Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO I Dok. Geotimes
Sekitar 75 persen pasangan yang bercerai dikarenakan memulai pernikahannya dengan berpacaran.

Sharianews.com, JakartaBadan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan setiap tahunnya di Indonesia terdapat hampir 2 juta pernikahan yang terjadi. Lalu sekitar 347.256 terdapat pasangan yang bercerai atau sekitar 20 persen dari total pernikahan. Beriringan dengan hal tersebut, penelitian dari Amerika yang dilakukan kepada 1500 keluarga di Mesir, sekitar 75 persen pasangan yang bercerai dikarenakan memulai pernikahannya dengan berpacaran.

Ustaz Arief Rahman Lubis, penulis buku, sekaligus founder Komunitas Teladan Rasul, menyebutkan empat alasan bahwa kegiatan pacaran sebelum pernikahan menjadi salah satu faktor tingginya angka perceraian.

Alasan pertama, lanjut Ustaz Arif, karena ketika berpacaran hanya ada simpati buta. "Sebagai contoh, ketika pacaran, dia tahu kalau pasangannya itu tidak layak, tidak baik. Sholatnya masih bolong-bolong dan lainnya. Tapi dia tidak mau melepaskannya karena alasan udah terlanjur cinta. Ini fakta loh ya, dan ini yang namanya simpati buta," ujar pendiri Komunitas Teladan Rasul ini, dalam sebuah kajian Pernikahan Impian yang dilaksanakan di Gedung Kemuning Gading, Sabtu (5/1).

Poin kedua, penting dipahami bahwa pacar yang baik bukanlah suami/isteri yang baik. Pasalnya setiap aktivitas berpacaran, sekalipun baik, merupakan maksiat yang mendekati zina. Dalam artian sebaik-baiknya seorang pacar tetap saja mereka adalah orang yang menjerumuskan pasangannya ke lubang neraka karena maksiat tersebut. Sedangkan suami yang baik, dengan tanggung jawab yang diembannya, akan berusaha menjaga keluarga dari api neraka, berhubung setiap aktivitas rumah tangga yang membawa kebaikan adalah halal dan mendatangkan pahala.

Kemudian, dikatakan pula oleh Ustaz Arif, dalam berpacaran bukanlah gambaran asli pasangan, sehingga tidak menutup kemungkinan ketika menikah dan mengetahui sifat aslinya akan cenderung tidak mudah menerima. Berbeda dengan ta'aruf dimana selama proses tersebut, calon pasangan mencari tahu lebih dalam melalui keluarga atau kerabat untuk mengetahui sifat aslinya. Hal tersebut didukung oleh penelitian Amerika, bahwa seseorang mau punya pasangan yang seideal ketika pacaran. Dengan kata lain, hanya ada kebaikan-kebaikan yang muncul dan bukan gambaran asli ketika berpacaran.

Terakhir, karena dalam berpacaran tidak memiliki dialog serius, yang mengarah kepada perencanaan matang di masa depan. Seperti rencana ingin mencetak anak dengan karakter seperti apa, rencana keuangan. Berbeda dengan proses ta'aruf dimana hanya memiliki obrolan-obrolan penting saja dan tidak ada maksiat di dalamnya.

"Ta'aruf itu, tanpa khalwat dan jauh lebih diridai ketimbang berpacaran," pungkas Ustaz Arif. (*)

Reporter: Fathia Editor: Achi Hartoyo