Senin, 1 Juni 2020
10 Shawwal 1441 H
Home / Keuangan / Pengamat : BI Baru Menyasar Industri Halal, Namun Belum Maksimal
-
Indonesia akan tetap menjadi primadona bagi negara-negara industri di segala sektor dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan, termasuk industri halalnya. Lalu kapan bisa menjadi pemain utama?

Indonesia akan tetap menjadi primadona bagi negara-negara industri di segala sektor dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan, termasuk industri halalnya. Lalu kapan bisa menjadi pemain utama?

Sharianews.com, Jakarta. Bank Indonesia (BI) mendorong kawasan Sumatera sebagai Islamic Economic Hub, untuk mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Salah satu caranya ialah dengan melakukan pengembangan dan penguatan halal value chain pada industri di sektor halal.

Hal itu, disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi dalam pembukaan Festival Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2018, dengan tema “Mendorong Regional Sumatera sebagai Islamic Economic Hub melalui Implementasi Business Linkage” di Bandar Lampung, Kamis (2/8). 

Menanggapi hal tersebut, Konsultan dari SCgistics Consulting, Nyoman Purnaya mengatakan jika saat ini BI memang sedang fokus mengembangkan keuangan syariah. Dan memang bank syariah menjadi salah satu industri halal  yang potensial. 

Menurut Nyoman Purnaya, sektor keuangan syariah ini yang paling pesat perkembangannya di Indonesia dibandingkan sektor lainnya. “Pemerintah Indonesia melalui BI saat ini baru fokus pada potensi keuangan syairah, yang artinya belum secara maksimal menggarap potensi industri halal,”kata Nyoman, kepada sharianews.com, Kamis (9/8/2018).

Padahal, banyak negera-negara lain sudah lebih gencar dalam memasarkan dan mengembangkan industri halal. Dalam hal ini, Indonesia tertinggal jauh.

“Kini, industri halal di berbagai sektor sudah banyak dikembangkan secara global di banyak negara, tidak hanya yang berpenduduk mayoritas muslim, tetapi juga di negara yang berpenduduk mayoritas non-muslim, mereka mulai mengembangkan industri halal,” papar Nyoman.

Dilihat dari data Global Islamic Economic Indicator (GIEI) 2017/2018, yang memberikan penilaian terhadap indeks pengembangan industri halal berdasarkan pilar-pilar ekonomi Islami dari beberapa sektor industri, menempatkan Malaysia di posisi teratas sebagai negara paling baik dalam pengembangan industri halalnya. 

Malaysia mendapatkan penilaian tertinggi dengan skor 146, disusul oleh Uni Emirate Arab (UEA), dengan skor 86, dan Saudi Arabia pada peringkat ketiga dengan skor 67. Sedangkan Indonesia menempati peringkat kesebelas dengan skor 42 sama dengan Jordania pada peringkat kesepuluh.

“Penilaian didasarkan pada keunggulan setiap negara dalam pengembangan industri di sektor halal. Malaysia menempati peringkat pertama, karena keunggulan mereka dalam mengembangkan sektor produk makanan halal (halal foods), keuangan syariah (Islamic financial), dan wisata halal (halal travel). Sedangkan dalam industri pakaian halal, media, dan rekreasi halal serta farmasi dan kosmetika halal, ditempati oleh negara Uni Emirate Arab (UEA),” ungkap Nyoman.

Indonesia di 1o besar peringkat GIEI

Indonesia sendiri masuk dalam 10 besar GIEI pada sektor wisata halal. Di sektor keuangan syariah, Indonesia berada di peringkat kesepuluh. Sedangkan di sektor farmasi dan kosmetika menempati peringkat kedelapan, jauh di bawah negara Singapura, yang berada di peringkat kedua.

GIEI juga mencatat konsumsi pada sektor produk makanan halal dunia yang mencatatkan nilai transaksi sebesar USD 1.245 triliun pada  2016. Diprediksi nilainya meningkat menjadi USD 1.930 triliun pada 2022. Konsumsi pada sektor pakaian sebesar USD 254 triliun pada 2016. Diprediksi meningkat menjadi USD 373 triliun pada 2022.

“Sedangkan sektor wisata halal, konsumsi yang terjadi sebesar USD 169 triliun, dan diprediksi pada 2022 manjadi sebesar USD 283triliun. Sementara, di sektor farmasi dan kecantikan, jumlah konsumsi  pada 2016 mencapai sebesar USD 57 triliun, dan  diprediksi meningkat menjadi USD 82 triliun pada 2022,” sambung Nyoman.

Potensi pasar industri halal sangat besar

Melihat Indikator-indikator dan tingkat konsumsi yang diprediksikan terus meningkat tersebut, Nyoman menjelaskan, hal itu menggambarkan bahwa potensi pasar industri halal sangat besar, dan potensi inilah yang menjadi dasar bagi negara-negara non-muslim mengembangkan industri halal.

“Disamping memang kesadaran, serta gaya hidup masyarakat dunia yang semakin meningkat dalam memilah dan memilih produk-produk halal untuk dikonsumsi,”jelasnya. 

Meski begitu, menurut  Nyoman, Indonesia juga memiliki potensi  besar untuk bisa menjadi pamain di  industri halal. Apalagi jika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS), yang memproyeksikan jumlah penduduk Indonesia mencapai 305,65 juta jiwa, pada 2035. Jumlah itu menggambarkan kebutuhan dasar masyarakat Indonesia, berkaitan erat dengan sandang, pangan, papan yang akan terus bertambah.

“Dilihat dari sisi pasar, Indonesia akan tetap menjadi primadona bagi negera-negera industri di segala sektor dalam memasarkan produk-produk yang dihasilkan, termasuk industri halalnya,” kata Nyoman.

Kedepannya, ini akan menjadi tantangan Indonesia dalam memilah dan memilih produk apa saja yang dapat dikonsumsi. "Termasuk produk-produk halal."

 

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil