Sabtu, 20 April 2019
15 Sha‘ban 1440 H

Musnahnya Makhluk Bernama Riba

Selasa, 15 Januari 2019 09:01
FOTO I Dok. wahdah.or.id
Jika transaksi simpanan atau kredit bersyarat bunga itu riba karena nilai rupiah fluktuatif, maka tidak perlu ada bahasan riba dalam syariat Islam.

Sharianews, Jakarta ~Ekonom (konvensional) biasanya harus yakin (beriman) bahwa sistem simpanan atau kredit bersyarat bunga bagi pemberi kredit itu dianggap masuk akal karena nilai mata uang sejenis rupiah itu fluktuatif. Itu menurut mereka. Mereka juga menjadikan BI Rate yang seharusnya merupakan instrumen netral, akan tetapi difungsikan sebagai tolok ukur pembenaran adanya perubahan kewajiban bayar atas semua jenis pinjaman yang sudah deal (sepakat), tetapi dibayar tidak tunai.

Logika tersebut mendidik para ekonom dan calon ekonom bahwa transaksi spekulatif itu hal yang wajar saja. Logika tersebut juga mengajarkan bahwa ketidakpastian nominal transaksi ketika sudah terjadi deal (kesepakatan) transaksi, itu hal yang masuk akal.

Logika tersebut juga menegaskan bahwa ketidakpastian jumlah hutang setelah ada kesepakatan transaksi utang piutang, itu hal yang masuk akal, oleh karena alasan fluktuasi nilai uang tersebut. Itu jika menurut logika mereka.

Persoalannya, benarkah logika itu benar-benar masuk akal, atau mengada-ada? Mari kita buktikan dengan mengurai definisi riba, kemudian dikaitkan dengan logika para ekonom tersebut.

Ada dua jenis riba yang akan dibahas di sini, yakni Riba Jual Beli dan Riba Pinjaman. Mari kita buktikan, apakah dengan logika para ekonom tersebut maka makhluk Tuhan bernama riba tersebut bisa dikategorikan transaksi terlarang?

Pertama, Riba Jual Beli atau Riba Buyuu'. Riba Jual Beli adalah ketika ada pertukaran harta ribawi yang tidak memenuhi kriteria kontan atau sejenis atau setara atau sebarang atau saling serah atau setakaran atau setimbang dan sepola. Riba ini disebut dengan Riba Buyuu' bagian Riba Fadhl.

Contoh konkret Riba Fadhl yakni ketika ada tukar menukar mata uang (baik sejenis atau tidak sejenis) secara spekulatif. Jika logika ekonom itu benar, maka makhluk bernama Riba Fadhl tidak akan lagi ada di muka bumi ini, oleh karena semua transaksi pertukaran uang berbasis spekulasi menjadi halal. Transaksi forward, swap, option akan menjadi logis, itu jika merunut pada logika mereka.

Lebih jauh lagi, jika logika ekonom itu benar, maka hadis yang melarang pertukaran barang ribawi secara tidak tunai, tidak setara, Hadis tersebut menjadi tidak perlu ada, karena transaksi spekulatif ala Riba Fadhl tersebut menjadi halal. Jangan-jangan Rasulullah SAW salah bikin rumus. Itu simpulan jika merunut pada logika mereka.

Berikutnya, Riba Jual Beli bisa terjadi ketika ada jual beli dengan beda alternatif harga (misalnya) oleh karena perbedaan waktu bayar, tetapi pada saat deal transaksi, tidak ada kesepakatan memilih satu harga saja. Jenis transaksi ini, menurut logika para ekonom, menjadi tidak masalah oleh karena adanya perubahan jumlah utang tergantung perubahan tingkat suku bunga, itu merupakan hal wajar. Itu jika merunut pada logika mereka.

Kesimpulan pertama, jika logika ekonom tersebut benar, maka makhluk bernama Riba Jual Beli menjadi tidak akan pernah ada dalam transaksi muamalah oleh karena ekonom bilang bahwa transaksi bersyarat bunga itu masuk akal. Jangan-jangan, Alquran Hadis pun perlu direvisi oleh karena nash tersebut mengharamkan riba. Itu jika menggunakan logika para ekonom itu.

Kedua, Riba Utang atau Duyuun. Riba paling populer dalam hal ini adalah riba dalam pinjaman. Riba ini terjadi ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pemberi pinjaman.

Perhatikan, ketika logika ekonom tersebut masuk akal, maka syarat kelebihan bayar yang diberikan kepada pemberi pinjaman misalnya tambahan sebesar bunga X persen, menjadi bukan lagi transaksi terlarang oleh karena nilai rupiah itu fluktuatif. Itu jika menggunakan logika mereka.

Contoh paling mudah adalah ketika melakukan kredit pemilikan rumah dengan skema kredit bersyarat bunga, angsuran fluktuatif, maka akan ada suku bunga fluktuatif yang harus dibayarkan. Hal ini sama saja menidakpastikan hal yang seharusnya bisa dipastikan. Dengan skema tersebut, maka jumlah utang nasabah menjadi harus tidak pasti, padahal transaksi sudah deal sebelumnya.

Kesimpulan kedua, jika logika ekonom tersebut dianggap masuk akal atau benar sehingga kredit bersyarat tambahan disebut transaksi halal, maka makhluk Tuhan bernama riba menjadi tidak ada, oleh karena transaksi Riba Duyuun menjadi halal. Itu jika menggunakan logika mereka.

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa jika logika ekonom tersebut benar, maka makhluk Allah bernama riba menjadi halal, sehingga Allah dan Rasulullah SAW 

seharusnya tidak perlu repot-repot membuat ayat Alquran dan Hadis tentang larangan makan riba. Jika logika ekonom tersebut benar, maka seharusnya Allah dan Rasulullah SAW memperlakukan riba sebagai transaksi halal.

Demikian uraian tentang musnahnya makhluk bernama riba. Semoga manfaat dan barakah. Amin. WaLlaahu a'lam. (*)

 

oleh: Ustaz Ahmad Ifham Solihin Editor: Achi Hartoyo