Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Pengamat : KPR Syariah Lebih Memberikan Kepastian Harga
FOTO | Dok. Sinarmasland.com
KPR syariah lebih menjamin adanya kepasatian harga di banding KPR konvensional, karena tidak terpengaruh oleh fluktuasi suku bunga acuan - atau BI rate yang ditetapkan pemerintah. 

KPR syariah lebih menjamin adanya kepasatian harga di banding KPR konvensional, karena tidak terpengaruh oleh fluktuasi suku bunga acuan - atau BI rate yang ditetapkan pemerintah. 

Sharianews.com, Jakarta. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah lebih memberi kepastian harga, dibanding KPR konvensional. Hal itu disampaikan Pengamat Ekonomi Islam, dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Irfan Syauqi Beik. Menurutnya, murah atau mahalnya harga antara KPR syariah dan konvensional sangat relatif.

“Tergantung pada situasi dan kondisi. Bukan semata persoalan syariah, tetapi lebih pada isu bisnis. Penetapan margin, nisbah atau bagi hasil itu, sangat tergantung kepada proses bisnis,”jelas Irfan, kepada sharianews.com, Kamis (9/8).

Irfan menjelaskan, dari sisi sumber dananya, bank syariah ini funding-nya berasal dari dana mudharabah. Yaitu, bentuk kerja sama antara dua atau lebih pihak di mana pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal

"Mungkin hal ini bisa menjadi salah satu faktor mengapa harganya jatuhnya lebih tinggi. Meski secara umum, bukan satu-satunya penyebab timbulnya anggapan harga lebih mahal. Masih ada faktor-faktor lain,”ujarnya.

Irfan kemudian memberikan contoh aplikasi beda konsep transaksi antara KPR syariah dan konvensional untuk menjelaskan tentang mana yang lebih mahal dan murah dari kedua jenis KPR berbeda ini.

Ia mengaku mengenal dua orang nasabah bank syariah dan bank konvensional, yang sama-sama mengajukan KPR pada 2012, dengan masa ansuran selama 15 tahun.

Suatu ketika, nasabah dengan KPR kovensional angsurannya naik, karena mengikuti BI Rate, yang juga mengalami kenaikan. Karena suku bunga acuannya dari BI naik, maka harganya sangat mungkin jadi ikut naik, fluktuatif alias tidak flat. "Ini dialami pada masa krisis, pada saat tingkat suku bunga sedang naik,”jelas Irfan.

Nasabah konvensional ini kemudian menyadari fluktuasi harga KPR yang dipilihnya itu, "Kemudian ingin take over financing ke syariah, sementara yang nasabah KPR syariah merasa nyaman, tetap pada pilihannya, dan tidak ikut merasakan fluktuasi harga anngsuran,"katanya menjelaskan. 

Berdasarkan pengalaman ini, ia menghimbau agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan mana lebih mahal atau lebih murah. Justeru menurutnya, jika dilihat berdasarkan pengalamannya, KPR bank syariah lebih menjamin adanya stabilitas cash flow.

“Karena sampai akhir periode pembiayaan tidak boleh berubah, kecuali atas kesepakatan bersama. Tetapi jika tidak, harus mengikuti perjanjian yang awal, tidak boleh berubah,”tutur Irfan.

Dengan demikian, secara teori,  KPR syariah justeru dapat memprediksikan selama periode pembiayaan, kewajiban setiap bulan sampai akhirnya masa pelunasan, sudah bisa dihitung.

Dari sisi perencanaan keuangan lebih baik, bisa mengelola kewajiban yang lebih pasti dibandingkan yang bunga. "Jika turun tidak masalah, tetapi bila di tengah jalan terjadi kenaikan suku bunga acuan, ini bisa menjadi masalah secara cash flow. Ini yang perlu diedukasikan kepada publik,”harap Irfan.

Akad KPR syariah yang digunakan

Menurut Irfan, akad-akad KPR syariah yang digunakan sifatnya tetap, kebanyakan menggunakan akad murabahah. Bila sudah bersepakat sampai akhir pembiayaan tidak boleh berubah, walaupun suku bunga naik, margin atau nisbahnya tidak boleh ikut naik.

Meski  begitu, ada kalanya KPR syariah relatif lebih mahal harganya dari konvensional, karena adanya faktor ekonomi. Salah satunya karena faktor demand and supply.

“Analoginya, jika ada pengusaha menjual baju 10 unit dan yang membeli ada 20 orang, tentu harga akan naik, karena antara kesediaan dana dengan demand atau permintaan pembiayaan itu tidak seimbang, sehingga permintaan bisa lebih tinggi,” jelas Irfan.

Untuk masalah seperi ini, menurutnya, solusinya ialah memperkuat permodalan bank syariah, sehingga dari sisi total asetnya bisa meningkat, dibanding bank konvensional yang sekelas.

Di akhir penjelasannya, Ifran mengajak masyarakat untuk melihat kelebihan KPR bank syariah dari aspek yang lebih luas. Bukan hanya dari aspek perbedaan harga. "Masih banyak kelebihan lain yang harus dilihat dan dianalisis,”pungkasnya. (*)

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahaman Editor : Ahmad Kholil