih Korea Selatan. Mereka sudah mengambil peluang ini,” paparnya.

Menurut data yang dirilis Thomson Reuters, Global Islamic Economy Report menunjukkan adanya pertumbuhan belanja muslim di sisi produk halal. Hal ini, sambung Iqbal, mestinya disambut baik oleh negara-negara Muslim, terutama yang tergabung dalam OKI.

Ia mencontohkan, produk yang beredar di Madinah atau Mekah, Saudi Arabia. Ketika pelaksanaan ibadah haji atau umrah banyak sekali jamaah dari berbagai belahan dunia yang datang. Hampir dua juta orang setahun. Tapi kalau dicermati, produk yang dijual di Madinah atau Mekah itu berasal dari China.

“Ketika haji atau umrah kita biasanya membeli berbagai macam cenderamata, peci, atau sajadah di Madinah atau Mekah, tapi begitu dilihat barang yang dibeli itu made in China, bukan Turki, Indonesia, atau Malaysia. Jadi, istilahnya kita yang punya pesta, orang lain yang kaya,” jelasnya.

Iqbal menambahkan, menjadi suatu hal yang sangat bagus kalau negara Muslim menjadi pemasok berbagai sektor di Mekah atau Madinah. "Misalnya, seluruh jasa boganya dipasok dari negara-negara OKI, merchandise diambil seluruhnya dari negara OKI, dan maskapai penerbangan diambil dari perusahaan-perusahaan milik negara Muslim,” urainya.

Hal ini, lanjutnya, harus jadi introspeksi bagi pengusaha Muslim, juga pemerintah-pemerintah yang berada di negara mayoritas Muslim. “Ini adalah potensi besar yang bisa digarap dan nantinya bukan hanya untuk menyelesaikan persoalan ekonomi Muslim, tapi otomatis juga menyelesaikan ekonomi di Indonesia,” terangnya.

Menurutnya, berbagai produk industri halal itu suatu kebutuhan dasar bagi Muslim di seluruh dunia. Sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia sebenarnya bisa menjadi lokomotif yang membawa gerbong kemajuan industri halal dunia.

“Kuncinya, produk dan industri halal jangan dibiarkan tumbuh organik. Perlu dukungan dan bantuan pemerintah agar industri ini membesar. Jika ini dilakukan tentu akan sangat bagus sekali,” ulasnya. (*) 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman. Editor: Achmad Rifki.