Selasa, 20 Agustus 2019
19 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Sharia insight / Opportunity Cost Qabil Habil
FOTO I Dok. sharianews.com
“Biaya dari suatu barang adalah apa yang kita korbankan untuk mendapatkan barang itu sendiri”.

Sharianews.com, The Cost of Something is What You Give up to Get it” demikian tulis Mankiw dalam bukunya Principles of Economics yang jika diterjemahkan kurang lebih bermakna “Biaya dari suatu barang adalah apa yang kita korbankan untuk mendapatkan barang itu sendiri”.

Sekilas prinsip di atas tidak bermasalah. Bahkan, ada yang menyandingkannya dengan ayat Alquran surat Al-Baqarah ayat 134:

Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”.

Bahwa apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita korbankan. Ayat tersebut kemudian di pertegas lagi dengan hadis Rasulullah Saw:

Dari Aisyah Ra, bahwasanya seorang lelaki membeli seorang budak laki-laki. Kemudian, budak tersebut tinggal bersamanya selama beberapa waktu. Suatu hari sang pembeli mendapatkan adanya cacat pada budak tersebut. Kemudian, pembeli mengadukan penjual budak kepada Nabi Saw dan Nabi pun memutuskan agar budak tersebut dikembalikan. Maka penjual berkata, ‘Ya Rasulullah! Sungguh ia telah mempekerjakan budakku?’ Rasulullah Saw bersabda, ‘Keuntungan adalah imbalan atas kerugian.”

Hadis ini kemudian melahirkan sebuah kaidah fikih:

Kesediaan menanggung kerugian diimbagi dengan hak mendapatkan keuntungan

Namun demikian, teori Opportunity Cost ini juga menjadi alasan pembenaran bahwa pemberi pinjaman berhak menikmati sebagian keuntungan peminjam dan besar kecilnya keuntungan terkait langsung dengan besar kecilnya waktu pinjaman.

Time is money” waktu adalah uang, demikian mereka berpendapat. Maka semakin panjang waktu jatuh tempo pembayaran utang, semakin besarlah bunga yang harus dibayar. Persoalannya adalah: waktu susah untuk dijadikan dasar bagi peminjam untuk mendapatkan keuntungan usahanya. Karena yang namanya keuntungan tidak hanya ditentukan oleh faktor dan kondisi ekonomi, tetapi juga oleh faktor dan kondisi non-ekonomi. Oleh itu, dalam Islam harga uang atau harga modal bukan atas dasar opportunity cost akan tetapi didasarkan untung rugi yang benar-benar telah terjadi.

Mengapa ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah pemahaman tentang ‘opportunity cost’ itu sendiri yaitu pengorbanan yang dimotivasi oleh profit atau keuntungan secara materi. Lihatlah contoh-contoh yang diberikan dalam memahami konsep ini didominasi oleh kepuasan fisik dan kebendaan.

Sementara itu, Alquran sudah memberikan contoh-contoh tentang nilai-nilai pengorbanan itu sendiri. Lihatlah bagaimana Alquran menceritakan tentang perginya para sahabat yang sedang berkhotbah di hari Jumat karena tergoda dengan dagangan yang dibawa oleh Dihyah Ibn Khalifah, sehingga akhirnya turun surat Al-Jum’ah ayat 9:‏ meninggalkan Rasulullah Saw “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Kisah Qabil dan Habil juga direkam dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 27:

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

Qabil menggunakan logika sisa, sementara Habil menggunakan logika terbaik saat diminta untuk mengorbankan yang mereka punya untuk Allah Swt. Logika ini sering bermain-main dengan diri kita setiap saat dan waktu. Logika pahala, hari pembalasan, surga neraka dikalahkan oleh logika untung rugi, kesenangan syahwat dan nafsu hidup kekal selamanya.

Bagi seorang mukmin, perilaku ekonomi yang terbentuk dalam dirinya tidak hanya sekedar motivasi profit tetapi juga motivasi sosial. Seorang investor Muslim tidak akan terlalu mempermasalahkan jika investasinya hanya mendatangkan return (keuntungan) yang sedikit, bahkan ia tidak akan mempersoalkan sekalipun yang didapat hanyalah zero profit bagi dirinya. Ia akan puas dengan investasinya yang mampu memberikan solusi orang lain untuk mendapatkan pekerjaan.

Seorang muzaki sejati, akan mendahulukan pembayaran kewajiban zakatnya, infaknya, dan sedekahnya dibandingkan dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pribadi nya dulu baru kemudian memberikan sisanya untuk Allah dan RasulNya.

Seorang guru, pendidik, akan membesarkan hati dan jiwanya ketika nilai materi yang ia dapatkan mungkin belum sepadan dengan pengorbanan yang telah dipersembahkan namun ia berbangga dan bahagia ketika anak didiknya berhasil dalam kehidupan mereka.

Seorang ayah dan ibu, juga tidak akan kecewa berkepanjangan jika ternyata anak-anaknya yang dahulu ia besarkan melupakan dirinya saat mereka telah dewasa. Ia tetap akan tersenyum dan mendoakan yang terbaik buat anak-anaknya sampai detik nafas terakhir yang ia punya

Seorang Nabi Ibrahim bahkan tak gemetar sedikitpun tangannya memegang leher anak laki-lakinya, sebaliknya seorang Nabi Ismail pun dengan mantab berkata, “ya abatii, if’al ma tu’mar satajiduni insya Allah minassabirin”.

Mereka yang mengorbankan hewan terbaiknya di hari raya Iduladha esok, tidak akan akan pernah menyesal sekalipun daging yang ia dapatkan lebih sedikit daripada yang dibagikan untuk orang lain. Sekalipun tabungannya harus tergerus, tapi dia yakin bahwa pengorbanannya tidak akan sia-sia. Karena Ia tahu, ia sedang berbisnis bukan dengan manusia tetapi dengan Allah Swt pencipta alam semesta raya. (*)

 

 

Oleh: Salahuddin El Ayyubi, Lc. MA Editor: Achi Hartoyo