Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Pengamat: Layakkah Industri Halal Menggunakan Bank konvensional?
FOTO I Dok. Money.id
Ekonomi syariah bisa bergerak dengan baik jika memperhatikan tiga sektor, yakni sektor keuangam, sekotr riil dan sektor sosial.

Sharianews.com, Jakarta. Industri halal sedang didorong pemerintah, peta jalan atau roadmap industri halal sedang dibuat dan direnanakan selesai akhir tahun ini. Pengurus Dewan Syariah Nasional–Majelis Ulama Indonesia  (DSN-MUI) Mohammad Bagus Teguh Perwira mengatakan bank syariah bisa berperan dalam industri halal ini.

Ia menjelaskan fungsi bank syariah adalah lembaga intermediary secara syariah, industri halal tersebut baik dari segi dana maupun segi pembiayaannya bisa menggunakan bank syariah.

“Jadi mereka butuh likuiditas, butuh jasa perbankan, jika industrinya halal, jangan pakai bank konvensional untuk transaksi. Jualannya hijab syar’i tapi banknya tidak syar’i. Pariwisata dan  hotelnya hotel syariah, tapi pakai banknya bank konvensional,” ucap Teguh, di Jakarta, Selasa (13/11/2018).

Teguh juga mengungkapkan bahwa lembaga sosial, lembaga amil zakat masih ada yang menggunakan bank konvensional, padahal itu untuk rukun Islam.

Industri halal yang membutuhkan pembiayaan, sebaiknya tidak memakai bank konvensional, baik ketika membutuhkan modal untuk membeli ruko, rumah, maupun kendaraan untuk operasional. “Saat dia membutuhkan pembiayaan untuk modal kerja pakailah bank syariah. Harus ada keberpihakan itu dari indusrti halal,” Teguh menambahkan

“Apa iya masih disebut industri halal ketika transaksinya masih menggunakan bank konvensional ? Perlu saling melibatkan diri, banknya sudah menawarkan tapi industrinya tidak ingin menggunakan, susah juga. Bila alasannya bank syariah itu kecil, ya kapan besarnya kalau kalian tidak menggunakannya,” tutur Teguh.

Teguh menyampaikan paling tidak salah satu kriteria industri halal itu, menggunakan lembaga keuangan syariah. Sebagai masukan di dalam kriteria industri halal.

Sehingga ada dorongan intensif dari pemerintah maupun otoritas meskipun tidak langsung.

Kriteria tersebut misalnya industri halal wajib menggunakan lembaga keuangan syariah atau layanan keuangan syariah. Baik leasing company syariah, asuransi syariah, bank syariah, investasi masuk pasar modal syariah, ketika initial public offering (IPO) masuk ke dalam bursa efek syariah. “Jadi total football gitu,” imbuh Teguh.

Lebih lanjut, Teguh menjelaskan ekonomi syariah bisa bergerak dengan baik jika memperhatikan tiga sektor, yakni sektor keuangam, sekotr riil dan sektor sosial, ketiganya harus jalan bersamaan.

“Sektor riilnya jalan tapi tidak meggunakan bank syariah, mau ngapain ? Bank syariah maju besar tapi tidak membiayai sektor riil, ya buat apa juga. Ini kedua sektor jalan tapi sosial tidak jalan, masyarakat tidak terlayani oleh lembaga keuangan syariah dan riil tidak sejahtera juga, jadi ketiganya harus jalan semua,” pungkas Anggota Dewan Pengawas Syariah Bank OCBC NISP tersebut .(*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo