Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO I Dok. mysharing.c
Sampai saat ini pula IsDB masih secara aktif terlibat dalam negosiasi dengan Bank Sentral Rusia untuk memperkenalkan perbankan Islam di negara tersebut.

Sharianews.com, Jakarta. Peneliti Kebijakan Timur Tengah dan Afrika Utara pada Dewan Urusan Internasional Rusia (the Russian International Affairs Council) Yury Barmin mengatakan, keuangan Islam di sektor perbankan syariah diprediksi akan meningkat hingga mencapai 5 persen dari total pangsa pasar keuangan Rusia dalam lima tahun ke depan.

Yury menambahkan, perkiraan akan pesatnya perkembangan perbankan syariah di ‘Negara Komunis’ tersebut tidak lepas dari beragam faktor. Antara lain, diawali dengan krisis keuangan global pada 2008 dan sanksi Uni Eropa sejak 2014 membuat pemerintah Rusia harus berpikir mencari sumber dana besar baru.

Oleh karenanya, kata Yury, situasi itu kemudian membawa pemerintah setempat mendorong bank-bank di negaranya supaya menyediakan layanan transaksi ekonomi yang sesuai dengan prinsip Islam.

“Sebagai akibatnya, saat ini banyak bermunculan bank maupun lembaga keuangan lainnya yang membuka fasilitas inklusi keuangan syariah di Rusia,” paparnya sebagaimana dikutip dari media daring (online) Islamic Finance.

Selain itu, penyediaan transaksi ekonomi Islam di Rusia pun beragam. Sebut saja, ada kontrak mudharabah seperti apa yang dilakukan lembaga keuangan the Consultative Group to Assist the Poor (CGAP) saat menyelenggarakan pembiayaan untuk pembibitan dan pertanian bagi para peladang lokal di Kyrgistan.

Perjanjian bisnis syariah yang serupa juga dilakukan oleh Sberbank. Lebih dari itu, bank terbesar milik pemerintah Rusia ini berencana untuk mengembangkan pembiayaan musyarakah dan murabahah kedepannya.      

Tengah bertambahnya layanan keuangan syariah dan naiknya jumlah penduduk Muslim di Rusia, pada akhirnya, juga berdampak pada peningkatan sektor yang lain. Umpamanya, di area makanan dan minuman halal, data dari laporan Thomson Reuters dan Dinard Standard 2017/18 memperlihatkan bahwa masyarakat Rusia telah menghabiskan uangnya sekitar USD 339 miliar di 2016.

Sementara di wilayah pariwisata halal, masih dari sumber laporan yang sama, penduduk Rusia sudah membelanjakan uangnya kurang lebih USD 66 miliar pada 2016. Sedangkan untuk obat-obatan halal, seluruh warganya tercatat mengeluarkan dana dengan total senilai USD 2,9 miliar di tahun yang sama.

Fenomena Paradoks

Meski keuangan syariah diperkirakan akan tumbuh di Rusia. Namun, kondisi ini justru tidak dibantu oleh beragam instrumen pendukung lainnya seperti minimnya regulasi yang mengatur lembaga keuangan Islam. Malah, ketika rancangan undang-undang tentang perbankan syariah diajukan pada 2015, berbagai pejabat legislatif menolaknya.

Tidak berhenti di situ, satu tahun setelahnya sewaktu unit usaha syariah milik Tatfondbank dan Tatagroprombank berhasil didirikan, dalam jangka waktu kurang dari setahun berikutnya kedua bank kehilangan izin usaha dan pemerintah pusat menghentikan aktivitasnya.

Selain dua kasus di atas, menurut keterangan dari firma advokasi hukum Capital Legal Service yang berkantor di Moscow pada tahun 2017, ada beberapa hal lagi yang dianggap dapat menghambat kemajuan keuangan syariah di Rusia.

Selaku di antara dampak langsung dari regulasi perbankan yang tidak ramah, berbeda dengan tarif pajak di bank konvensional, bank-bank maupun lembaga keuangan yang telah membuka layanan transaksi syariah hingga sekarang dikenai pajak pertambahan nilai (PPN) sampai sebesar 18 persen.

Selanjutnya, bea untuk usaha pembiayaan kredit syariah harus dibayar pada seluruh atau total jumlah kontrak, terlepas dari apakah kreditur nantinya akan memenuhi kewajiban pembayarannya. Sistem semacam itu menimbulkan risiko serius bagi lembaga keuangan syariah.

Berikutnya, nasabah yang mendepositokan uangnya di bank konvensional membayar pajak penghasilan (PPh) atas suku bunga yang didapatkan bila nilai tabungan minimal melebihi 14 persen, sementara para deposit di lembaga keuangan Islam pajak penghasilan wajib dibayar tanpa dibatasi besaran jumlah uang simpanannya.

Untuk meringkas, karena terdapat kesenjangan besar antara hukum Rusia dan prinsip perbankan Islam, dunia perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya yang telah menyediakan layanan transaksi syariah sangat terbatas dalam kegiatan mereka dan hampir tidak kompetitif.

Ciptakan Kerangka Hukum Spesifik

Sebab demikian, Yury mengingatkan, perkembangan keuangan syariah tidak akan bisa terealisasi kecuali pemerintah Rusia benar-benar berkenan menciptakan kerangka hukum yang spesisifik dalam mengatur perbankan Islam.

“Misalnya, peraturan perbankan syariah di ‘Negeri Beruang Putih’ ini seharusnya mengandung definisi istilah-istilah khusus seperti ‘lembaga keuangan Islam’, atau ‘bank yang bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum syariah’, serta sejumlah istilah lain yang spesifik untuk jenis perbankan ini,” kataYuri menegaskan.

Senada dengan Yury, pengamat hukum di dunia perbankan pada Capital Legal Service Dmitry Churin menyampaikan, reformasi hukum perbankan dan undang-undang pajak yang komprehensif diperlukan bagi lembaga keuangan syariah.

Jika langkah-langkah ini diambil, pemain baru lembaga keuangan Islam pasti akan muncul di Rusia. Sayangnya, Churin menambahkan, pada saat sekarang tidak ada pemahaman bersama tentang seperti apa reformasi ini dan kapan itu akan dilaksanakan.

Ikatan Disharmonis

Alasan kurangnya bantuan pemerintah melalui peraturan, tegas Yury, salah satunya ialah potensi kecemasan terhadap akan terlibatnya Arab Saudi ke keuangan Islam di Rusia. Sebagaimana diketahui, hubungan geo-politik antara kedua negara selama ini dinilai kurang harmonis.

Bahkan, ikatan disharmonis ini membuat Rusia mengambil tindakan untuk membatasi pengaruh Saudi mencakup sektor ekonomi, khususnya di wilayah Muslim Kaukasus Utara dan Distrik Federal Volga sejak awal 2000-an silam.

Ketakutan tersebut juga didukung oleh peran Islamic Development Bank (IsDB) yang berbasis di Jeddah dalam ekspansi dan hampir memonopoli seluruh industri keuangan syariah di Rusia.

Sampai saat ini pula IsDB masih secara aktif terlibat dalam negosiasi dengan Bank Sentral Rusia untuk memperkenalkan perbankan Islam di negara tersebut dan mendukung proposal untuk mengubah Tatarstan menjadi pusat keuangan Islam regional. (*)

 

 

Reporter: Emha S Ashor Editor: Achi Hartoyo