Minggu, 17 Oktober 2021
11 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Keuangan / Pengamat: Kinerja Keuangan Bank Muamalat Masih Sehat
-
Ada apa di balik keinginan Bank Muamalat menambah modal?

Ada apa di balik keinginan Bank Muamalat menambah modal?

Sharianews.com. Jakarta - Beberapa pengamat berbeda pendapat mengenai keinginan Bank Mualamat untuk menambah modal. Bagi sebagian, hal itu akan menambah masalah baru bagi bank syariah pertama di Indonesia ini. Sebagian lagi menyatakan bahwa kinerja keuangan terbilang masih normal. Hanya butuh penguatan modal.

Herni Ali, Dosen Ekonomi Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan bahwa penambahan modal oleh pemegang saham Bank Mualamat akan menimbulkan masalah baru. Hal ini lantaran ketentuan batas kepemilikan saham sebesar 20 persen.

“Jika pemilik modal telah melebihi 20 persen, maka dia tidak bisa melakukan permodalan lagi. Sehingga pemodal harus melepas saham sebesar maksimal 20 persen,” jelasnya saat ditemui Sharianews.com (3/7) di Ciputat, Tangerang Selatan.

Kepemilikannya dipegang Islamic Development Bank yang mempunyai 32,74 persen saham di Muamalat. Kemudian Bank Baoubyan 22 persen dan Atwill Holding Limited 18 persen.

Menurutnya, jika bank yang murni syariah sejak dari awal berdirinya ini benar-benar gulung tikar, maka akan berdampak pada sistem perbankan syariah lainnya. Karena itu perlu perhatian pemerintah.

“Pemerintah saat ini harus memberikan perhatian dan dukungan penuh pada Bank Muamalat dan bank syariah lainnya,” tuturnya.

Herni menambahkan, kabar buruk yang menimpa Bank Muamalat merupakan tantangan besar bagi sistem ekonomi syariah di Indonesia.  

“Ini harus menjadi evaluasi bersama karena Bank Muamalat adalah bank yang yang bernilai sejarah dalam perekonomian syariah di Indonesia,” imbuhnya.

Berbeda dengan Herni, pengamat keuangan dan perbankan syariah Ahmad Ifham Sholihin mengatakan bahwa, menurut teorinya, sebuah bank dikatakan kritis jika kredit macet atau non perfoming financing (NPF) mencapai 10 persen.

“Bank Muamalat belum mencapai angka dua digit itu. Bila dilihat kinerja keuangannya juga masih bagus. Muamalat masih memiliki kinerja keuangan yang sehat. Hanya saja butuh investor untuk menguatkan permodalan,” paparnya.

Sehat tidaknya sebuah bank, kata penulis buku Ini Lho Bank Syariah!, bisa dibaca dari laporan keuangannya.

“Pada laporan keuangan yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rasio gross NPF milik Bank Muamalat mencapai 9,14 trilium dari total pembiayaan perbankan syariah sebesar Rp 186,12 triliun,” katanya.

Penulis buku ‘Membongkar Rahasia Bank Syariah” ini menambahkan bahwa bisa jadi saat ini Bank Muamalat sedang melakukan strategi lain untuk penanganan pembiayaannya. 

Sejak beberapa tahun belakangan hingga awal tahun 2018, Bank Muamalat tercatat memiliki kinerja keuangan yang buruk. Tercatat sejak tahun 2015 gross NPF Bank Muamalat sebesar 7,01 persen. Turun menjadi 4,43 persen di tahun 2016 dan mengalami peningkatan lagi menjadi 4,54 persen pada 2017.

Dalam laporan keuangan kuartal I 2018, rasio kecukupan modal (CAR) Bank Muamalat di level 10,16 persen. Angka ini tak jauh dari batas minimum yang ditetapkan regulator sebesar 8 persen. Modal Bank Muamalat pun jauh di bawah rata-rata bank umum syariah dan unit usaha syariah di level 18,47 persen. Rasio kredit macet mencapai 4,76 persen dari total pembiayaan. Rasio NPL gross itu di atas industri perbankan yaitu 2,75 persen, berdasarkan Statistik Perbankan Syariah Maret 2018 yang dikeluarkan OJK.

Sebelumnya Bank Indonesia telah menetapkan NPF yang menjadi batasan ukuran setiap perbankan di Indonesia adalah sebesar 5,0 persen dari keseluruhan kredit yang ada. *(SN)

 

Reporter: Agustina Permatasari

Editor: A.Rifki