Sabtu, 19 Januari 2019
13 Jumada al-ula 1440 H
FOTO | Dok. pribadi
Beberapa tujuan-tujuan pokok diturunkannya syariat/ajaran Islam yaitu terdiri atas lima komponen, pemeliharaan agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta, karenanya membantu dan menggerakan perekonomian dan memberdayakan masyarakat yang terkena musibah, menjadi sebuah keniscayaan.

Oleh: Neneng Hasanah | Staf pengajar Departemen Ilmu EKonomi Syariah, FEM, IPB

Masih terasa dan terbayang peristiwa dan fenomena alam yang terjadi di beberapa daerah yang terkena gempa, tsunami, tanah bergeser atau likuifaksi, seperti di Lombok dan Palu yang baru-baru ini menimpa bangsa Indonesia.

Bahkan belum terselesaikan penanganan infrastruktur dan traumatis masyarakat akan kejadian tersebut,kini Selat Sunda yang meliputi daerah Lampung, Carita, Tanjung Lesung, Pandeglang Banten, kembali diguncang oleh tsunami yang tidak terdeteksi oleh penglihatan manusia dan keilmuannya.

Tentu, peristiwa ini mengandung banyak hikmah yang dapat diambil pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir, seperti permasalahan ekonomi yang kian hari mengalami penurunan, terutama bagi masyarakat yang terkena musibah.

Oleh karenanya terkait dengan permasalahan ekonomi yang berhubungan dengan kemanusiaan, Al-Syatibi menjelaskan bahwa, tugas-tugas syariat berorientasi pada terwujudnya tujuan-tujuan kemanusiaan yang terdiri dari bagian primer (dharu‾riyyah), sekunder (ha‾jiyyah) dan tersier (tahsi‾niyyah).

Primer, artinya sesuatu yang harus ada agar kemaslahatan agama dan dunia dapat terpenuhi. Apabila bagian primerini hilang, maka kemaslahatan manusia akan sulit terwujud, bahkan akan menimbulkan kerusakan, kekacauan, dan kehancuran.

Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan salah satu bagian primer yang salah satu fungsinya adalah sebagai penunjang terwujudnya pelaksanaan ajaran agama. Bagaimana dapat melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar, jika kondisi fisik dan psikisnya lemah karena kebutuhan ekonominya terbengkalai.

Di sisi lain, kebahagiaan dan kenikmatan akan lenyap dan kerugian akan muncul jika bagian primer ini diabaikan. Demi menjaga keutuhan pelaksanaan syariat, maka terdapat dua hal yang diperlukan yaitu, pertama, menjaga dan mengukuhkan pondasi dan prinsip syariat serta menjaga aspek utama untuk menjaga keberadaan syariat.

Kedua, mencegah pelanggaran langsung maupun tidak langsung terhadap syariat serta menghindari kepunahan syariat. Hal yang kedua inilah yang menjadi bahasan dalam tulisan ini, yaitu ekonomi sebagai aspek untuk menghindari kepunahan syariat agar tujuan pokok syariat terpenuhi.

Tujuan pokok syariah

Beberapa tujuan-tujuan pokok diturunkannya syariat/ajaran Islam yaitu terdiri atas lima komponen, pemeliharaan agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta.Teori Islam dengan konsep maqasid al-shari’ah sangat mementingkan pemeliharaan terhadap lima hal komponen tersebut.

Agama, misalnya merupakan keharusan bagi manusia, dengan nilai kemanusiaan yang dibawa oleh ajaran agama, manusia menjadi lebih tinggi derajatnya dari derajat hewan. Sebab beragama adalah salah satu ciri khas manusia.

Al-Qardhawi menjelaskan pendapat al-Syatibi bahwa, kemaslahatan agama dan dunia ditegakkan dengan memelihara kelima komponen. Kehidupan manusia dapat terwujud pula melalui kelima komponen tersebut. Apabila kelima komponen tersebut rusak, hal-hal penting yang berkaitan dengan manusia dan tugasnya sebagai hamba Allah tidak akan terlaksana.

Demikian juga dengan urusan-urusan akhirat, akan terwujud jika kelima komponen tersebut terpenuhi. Sebagai contoh, apabila akal tidak berfungsi, keberagamaan tidak akan berlangsung karena akallah yang akan menerima tugas-tugas agama.

Seandainya jiwa tidak ada, tidak ada manusia yang memeluk agama. Seandainya keturunan tidak ada, kehidupan akan punah, dan seandainya harta tidak ada, kehidupan tidak dapat berlangsung. Dengan demikian, ekonomi dapat menciptakan harta kekayaan sebagai sarana kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Sebagaiman judul tulisan ini tentang “Musibah dan Ekonomi Masyarakat Indonesia” khususnya pasca musibah, adalah sebuah keniscayaan untuk dibangkitkan kembali agar kehidupan mereka dapat berlangsung dengan nyaman dan bahagia, senyum ceria kembali hadir dalam kehidupannya.

Membantu dan menggerakan perekonomian dan memberdayakan masyarakat yang terkena musibah, menjadi sebuah keniscayaan. Sebagaimana tujuan diturunkannya syariat Islam (maqasid syariah) pada komponen terakhir yaitu memelihara harta, harta merupakan bagian primer yang harus ada guna terwujudnya kebaikan dunia dan akhirat bagi masyarakat yang terkena musibah.

Mereka  akan tidak berdaya terlebih lagi stabil, jika perekonomian mereka tidak dibantu dan dibangkitkan dari keterpurukannya. Sebagaimana yang dijelaskan di atas pada tujuan diturunkannya syariat Islam (maqasid syariah), maka yang paling representatif untuk penanganan ekonomi masyarakat dan dapat berkeadilan dalam pendistribusian adalah ekonomi Islam. Hanya ekonomi yang berprinsip pada Islam yang mampu menjawab perekonomian bangsa ini.

Prinsip-prinsip qurani

Perekonomian yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, berakar dari prinsip-prinsip Qurani. Tidak diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah pemikir dan aktifis pertama ekonomi syariah.

Alquran yang merupakan sumber utama ajaran Islam, telah menetapkan berbagai aturan sebagai hidayah (petunjuk) bagi umat manusia dalam beraktivitas di setiap aspek kehidupannya termasuk di bidang ekonomi.

Prinsip Islam yang paling mendasar adalah kekuasaan tertinggi hanya milik Allah semata dan manusia diciptakan sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Prinsip-prinsip kebijakan ekonomi yang dijelaskan al-Quran adalah sebagai berikut:

Pertama, Allah SWT adalah sebagai Penguasa Tertinggi, sekaligus pemilik absolut seluruh alam semesta. Alquran Al-Araf (7) ayat 10 menyebutkan,“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”

Kedua, manusia hanyalah khalifah Allah SWT di muka bumi, bukan pemilik yang sebenarnya, semua yang dimiliki dan didapatkan manusia adalah seizin Allah SWT.

Ketiga, Kekayaan harus berputar dan tidak boleh ditimbun, pendistribusiannya harus adil dan merata. Alquran surat Al-Hasyr ayat 7 menyebutkan, Apa saja harta rampasan (fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”\

Keempat, erksploitasi ekonomi dalam segala bentuknya, termasuk maisir (judi), gharar (tipuan/tidak jelas) dan riba,harus dihilangkan (QS. Al-baqarah: 275)

Kelima, menerapkan sistem warisan sebagai media redistribusi kekayaan (QS.An-Nisa: 11-12).

Melalui penguatan dan penegakan prinsip-prinsip keuangan dalam syariah Islam, diharapkan mampu menjadi obat dari keterpurukan akibat dari berbagai musibah yang dihadapi. Terlebih lagi, penguatan ini diharapkan mampu juga mengalihkan traumatis dengan beraktifitas ekonomi yang sesuai dengan syariah. (*)

Oleh: Neneng Hasanah