Sabtu, 7 Desember 2019
10 Rabi‘ at-akhir 1441 H
Home / Ziswaf / Peluang dan Tantangan Wakaf Pertanian
Foto/dok.dompetdhuafa
“Evaluasi dari dampak kebun buah naga Dompet Dhuafa di Subang, terdapat aset alam naik sebesar 1,17 meliputi kualitas kesuburan tanah, ketersediaan air, ketersediaan sumber daya hayati," ujar Sabeth.

Sharianews.com, Jakarta ~ Peneliti sekaligus Wakil Rektor Dompet Dhuafa University, M. Sabeth Abilawa mengatakan, Dompet Dhuafa memiliki lahan wakaf yang saat ini telah mengalami peningkatan, lahan seluas kurang lebih 10 Ha mempunyai integrated farming (pertanian dan peternakan).

“Evaluasi dari dampak kebun buah naga Dompet Dhuafa di Subang, terdapat aset alam naik sebesar 1,17 meliputi kualitas kesuburan tanah, ketersediaan air, ketersediaan sumber daya hayati," ujarnya dalam acara diskusi dan bedah buku wakaf pertanian, peluang dan tantangannya, Jakarta, Rabu (22/5).

Ditambahkan Sabeth, dengan model pertanian yang dipadu dengan peternakan, maka tidak ada limbah yang terbuang. Pola pertanian akan terjadi dalam satu siklus biologi (integrated bio cycle farming).

"Limbah pertanian dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan kompos. Kotoran ternak pun dapat digunakan untuk pupuk tanaman," imbuhnya.

Sementara aset fisik, lebih lanjut dikatakan, mengalami kenaikan sebesar 1,17 meliputi kualitas kesuburan tanah, ketersediaan air, ketersediaan sumber daya hayati. Dan untuk aset sumber daya manusia Naik sebesar 1,08 meliputi pengetahuan dan ketrampilan budidaya, pascapanen, manajemen bisnis dan usaha, manajemen organisasi dan kelembagaan.

Sedangkan aset finansial naik sebesar 1,58 meliputi tingkat penghasilan rumah tangga, jumlah tabungan atau simpanan, putaran keuangan usaha, akses modal, jejaring rantai bisnis, dan aset sosial naik sebesar 1,15 meliputi tingkat perkembangan kelompok yang dibentuk, semangat gotong royong, partisipasi dalam pembangunan desa, kerentanan terhadap konflik.

Perlu diketahui, Indonesia memiliki tanah wakaf seluas 4.359.443.170 meter persegi yang tersebar di 435.768 lokasi.

Luasan ini setara dengan lima kali wilayah negara Singapura. Indonesia dengan iklim tropis dan dikelilingi pengunungan merapi, menjadikan lahan subur yang ideal bagi penggerak sektor agroindustri.

Saat ini, pemanfaatan lahan wakaf di Indonesia masih didominasi untuk sarana ibadah (masjid dan musala), yakni sekitar 73 persen, untuk sarana pendidikan (sekitar 13,3 persen), dan sisanya untuk tujuan sosial seperti pemakaman dan pesantren.

Berdasarkan kajian statistik oleh Dompet Dhuafa, wakaf untuk masjid masih mendominasi sekitar 44,93 persen, sementara wakaf untuk musala 28,80 persen, sekolah 10,41 persen, makam 4,63 persen dan pesantren 2,98 persen untuk sosial lainnya 8,25 persen.

Apabila harta wakaf tersebut dikembangkan secara produktif, potensinya sangat besar, yaitu sekitar 19,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Di tempat yang sama, Fahrurozi, Wakil Sekertaris Badan Wakaf Indonesia menilai, saat ini kecenderungan para nazir masih senang untuk menjual dari nilai wakafnya.

"Hingga sekarang ini kecenderungan para nazir atau pengelola wakaf masih senang diganti atau dijual dari nilai wakafnya", ujar Fahrurozi. (*)

 

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo