Senin, 27 Mei 2019
23 Ramadan 1440 H
Home / Keuangan / Pengamat: BWM Bisa Dikembangkan dengan Skema Wakaf Temporer
BWM diyakini bisa menjadi ‘kendaraan’, alat untuk sesuatu pemberdayaan yang sangat besar sifatnya dan untuk kegiatan yang juga luar biasa dan ajaib.

Sharianews.com, Jakarta. Bank Wakaf Mikro (BWM) menurut Adiwarman Azwar Karim, pendiri Karim Consulting Indonesia merupakan lembaga yang memiliki skema luar biasa saat ini. Menurutnya, BWM ini jika dimanfaatkan, bisa menjadi ‘kendaraan’, alat untuk sesuatu pemberdayaan yang sangat besar sifatnya dan untuk sesuatu kegiatan yang juga luar biasa dan ajaib.

Dari skema BWM yang sekarang, dalam analisis Adiwarman, skema yang sekarang ini bisa dikembangkan lebih besar lagi. Caranya yang saat ini dengan skema wakaf permanen dari para donator, bisa juga dilakukan dengan wakaf temporer, sehingga dengan begitu dimungkinkan bisa mengumpulkan dana yang besar.

“Kita minta melakukan dia wakaf tapi temporer. Temporernya hanya dua tahun misalnya, besarnya mencapai Rp 2 triliun. Uang dari donatur yang mencapai Rp 2 triliun ini dibagi-bagikan ke BWM, tetapi bukan untuk dipakai BWM, ini dana temporer,”jelas Adiwarman, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Dengan uang sebesar itu, dibagikan ke semua BWM di seluruh Indonesia. Gunanya, meminta mereka untuk membeli saham bank syariah. Sehingga, bank syariah itu sahamnya dimiliki oleh BWM seluruh Indonesia.

“Walaupun BWM-nya kecil, tapi karena dapat wakaf temporer Rp 2 triliun, dia bisa beli bank yang besar. Dengan uang Rp 2 triliun, dia bisa membeli saham sebuah bank besar. Karena bank syariah ini sahamnya sudah dibeli, langkah berikutnya, sahamnya kita catat di Busa Efek Indoneisa (BEI),”ucap Wakil Ketua Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional MUI ini.

Sudah tercatat di BEI, berarti sahamnya menjadi likuid. Kemudian, karena dia sifatnya likuid maka bisa ditawarkan kepada Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) untuk membeli sahamya.

Ditwarkan ke BPKH, harganya jangan Rp 2 triliun juga, tawarkan dengan harga jual Rp 3 triliun. Artinya ada keuntungan sebesar Rp 1 triliun.“Uang sebesar Rp 2 triliun balikan ke donaturnya, sementara Rp 1 triliun, dibagikan ke BWM supaya BWM ini tambah keren,”ujar Adiwarman.

Jadi, menurut Penulis buku Ekonomi Islam: Suatu Kajian Ekonomi Kontemporer ini menggaris bawahi tiga hal. Pertama, BWM adalah institusi yang ajaib dan luar biasa. Namanya tidak sesuai dengan wujudnya. Namun, karena tidak kesesuian dengan wujudnya inilah, ia bisa leluasa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan catatan ke arah yang baik.

Kedua, harus mendorong agar para donatur-donatur ini juga memberikan donaturnya dengan cara-cara yang luar biasa. Baik jumlahnya yang Rp 2 triliun, maupun caranya. Jadi uangnya pasti kembali ke donatur dalam tempo dua tahun karena bentuknya wakaf temporer.

Ketiga, karena sifatnya yang luar biasa dan donaturnya juga bisa memberikan dengan cara serta jumlahnya yang luar biasa. Ini bisa dibelikan untuk sesuatu investasi yang luar biasa.

Megenai nama BWM sendiri, dijelaskan Penasihat Komite Strategis dan Pusat Riset Otoritas Jasa Keuangan, Ahmad Buchori bahwa secara legalitas adalah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Syariah. BWM sendiri dinamai Presiden Joko Widodo agar lebih dikenal.

“BWM itu nama topnya, branding itu BWM. Sementara lembaga legalnya, nama aktenya LKM Syariah, yang ada Undang-Undangnya dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK),” jelasnya.

Diakui oleh Ahmad Bukhori, terkait nama BWM sendiri memang sempat mejadi pertanyaan beberapa pihak, meski begitu saat ini sudah tidak masalah, "Sebab nama BWM digunakan sebagai branding,"ujarnya. (*)

 

Reporter: Aldiansyah Nurrahman Editor: Ahmad Kholil