Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H
FOTO / Dok. NahdatulUlama
“Yang terseok-seok di tengah gelombang revolusi industri 4.0. Masih sangat ketinggalan para petani kita,” kata Kiai Said seperti dalam keterangan tertulisnya.

Sharianews.com, Banjar ~ Sebagai upaya pengembangan ekonomi umat, Nahdlatul Ulama menjalin kemitraan dengan Bukalapak sebagai salah satu startup unicorn di Indonesia.

Hal tersebut direalisasikan melalui penandatangan MoU antara Nahdlatul Ulama dengan Bukalapak pada Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 di Ponpes Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Rabu (27/2) malam.

VP of Product Bukalapak, Zakka Fauzan Muhammad menyatakan, kerja sama Bukalapak dan NU untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (Usaha Kecil Menengah) di kalangan Nahdliyin supaya mampu bersaing menghadapi revolusi industri 4.0.

“Ekonomi grass root di Nahdliyin kita sama-sama dorong supaya go digital. Dengan kolaborasi ini, NU akan membentuk marketplace sendiri. NU ke depan akan punya platform marketplace yang merupakan white label dari Bukalapak,” ucap Zakka, usai penandatangan MoU bersama Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj.

Senada, Kiai Said pada pembukaan Munas-Konbes NU 2019 juga menyoal tantangan revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi warga NU.

“Masyarakat Indonesia, khususnya warga NU harus siap menghadapi revolusi industri 4.0, yang bertumpu pada penggunaan massif teknologi informasi berbasis internet, artificial intelegence (kecerdasan buatan) dan analisis big data,” ucap Kiai Said dalam sambutannya.

Dirinya menambahkan, sektor pertanian merupakan penyumbang PDB terbesar kedua di Indonesia. Menurutnya, 82 persen masyarakat Indonesia bergantung pada sektor pertanian, akan tetapi 30 persen dari jumlah tersebut merupakan petani tradisional.

“Yang terseok-seok di tengah gelombang revolusi industri 4.0. Masih sangat ketinggalan para petani kita,” kata Kiai Said seperti dalam keterangan tertulisnya.

Tak hanya Kiai Said, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pun dalam pidatonya menyinggung tantangan NU di era digital. Menuju usia satu abad, Kiai Miftah mengungkapkan, NU perlu menyiapkan 4G, yaitu Grand Idea, Grand Design, Grand Strategy, dan Grand Control.

“Ini PR (pekerjaan rumah) NU yang perlu dirumuskan dalam Munas-Konbes saat ini. Sebab jika tidak dikelola dengan baik, kita jadi bulan-bulanan yang diperebutkan oleh orang lain,” ungkap Kiai Miftah.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya menegaskan bahwa revolusi industri 4.0 bukan lagi bayangan, tetapi sudah datang.

“Persaingan global di era revolusi industri keempat menuntut persiapan sumber daya manusia yang unggul. Maka kita akan mendirikan 1.000 BLK (Balai Latihan Kerja) untuk komunitas pesantren,” kata Presiden.

Acara pembukaan Munas-Konbes itu dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja Susi Pudjiastuti, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menkominfo Rudiantara. Hadir pula Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa.

Selain itu, dihadiri pula oleh Ulama internasional, Syekh Taufiq Ramadhan Al-Buthi Suriah, Syekh Musthafa Zahran dari Mesir, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin, dan ulama dari berbagai daerah. (*)

Reporter: Romy Syawal Editor: Achi Hartoyo
#NU #Said Aqil