Sabtu, 8 Mei 2021
27 Ramadan 1442 H
Home / Global / Pemimpin Oposisi Rusia Ini Ingin Pelajari Al-Qur’an Selama di Penjara
Foto dok. Istagram Alexei Navalny
Pemimpin oposisi dan aktivis anti-korupsi Rusia, Alexei Navalny meminta Al-Qur’an untuk menghabiskan waktu di penjara saat Ramadan berlangsung

Sharianews.com, Rusia - Pemimpin oposisi dan aktivis anti-korupsi Rusia, Alexei Navalny meminta Al-Qur’an untuk menghabiskan waktu di penjara saat Ramadan berlangsung.  

Alasannya meminta kitab suci umat Islam itu, lantaran Navalny mengaku ingin mempelajari Al-Qur’an selama menjalani hukuman penjara di Vladimir. Tetapi, permintaannya ditolak. Sipir penjara tidak memperbolehkannya untuk mendapat Al-Qur’an atau buku-buku lainnya.

Melansir dari Al Jazeera, Senin (19/04), Navalny menyatakan akan menggugat otoritas lapas tempat ia ditahan atas larangan itu. "Mempelajari Al-Qur’an secara mendalam adalah salah satu target yang saya tetapkan sejak divonis penjara. Masalahnya, mereka tidak memperbolehkan saya membaca Al-Qur’an," paparnya via postingan instagram (13/04).

Dalam postingan Instagramnya, Navalny mengungkapkan pernah membaca Al-Qur’an sebelumnya, tetapi belum menginternalisasi prinsip intinya. “Saya menyadari bahwa perkembangan saya sebagai seorang Kristen juga membutuhkan belajar Al-Qur’an,” tulisnya.

Pria nasrani ini mengungkapkan, otoritas lapas enggan memberikannya akses Al-Qur’an atau buku apapun, karena mereka khawatir buku yang ia pesan mengandung materi ekstrimisme. Alhasil, setiap buku yang ia pesan atau ingin baca harus diseleksi dulu oleh otoritas lapas dan hal tersebut, bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Navalny tengah menjalani hukuman penjara selama 2,5 tahun atas tuduhan penggelapan, sejak Februari, setelah ia kembali ke Rusia dari perawatan di Jerman karena serangan racun mematikan, Novichok, dalam perjalanannya dari Serbia ke Moskow.

Ia berhasil selamat karena pesawat mendarat darurat untuk melarikannya ke rumah sakit. Navalny menyakini Pemerintah Rusia sebagai dalang di balik upaya pembunuhannya. Rusia membantah tuduhan itu dan menyatakan bersedia terlibat investigasi kasusnya.

Rep. Aldiansyah Nurrahman