Selasa, 20 Agustus 2019
19 Thu al-Hijjah 1440 H
Home / Lifestyle / Negara-negara Non-Muslim Lebih Pandai Melihat Peluang Bisnis Halal
FOTO | Dok. unsplash.com
Perkembangan gaya hidup halal di Indonesia masih belum terlalu ekspansif dibanding negara lain.

Perkembangan gaya hidup halal di Indonesia masih belum terlalu ekspansif dibanding negara lain.

Sharianews.com, Jakarta. Banyak negara non-Muslim justeru  mulai melirik peluang bisnis halal. Bukan karena pertimbangan akidah atau karena faktor agama,  tetapi karena perhitungan bisnis dan adanya peluang usaha yang besar.

Pendapat ini disampaikan oleh Dr. Sapta Nirwandar, Ketua Halal Lifestyle Center, saat berbincang dengan sharianews.com, di  Jakarta, Selasa (31/7). "Banyak negara-negara non-Muslim, yang justru sudah selangkah lebih maju dalam menyiasati tren bisnis halal ini. Mereka bukan melihat pada aspek religinya yang sesuai dengan syariah, tetapi semata-mata atas pertimbangan komersial,”ujar penulis buku, Halal Lifesstyle Trend Global, dan Peluang Bisnis Ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, banyak para pelaku usaha dari negara-negara non-Muslim yang justeru melihat label halal sebagai instrumen untuk melakukan penetrasi pasar ke berbagai gerai ritel.

Mereka justeru bisa menerima branding produk halal, karena dapat memahami esensi halal yang juga dikaitkan dengan kebaikan, kualitas hidup yang menyehatkan, rasa aman dan kenyamanan dalam berbisnis.

Itu mengapa, ujarnya kini semakin banyak negara-negara non-Muslim seperti Korea Selatan, China, Jepang, yang kini mulai masuk ke Indonesia dengan industri fashion yang mereka punya.

“Tidak usah-jauh-jauh, Malaysia itu jauh lebih maju industri halalnya, dan bahkan menjadi negara dengan industri halal terbesar di dunia. Padahal kalau dibandingkan dengan Indonesia, secara potensi materi maupun jumlah populasi kita jauh lebih besar,”katanya.  

Sapta Nirwandar kemudian menyebutkan berdasarkan Global Islamic Economy Report tahun 2017-2018, peringkat Indonesia turun berada di posisi 11 dari negara-negara dengan tingkat literasi syariahnya terbaik di dunia. Padahal, sebelumnya atau di tahaun 2015-2016 lalu Indonesia sempat berada di posisi 10.

Menurutnya, turunnya peringkat Indonesia di mata dunia ini dikarenakan berbagai macam aspek. Misalnya perkembangan gaya hidup halal di Indonesia masih belum terlalu ekspansif di banding negara lainnya.

Bandingkan dengan negara Malaysia yang telah memiliki Halal Park, Jepang mempunyai Halal Transportation Nippon Express, hingga Brazil punya pelabuhan Halal.

Sementara, negara yang bukan mayoritas Muslim juga tengah mengembangkan halal foodcourt khusus makanan halal. Misalnya, Singapura yang mempunyai halal foodcourt, Korea Selatan telah memiliki 150 restoran tersertifikasi halal, hingga Thailand memiliki Pattaya Halal Restaurant.

Thailand juga sudah masuk ke sektor Halal Tourism dan Korea Selatan juga mengembangkan halal beauty.”Sedangkan, Indonesia belum punya itu,” ujar Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono ini.

Pentingnya ekosistem syariah

Bagaimana agar Indonesia tidak ketinggalan oleh negara yang penduduknya bukan mayoritas Muslim. Pertama, pemerintah juga harus lebih giat lagi dalam mengembangkan gaya hidup halal. Misalnya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mendukung ekosistem syariah dapat tumbuh dengan baik secara lintas sektoral dan bidang.

“Tumbuhnya ekosistem halal akan memacu dan mendorong masyarakat untuk bergegas memproduksi produk-produk halal, sehingga banyak tumbuh produsen-produsen investasi di bidang produk dan jasa yang sesuai dengan syariah,”ujarnya.

Kedua, Peran swasta harus lebih didorong lagi, sehingga lebih berani berinovasi menciptakan bidang usaha halal.

Ketiga, peran ulama dan kaum cendekiawan, yang juga harus berpihak kepada gaya hidup halal, sehingga kesadaran masyarakat terhadap literasi halal semakin tumbuh."Masyarakat nantinya akan semakin berani menyatakan ekspresinya untuk tidak memilih produk non halal," katanya.

Juga, “Penting untuk terus menyadarkan masyarakat bahwa halal lifestyle itu bukan hanya semata soal agama dan syariah, tetapi juga bisa menjadi bidang usaha dengan potensi besar untuk memberdayakan umat dan bangsa,”katanya. (*)

 

Ahmad Kholil