Senin, 16 September 2019
17 Muḥarram 1441 H
Home / Keuangan / Pembiayaan Bank Syariah di Semester 2 Berpotensi Tumbuh 9,5 Persen
-
Selayaknya perbankan syariah tidak hanya mengejar pertumbuhan market share, tetapi juga berupaya memberi pengaruh besar terhadap sistem ekonomi nasional secara signifikan.

Selayaknya perbankan syariah tidak hanya mengejar pertumbuhan market share, tetapi juga berupaya memberi pengaruh besar terhadap sistem ekonomi nasional secara signifikan.

Sharianews.com, Jakarta. Perbankan syariah diprediksi akan tumbuh di semester ke-2 2018. Penilaian ini didasari oleh adanya pertumbuhan kinerja perbankan syariah per Juni 2018.

Hal ini disampaikan oleh Konsultan Keuangan dan Bisnis Syariah, Muhammad Syarif Surbakti. Menurutnya, berdasarkan data yang diperolehnya dari OJK, pertumbuhan pembiayaan bank syariah kurang lebih ada dikisaran 9,5 persen dalam hitungan tahun. Pertumbuhan ini mayoritas ditopang oleh pembiayaan konsumer dan usah mikro, kecil dan menengah (UMKM).

"Diperkirakan penyaluran pembiayaan akan tumbuh di kasaran 19 persen. Perbankan syariah dapat meningkatkan pertumbuhan pembiayaan yang lebih tinggi lagi melalui empowering sektor pembiayaan perumahan, baik dari sisi developer financing maupun Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah,"kata Syarif, saat dihubungi sharianews.com, Minggu (20/8/2018).

Pembiayaan sektor KPR syariah

Menurut, Dosen Keuangan dan Perbankan Syariah di Tazkia dan STIEAD ini, potensi pertumbuhan di sektor KPR sangat terbuka, karena terdapat kesenjangan yang besar antara kebutuhan masyarakat dan suplai unit-unit rumah yang terjangkau dan layak huni.

Lagi pula ujarnya, perbankan syariah bisa mulai mengoptimalisasikan akad musyarakah mutanaqisah (MMQ) untuk mendukung program pembiayaan KPR syariah, "Yang relatif lebih murah dan bisa bersaing dengan perbankan konvensional," ujarnya.

Meski begitu, Syarif mengingatkan bahwa perbankan syariah memiliki misi bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi juga memberi pengaruh terhadap sistem ekonomi nasional secara  signifikan. Karenanya, perjuangan meningkatkan pangsa pasar atau market share perbankan syariah yang lebih besar perlu menjadi misi bersama dengan pemerintah.

"Setidaknya pada akhir tahun 2018 ini, market share perbankan syariah meningkat menjadi 7 persen,"sambung Syarif penuh harap.

Tiga pilar perbankan syariah

Terkait dengan usaha meningkatkan peran perbankan syariah terhadap perekonomian nasional, serta meningkatkan pertumbuhan market share perbankan syariah, menurut Syarif, setidaknya terdapat tiga pilar yang harus diupayakan.

Pertama, pilar edukasi, yaitu bagaimana meningkatkan tingkat literasi masyarakat muslim melalui saluran edukasi, dakwah, dan sistem pendidikan, yang dimasukan ke dalam kurikulum pendidikan nasional.

Kedua, pilar competitive edge business - bagaimana melakukan inovasi secara cerdas dan berkelanjutan, "Misalnya melalui akad Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT) atau MMQ, aplikasi IT based Islamic Banking, dan Integrated Property Project Financing untuk meningkatkan return on financing dalam competitive pricing di sektorUMKM,"terangnya.

Selain itu, meningkatkan peran bank syariah tidak hanya sebagai financing intermediary, tetapi juga intermediary fee based income melalui kerjasama strategis dengan para produsen atau distributor produk-produk tertentu, misalnya otomotif dan perumahan.

Ketiga, pilar regulasi dan political will pemerintah, yakni bagaimana pemerintah mendorong dan mengarahkan sistem keuangan Indonesia ke sistem syariah, sehingga manfaatnya secara langsung akan kembali kepada masyarakat dan pemerintah dalam bentuk tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar rupiah yang menguat dan stabil.

"Jiika, ketiga pilar ini dapat berjalan dengan baik, maka secara langsung akan dapat meningkatkan kesejahteraan dan kehidupan rakyat secara berkelanjutan,"kata Syarif. (*)

Reporter : Aldiansyah Nurrahman Editor : Ahmad Kholil