Kamis, 4 Juni 2020
13 Shawwal 1441 H
Home / Lifestyle / MUKISI Targetkan 50 Rumah Sakit Bersertifikasi Syariah di 2018
FOTO | Dok. www.islampos.com
Rumah Sakit bersertifikasi syariah ialah Rumah Sakit Islam yang komitmen dan berkesadaran tinggi menerapkan nilai-nilai syariah dalam praktik layanan yang diberikan.

Sharianews.com, Jakarta. Dewasa ini, kesadaran masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam semua aspek kehiduipan mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, gaya hidup halal atau halal lifefstyle pun semakin menjadi tren.

Denyut tren gaya hidup halal tersebut ternyata juga menyentuh aspek pelayanan medis, bukan saja pada aspek obat dan kosmetiknya, tetapi juga layanan perawatan kesehatan atau rumah sakit.

Itu mengapa tak mengherankan jika rumah sakit pun mulai berbenah, sehingga muncul rumah sakit dengan sertifikasi syariah. Yakni, rumah sakit Islam dengan komitmen dan kesadaran menerapkan nilai-nilai syariah dalam praktik layanan yang diberikan.

Terkait dengan hal tesebut, Ketua Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) dr  H. Mashyudi, AM, M.Kes, mengatakan pihaknya juga merasa perlu mendukung upaya kemunculan ide rumah sakit syariah.

Lebih lanjut pihaknya menargetkan setidaknya akan ada 51 rumah sakit berserfifikasi syariah hingga akhir 2018. Itu mengapa, pihaknya siap untuk melakukan pendampingan terhadap rumah sakit yang ingin mendapatkan sertifikasi syariah. 

"Ada pendampingan agar bisa mengetahui syarat-syarat standar apa saja untuk mendapatkan sertifikasi syariah secara detail. Kemudian kita lakukan pra survey. Lalu jika dirasa kelengkapan sudah siap baru, maju ke Dewan Syariah Nasional,Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI),"kata dr Mashyudi di acara CEO forum, di Hotel Sultan, Jumat (19/10/2018).

Ada 51 daftar penilaian

Pada kesempatan tersebut Mashyudi menerangkan, ada beberapa detail yang diperiksa terkait dengan proses mendapatkan sertifikasi rumah sakit syariah.

"Kriterianya untuk mendapatkan sertifikasi syariah, yaitu ada 51 standart penilaian dan 173 aspek lainnya. Seluruhnya dinilai, seperti contoh aspek organisasi, Sumber Daya Manusia (SDM), keuangan, pelayanan, hingga gizinya,"sambungnya.

Dari  aspek sistem keuangan misalnya, “Rumah Sakit syariah juga harus ada akad syariah, seperti ijarah, mudharabah, murabahah,"kata Masyhudi lebih lanjut.

Dalam aspek pelayanan, rumah sakit syariah sudah harus menggunakan prinsip syariah. Misalnya, pemasangan kateter sesuai gender, atau pemakaian hijab bagi perempuan yang akan dikunjungi dokter laki-laki. Bahkan, laundry juga harus menggunakan prinsip syariah.

Diharapkan, kehadiran rumah sakit syariah ini nantinya dapat membuat umat Islam, secara khusus, merasa lebih nyaman. “Artinya, mereka tidak perlu lagi risau soal pengobatan yang dijalani karena sudah sesuai prinsip syariah dan tersertifikasi,”terang Mashyudi.  

Awal  gagasan rumah sakit syariah

Sejatinya, gagasan rumah sakit bersertifikasi syariah sudah muncul sejak dua dasawarsa terakhir.  Berawal dari kongres Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI ) tahun 1979, para penyelenggara Rumah Sakit Islam merasa memerlukan suatu forum, yang bisa menjadi wadah untuk silaturrahim, komunikasi, dan tukar pengalaman antar penyelenggara Rumah Sakit Islam di Indonesia.

Kemudian, pada kongres tersebut, akhirnya diputuskan terbentuknya Badan Kerja Sama Rumah Sakit Islam  (BKRSI) yang menjadi cikal bakal MUKISI. "Intinya kita ingin membangkitkan rumah sakit syariah di Nusantara, wujudnya dalam bentuk sertifikasi rumah sakit syariah,"lanjut Mashyudi.

Mashyudi yang juga Direktur Utama RSI Sultan Agung, Semarang mengatakan, untuk rumah sakit di Jakarta memang sedang dalam proses sertifikasi. Namun sudah ada rumah sakit yang memiliki sertifikasi syariah, yaitu di Jawa Tengah, Jawa Timur, luar Jawa, Banten, dan Tangerang.

Kemunculan rumah sakit syariah, ujar Mashyudi mendapat respon positif dari masyarakat. Karena dari situ akan menstimulasi terbentuknya ekosistem gaya hidup halal lain seperti  "Perbankan syariah, asuransi syariah, honeymoon syariah, juga tujuan wisata syariah,"tutupnya. (*)

 

Reporter: Romy Syawaludin Editor: Ahmad Kholil