Minggu, 17 Oktober 2021
11 Rabi‘ al-awwal 1443 H
Home / Keuangan / Pelayanan BPRS Perlu Terus Memahami Segmen untuk Memperluas Jaringan Pasar
Pelayanan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) perlu memahami segmen masyarakat. Hal ini perlukan agar mampu bersaing dengan BPR konvensional.

Pelayanan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) perlu memahami segmen masyarakat. Hal ini perlukan agar mampu bersaing dengan BPR konvensional.

Sharianews.com, Jakarta. Potensi pasar keuangan syariah sebenarnya sangat besar. Untuk itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW)  Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Kompartemen BPRS Jabodetebek, Muhammad Hadi Maulidin Nugraha menyerukan kepada pelayanan BPRS agar cerdas menggali potensi pasar.

 “Potensi pasar nasabah masih banyak. Terdapat tiga tipe nasabah yang harus diketahui. Ada yang emosianal, rasional, ada yang floating. Cara menyikapinya berbeda-beda,” jelas Hadi, seusai acara Silaturahim dan Halal Bihalal Syawal 1439 H, di Resto Saung Bambu Riung, Bogor, Kamis (5/7/2018) sore.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama BPRS Harta Insan Karimah Insan Cita ini mejelaskan masyarakat tipe emosional itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan sistem syariah. Islam menjadi dasar pertimbangannya.“Emosional itu meskipun mahal, mesti larinya ke syariah. Yang penting Islam, kata orang emosional, seperti peserta aksi 212. Mereka tipikal harus ke syariah meskipun mahal,” jelas Hadi.

 Hadi mencontohkan pengalamannya terkait masyarakat emosional. Ia pernah mengahadapi masyarakat seperti itu, tidak peduli fasilitas yang diberikan konvensional lebih baik dari bank syariah, mereka akan tetap kekeuh memilih yang syariah.

“Ada yang nasabah kita, pak yang syariah sekian pak, konvensioanl sekian. Mereka jawab tidak apa-apa saya ke syariah saja. Meskipun beda beberapa ratus ribu, mau beli sepeda motor atau beli mobil memang dia harus ke syariah begitu orang emosional,” ungkapnya.

Penyebab lainnya, menurut Hadi bisa saja karena faktor trauma pernah bergabung di konvensional, terkena riba atau terlambat membayar angsuran mendapat perlakuan yang kasar. “Ada yang seperti itu,” ujarnya.

 

Tip menghadapi nasalah rasional

Sementara menghadapi masyarakat tipe rasional perlu memakai perhitungan persaingan dengan kovensional. Misalnya dengan menggunakan perbandingan harga. Orang-orang rasional tidak peduli Islam atau bukan, halal atau haram.

“Dia hitung-hitungan syariah itu seperti apa, syariah lebih mahal atau lebih murah di bandingkan konvensional. kita dihadapkan oleh masyarakat yang seperti itu,” kata Hadi.

Terakhir, Hadi mengatakan masyarakat tipe floating. Mereka ini masyarakat yang belum menentukan sikap seperti apa. Masyarakat “floating” itu  masih mengambang, belum menentukan pilihan secara pasti,” tambah Hadi.

Maka dari itu Hadi mengingatkan mengenai pelayanan industi syariah, terutama BPRS dalam menjaring nasabah agar pandai-pandai membaca karakter nasabahnya.

Anggota DPW Asbisindo Kompartemen BPRS Jabodetebek,  Arie Wahyuning Tyas menambahkan, jika setiap daerah memiliki kecenderungan menjaring nasabah tersendiri.

“Di Jawa Barat misalnya. Mereka masih termasuk golongan masyarakat yang religious,” ungkap Arie, yang juga menjabat sebagai Direktur BPRS Al Hijrah Amanah ini, di Bogor, Kamis (5/7/2018) sore.

(sharianews.com, Aldiansyah Nurrahman).

Reporter : Aldiansyah 

Editor : Ahmad Kholil