Minggu, 7 Juni 2020
16 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Pengamat: Indonesia Patut Prioritaskan Kuliner Halal
FOTO I Dok. sharianews
“Tapi kalau kita mau buat beberapa skala prioritas, skala lahan bisnis untuk Indonesia adalah makanan dulu,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada ini.

Sharianews.com, Tangerang ~ Sektor makanan halal dinilai tepat dan paling berpotensi untuk dikembangkan Indonesia sebagai langkah awal menjadi pemain utama global.

Hal itu disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Syariah, Dumairy. Ia mengatakan, pengembangan industri halal tidak bisa dimulai berbarengan di semua sektor. Indonesia harus memilih salah satu sektor yang akan menjadi prioritas.

“Harus kita pilih, punya prioritas. Saya pikir yang mendesak untuk industri sekarang, sektor makanan. Baik makanan jadi ataupun bahan makanan, bahan mentah yang akan diolah,” jelas Dumairy saat ditemui Sharianews.com, di sela acara Sharing Discussion yang diselenggarakan Bank Pembiayaan Rakyat Syatriah (BPRS) Harta Insan Karimah (HIK), di Hotel Horison Ciledug, Jakarta, Sabtu (23/2).

Ia menerangkan, makanan halal sebagai sektor yang tepat, karena kesadaran keislaman masyarakat, semakin baik.

Setelah makanan halal, sektor selanjutnya adalah pariwisata halal. Dalam pariwisata halal mencakup banyak hal. Mulai dari perjalanan, tempat tinggal, tempat makan atau restoran, termasuk atraksi objek wisata.

“Tapi kalau kita mau buat beberapa skala prioritas, skala lahan bisnis untuk Indonesia adalah makanan dulu,” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Gadjah Mada ini.

Menurutya, potensi makanan halal sangatlah besar. “Makanan ini dihadapi semua orang, sementara wisata halal, tidak. Meski banyak orang yang terlibat di industri wisata halal, tetapi lebih banyak orang yang terlibat di industri makanan, termasuk minuman,” tutur dia.

Makanan juga lebih kecil aspek cakupannya, dari segi bahan baku dan segi pengolahan. Sedangkan wisata kaitannya banyak, sehingga penataanya tidak semudah makanan yang lebih sempit koridornya. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Achi Hartoyo