Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Ekbis / Pengamat: Ini Dia Strategi Atasi Defisit Transaksi Berjalan 
Defisit transaksi berjalan menjadi masalah bagi ekonomi karena transaksi menggunakan sistem fiat money, yang menyebabkan ketidakstabilan kurs mata uang.

Sharianews.com, Jakarta.Defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2018 tercatat sebesar USD 8 miliar atau 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yang berada di kisaran 1,96 persen. Angka defisit  tersebut juga lebih lebar jika dibandingkan dengan Kuartal I  2018 yang sebesar 2,6 persen atau sebesar USD 5,5 miliar.

Menanggapai hal tersebut Pengamat Ekonomi Syariah, Achmad Iqbal mengatakan defisit transaksi dari sudut pandang Islam tidak menjadi isu, karena setiap negara memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu melakukan transaksi jual beli untuk memenuhi kebutuhannya.

Iqbal mengatakan defisit transaksi berjalan antara lain disebabkan oleh fluktuasi nilai tukar mata uang di suatu negara, terutama karena mereka menggunakan sistem fiat money, mata uang yang nilainya ditentukan oleh regulasi pemerintah.

“Defisit transaksi berjalan menjadi masalah bagi ekonomi ketika transaksi menggunakan sistem fiat money, sehingga berakibat pada ketidakstabilan kurs mata uang,”kata Iqbal, di Bogor (21/8/2018).

Iqbal kemudian  menyarankan pemerintan untuk kembali kepada sistem uang menggunakan standar  emas. Sayangnya tidak merinci lebih lanjut bagaimana hal ini bisa berkontribusi terhadap masalah defisit transaksi berjalan.  

Selanjutnya, perlu ada langkah strategi untuk melakukan penguatan kerja sama antar negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), misalnya dalam hal pengembangan industri halal.

Menurutnya hal ini penting, karena di dalamnya mencakup  kebutuhan produk halal, yang merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat di negeri-negeri muslim. Langkah ini diharapkan dapat membantu  menambal defisit transaksi berjalan seperti yang terjadi saat ini.

Selain itu, libatkan semua jenjang pengusaha, termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sehingga terdistribusi kekayaan menjadi merata. Akibatnya banyak pengusaha muslim yang dapat membuka lapangan pekerjaan dan menyediakan barang dan jasa untuk muslim itu sendiri.

Di sisi lain, menurut Iqbal yang juga Direktur Eksekutif, Masyarakat Ekonomi Syariah (2004-2018) ini, defisit transaksi berjalan juga bisa terjadi karena daya ekspor Indonesia yang masih belum terlalu kuat untuk mencari pasar-pasar baru.

“Sebagian besar ekspor kita ke Amerika Serikat, sementara saat ini ada ancaman-ancaman perang dagang Amerika Serikat dan China. Sebelumnya, tidak seperti ini, karena sebenarnya ada banyak ekspor-ekspor kita ke Amerika Serikat, yang diproteksi oleh Amerika Serikat sendiri,” ujarnya.

Karena itu menurut Iqbal, Indonesia perlu mencari pasar-pasar baru di tempat-tempat lain, semua pihak di Indonesia perlu meningkatkan daya ekspor tersebut.

Hal lain yang bisa menyebabkan defisit transaksi berjalan adalah masih banyaknya industri di dalam negeri yang menggunakan bahan baku impor. Padahal industri dasar dengan bahan baku impor tersebut, berpengaruh terhadap indsutri-industri selanjutnya.

Karena itu, pemerintah dan semua terkait dengan kebutuhan bahan baku dasar industri impor tersebut, perlu mencari solusi bagaimana agar bahan-bahan baku impor tersebut bisa disediakan dan diciptakan di dalam negeri.

“Beberapa hal tersebut, menurut saya terpenting untuk  memperbaiki defisit transaksi berjalan. Tidak saja untuk jangka pendek sesuai situasi saat ini, tetapi juga diharapkan bisa mengatasi masalaha dalam jangka panjang,”paparnya.

Seperti diketahui, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia Agustus 2018 mencapai USD 15,82 miliar atau menurun 2,90 persen dibanding ekspor Juli 2018. Sementara dibanding Agustus 2017 meningkat 4,15 persen.

Sementara untuk nilai impor semua golongan penggunaan barang, baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–Agustus 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Masing-masing 27,38 persen, 23,24 persen, dan 29,24 persen. (*)

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil